Berita UtamaSultra

Estafet Pembangunan Sulawesi Tenggara, Dari Pahlawan 1945 Menuju “Pahlawan Pembangunan” 2025

205
×

Estafet Pembangunan Sulawesi Tenggara, Dari Pahlawan 1945 Menuju “Pahlawan Pembangunan” 2025

Sebarkan artikel ini
Estafet Pembangunan Sulawesi Tenggara, Dari Pahlawan 1945 Menuju "Pahlawan Pembangunan" 2025
Estafet Pembangunan Sulawesi Tenggara, Dari Pahlawan 1945 Menuju “Pahlawan Pembangunan” 2025

KENDARI, TEGAS.CO โ€“ Peringatan Hari Pahlawan ke-80 pada 10 November 2025 di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi momentum strategis bagi Gubernur Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka (ASR) untuk mengukuhkan narasi pembangunan regional yang berkelanjutan. Dalam upacara ziarah khidmat di Taman Makam Pahlawan (TMP) Watubangga, Kendari, Gubernur ASR tidak sekadar mengenang jasa, tetapi secara eksplisit menyerukan generasi muda untuk menjadi “Pahlawan Pembangunan” melalui “Kerja Nyata”, kreativitas, dan dedikasi.

Seruan moral ini disinkronkan dengan kerangka kebijakan makro regional yang didukung oleh modal politik dan ekonomi yang tinggi, yang menjadi fondasi untuk menjawab tantangan disparitas wilayah dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam (SDA) secara cerdas.

Visi Gubernur ASR untuk menciptakan “Pahlawan Pembangunan” memiliki landasan yang kuat, baik secara politik maupun ekonomi, yakni, Modal Politik Tinggi dan Kinerja Awal Kuat. Artinya, Pemerintahan ASR-Hugua menikmati tingkat kepuasan publik mencapai 81.5%. Angka ini diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi regional yang solid, mencapai 5.66% pada Triwulan I 2025, yang mayoritas didorong oleh sektor pertambangan. Modal ini memberikan legitimasi besar bagi ASR untuk menuntut dedikasi birokrasi dan masyarakat.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

“Kerja Nyata” Berbasis Keadilan Spasial, artunya, Konsep Kerja Nyata diterjemahkan menjadi dua program kebijakan utama yaitu, Program JAMAAH (Jalan Mulus Antar Wilayah). Menargetkan peningkatan kualitas jalan provinsi secara signifikan untuk mendukung logistik dan ketahanan pangan.

SATRIA KEPULAUAN (Satu Triliun untuk Kepulauan) adalah, Komitmen dana Rp 1 Triliun per tahun untuk wilayah kepulauan. Kebijakan fiskal ambisius ini secara langsung mengatasi disparitas pembangunan historis antara daratan dan kepulauan Sultra, menjadikannya implementasi nyata dari semangat pengorbanan pahlawan.

Metafora Kuat adalah Gubernur ASR menggunakan metafora “jembatan emas kemerdekaan” yang telah diletakkan para pahlawan. Tugas generasi kini adalah “mengisinya dengan pembangunan yang bermakna,” menempatkan kegagalan pembangunan sebagai bentuk pengkhianatan terhadap pengorbanan para pejuang.

Fokus utama mobilisasi diarahkan pada kaum muda untuk mengoptimalkan SDA Sultra, terutama di dua sektor unggulan, pertama, Nikel dan Hilirisasi Industri. Kedua, Lawan Resource Curse SDM

Sultra adalah pemain kunci dalam industri nikel nasional, namun ASR menuntut pergeseran paradigma. Generasi muda tidak lagi diharapkan hanya menjadi buruh ekstraksi, tetapi pengelola, teknokrat, dan inovator di arena industri.

Tuntutan kompetensi teratasi dengan berkembangnya hilirisasi (pengolahan nikel ore menjadi matte), terdapat kebutuhan mendesak bagi pemuda Sultra untuk menguasai teknologi industri 4.0, termasuk pengembangan green smelter. Kegagalan dalam adaptasi ini berisiko menciptakan resource curse Sumber Daya Manusia (SDM), di mana kekayaan alam hanya menguntungkan tenaga kerja migran dari luar.

Aksi Nyata ini pemuda didorong untuk menjadi SDM profesional yang memastikan pengelolaan SDA tambang dilakukan secara cerdas, bertanggung jawab, dan minim dampak lingkungan.

Sebagai provinsi kepulauan, potensi maritim Sultra sangat besar. Program SATRIA KEPULAUAN akan secara fungsional mendukung sektor ini dengan membangun infrastruktur logistik dan perlindungan pesisir.
Meskipun memiliki potensi, terdapat kesenjangan antara pengetahuan akademik lulusan perikanan/kelautan dengan kapasitas kewirausahaan.

Pahlawan Pembangunan Maritim. Diharapkan lahir wirausaha muda di sektor Blue Economy (Ekonomi Biru) yang fokus pada inovasi perikanan berkelanjutan, pariwisata bahari, dan ekspor produk olahan hasil laut. Keberhasilan pengusaha muda seperti Steven Stenly yang berhasil mengekspor 18 ton biji jambu mete menjadi contoh nyata bahwa jalur agromaritim adalah rute kredibel bagi “Kerja Nyata.”

Untuk memastikan semangat “Pahlawan Pembangunan” berlanjut melampaui seremonial, analisis merekomendasikan, Fasilitasi Modal Risiko Maritim yaitu, Pembentukan Dana Benih (Seed Fund) atau skema modal ventura spesifik untuk wirausaha muda di sektor maritim untuk mengurangi risiko awal bisnis dan mendorong alumni kelautan untuk berani mengeksekusi potensi bisnis.

Penguatan Vokasi Hilirisasi 4.0 ini mewajibkan perusahaan tambang nikel mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk beasiswa dan pelatihan vokasi khusus teknologi green smelter dan manajemen lingkungan, bekerja sama dengan perguruan tinggi lokal.

Transparansi SATRIA KEPULAUAN menerapkan kerangka transparansi yang kuat, mungkin menggunakan teknologi smart governance, untuk memantau alokasi dan penggunaan dana Rp 1 Triliun di wilayah kepulauan. Ini krusial untuk menjaga integritas dan memastikan keadilan spasial tercapai.

Upaya mobilisasi SDM unggul juga harus fokus pada akar permasalahan, yaitu percepatan penurunan stunting dan penguatan ketahanan keluarga, yang merupakan fondasi kesehatan dan gizi bagi generasi yang cerdas dan produktif.

Melalui sinergi antara modal politik tinggi, komitmen fiskal yang belum pernah ada sebelumnya (Rp 1 Triliun untuk Kepulauan), dan mobilisasi SDM yang berfokus pada teknologi dan kewirausahaan, Sulawesi Tenggara bertekad mengubah warisan pahlawan 1945 menjadi kemakmuran yang adil dan berkelanjutan bagi generasi 2025.

PUBLISHER: MAS’UD