Adat BudayaBerita UtamaSulawesi TenggaraSultra

Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026

311
×

Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026

Sebarkan artikel ini
Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026
Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026

KENDARI, TEGAS.CO โ€“ Di ruang rapat Komisi IV DPRD Sulawesi Tenggara, Senin (17/11/2025), suasana tampak lebih dari sekadar formalitas tahunan. Di ruangan yang menjadi jantung dialog antara pemerintah dan lembaga keagamaan itu, hadir wajah-wajah yang membawa harapan, perwakilan Kemenag Sultra, MUI, Kristen Protestan, Kristen Katolik, hingga umat Hindu.

Pertemuan itu bukan sekadar rapat kerja. Ia menjadi semacam ruang perjumpaan, tempat setiap pemuka agama membawa suara umatnya, sementara Komisi IV dan Biro Kesra mencoba menerjemahkan suara-suara itu menjadi kebijakan nyata untuk tahun 2026.

Ketua Komisi IV, Andi Muhammad Saenuddin, membuka rapat dengan ketegasan yang tetap hangat. Di hadapan para pemangku kepentingan, ia menegaskan bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum penguatan program keagamaan yang lebih akuntabel dan menyentuh langsung kebutuhan umat.

โ€œKami ingin mengetahui prioritas program 2026 dan memastikan evaluasi 2025 benar-benar menjadi pijakan bukan sekadar laporan,โ€ ujarnya.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026

Di sampingnya, Sekretaris Komisi Hartini Azis, serta para anggota seperti Hj. Gunartin, Hj. Harmawati, dan H. Irfani Thalid, mengamini pentingnya pengawasan ketat agar program berjalan tepat sasaran.

Kepala Biro Kesra Pemprov Sultra, Saido, memaparkan capaian program pada 2025. Ia tampak realistis mengapresiasi apa yang berjalan baik, namun tidak menutup mata terhadap catatan penting di lapangan.

Menurutnya, sebagian besar program terealisasi sesuai perencanaan, tetapi penyempurnaan mekanisme pendampingan dan tata kelola anggaran masih menjadi PR yang harus dituntaskan.

Saido kemudian memperkenalkan prioritas baru untuk 2026. Di antara daftar panjang itu, dua kegiatan besar keagamaan muncul sebagai fokus utama, Pesparawi dan Pesparani.

โ€œKegiatan ini bukan hanya perayaan seni gerejawi, tetapi sarana memperkuat kerukunan dan memajukan potensi budaya keagamaan Sultra,โ€ ujarnya.

Perwakilan Kementerian Agama Sultra menyampaikan posisi strategis Kemenag sebagai koordinator urusan keagamaan lintas sektor. Mereka menegaskan bahwa 2026 harus menjadi tahun penguatan anggaran bagi program yang menyentuh langsung kerukunan.

Mereka menyoroti pentingnya dukungan untuk FKUB, dialog antaragama, serta pembangunan rumah ibadah yang mempertemukan interaksi lintas keyakinan.

โ€œKerukunan adalah aset daerah. Investasi untuk menjaga stabilitas sosial tidak boleh ditunda,โ€ tegas mereka.

Perwakilan MUI Sultra menekankan pentingnya pembinaan umat yang bersifat preventif, mulai dari edukasi halal, dakwah moderat, hingga penguatan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

MUI juga mengingatkan pentingnya membangun SDM dai hingga ke desa-desa. Di masa ketika arus informasi makin tak terbendung, pembinaan akar rumput dianggap lebih krusial dari sebelumnya.

Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026
Komisi IV Evaluasi Biro Kesra Sultra, Menata Kerukunan, Menyusun Fokus Lintas Agama untuk 2026

Perwakilan umat Hindu membawa suara yang menekankan keberlanjutan ritual dan pembinaan SDM keagamaan. Pelatihan sulinggih, peningkatan kapasitas guru agama, hingga dukungan penyelenggaraan hari raya besar dianggap sebagai bagian penting menjaga harmoni masyarakat Hindu dalam masyarakat yang majemuk.

Dari umat Kristen Protestan dan Katolik, dukungan terhadap program 2026 lebih terstruktur, terutama terkait penyelenggaraan Pesparawi dan Pesparani.

โ€œIni bukan semata lomba seni. Ini pembinaan mental-spiritual generasi muda kami, sekaligus sarana mempererat kerukunan antarumat beragama,โ€ ujar salah satu perwakilan Kristen.

Mereka menyampaikan apresiasi mendalam kepada Komisi IV yang membuka ruang dialog dan menunjukkan komitmen kuat terhadap kegiatan kerohanian.

Raker hari itu ditutup dengan catatan penting. Komisi IV menyetujui untuk menindaklanjuti berbagai usulan prioritas, termasuk program lintas agama yang memperkuat stabilitas sosial dan spiritual Sultra.

Dinamika rapat menggambarkan sesuatu yang lebih besar daripada data anggaran. Ia menunjukkan bahwa pembangunan Sultra bukan sekadar fisik melainkan juga pembangunan jiwa, ruang sosial, dan harmoni keberagaman.

Di tengah perbedaan keyakinan, satu pandangan tampak menyatu, kerukunan bukan hanya program tahunan, melainkan fondasi masa depan Sulawesi Tenggara.

PENULIS: MASโ€™UD