Berita UtamaSultra

Gubernur Sultra Resmikan Mesin Sortir Benih Canggih Pertama di Indonesia

714
×

Gubernur Sultra Resmikan Mesin Sortir Benih Canggih Pertama di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sultra Resmikan Mesin Sortir Benih Canggih Pertama di Indonesia
Gubernur Sultra Resmikan Mesin Sortir Benih Canggih Pertama di Indonesia

KENDARI, TEGAS.CO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Pemprov Sultra) melakukan terobosan besar dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Langkah strategis ini ditandai dengan peluncuran kemasan benih padi “Sanggoleo Sultra” serta peresmian teknologi otomasi perbenihan di UPTD Balai Benih Induk (BBI) Wawotobi, Kabupaten Konawe, Selasa (30/12/2025).

Gubernur Sulawesi Tenggara, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, yang meresmikan langsung fasilitas tersebut, menegaskan, sektor pertanian adalah denyut nadi kehidupan masyarakat Sultra.

Menurutnya, pertanian tidak sekadar soal ketersediaan pangan, melainkan pilar utama stabilitas ekonomi dan sosial di wilayah pedesaan.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini 👇👇👇👍

“Sektor ini tidak hanya menyediakan pangan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi daerah, penyedia lapangan kerja, serta penyangga stabilitas sosial dan ekonomi,” ujar Andi Sumangerukka dalam sambutannya.

Dalam upaya modernisasi ini, UPTD BBI Wawotobi mencatatkan rekor sebagai satu-satunya Balai Benih Induk di Indonesia yang mengoperasikan kombinasi teknologi mutakhir berupa Rice Seed Sorter STS-600 buatan Tiger Kawashima dan Auto Scale Machine CDCS-25 buatan Crown.

Mesin penyortir canggih ini memiliki kapasitas 400–600 kilogram per jam dan dilengkapi sensor presisi untuk memilah benih secara otomatis.

Sementara itu, mesin pengemasan otomatis (auto scale) mampu mengemas benih dengan kecepatan dan volume yang sama melalui sistem digital.

“Teknologi ini meminimalkan kesalahan manusia (human error) dan risiko kontaminasi, sehingga menjamin benih dengan kemurnian fisik hingga 99 persen, daya tumbuh seragam, dan standar pengemasan setara industri modern,” jelas pihak Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra.

Langkah ini diambil untuk menjawab kebutuhan benih di Sultra yang memiliki luas lahan baku sawah sekitar 96 ribu hektare, ditambah pencetakan sawah baru seluas 6.745 hektare pada tahun 2025.

Total luasan tersebut membutuhkan suplai benih sekitar 2.400 ton per musim tanam.

Peluncuran jenama “Sanggoleo Sultra” menjadi simbol kemandirian benih daerah.

Nama Sanggoleo diambil dari kearifan lokal masyarakat suku Tolaki, merujuk pada Sanggoleo Mbae atau dewa padi.

Filosofi ini dimaknai sebagai doa kesuburan sekaligus penyatuan sinergi antara tanah, air, petani, dan teknologi.

Pada musim tanam MT II Tahun 2025/2026, BBI Wawotobi memfokuskan produksi pada varietas Ciherang dan Inpari 42.

Dengan menggunakan sumber Benih Dasar (BD) label putih, BBI ini menghasilkan Benih Pokok (BP) berlabel ungu yang memiliki potensi hasil 7–12 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyaksikan demonstrasi penyemprotan pestisida menggunakan drone, yang menandai percepatan mekanisasi pertanian di tingkat lapangan.

“Ini merupakan upaya kita guna membangun kemandirian benih daerah, memperkuat identitas produk lokal, serta mengurangi ketergantungan benih dari luar daerah,” tegas Gubernur.

Melalui penguatan sistem perbenihan dan modernisasi alat pertanian ini, Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sultra optimistis dapat mencapai target produksi padi sebesar satu juta ton pada tahun 2026.

PUBLISHER: MAS’UD