Oleh: Dr. H. Abdul Muiz Amir, Lc., M.Th.I.
(Wakil Ketua OIAA Cabang Indonesia–Sulawesi Tenggara)
Keberagamaan di Indonesia hidup di ruang yang majemuk. Kita dibesarkan oleh perjumpaan banyak iman, ideologi politik, etnis, bahasa, dan tradisi. Kemajemukan ini bisa menjadi energi sosial yang menyejukkan, tetapi bisa juga berubah menjadi ketegangan ketika agama dipersempit menjadi identitas yang kaku.
Di ruang publik hari ini, kita melihat bagaimana sebagian cara beragama mudah tergelincir menjadi saling menilai dan saling menyingkirkan.
Ada yang cepat menghakimi, ada pula yang mudah tersulut. Ada yang merasa paling benar lalu menutup pintu dialog. Padahal, ukuran paling nyata dari kedalaman iman bukan hanya kuatnya simbol, melainkan kuatnya akhlak.
Di Sulawesi Tenggara, tantangan itu hadir dalam wajah yang khas karena masyarakatnya beragam dan dinamis.
Budaya lokal menjadi perekat sosial yang sudah lama bekerja melalui etika pergaulan, musyawarah, penghormatan, dan solidaritas komunitas.

Di saat yang sama, arus informasi yang cepat sering membawa potongan pengetahuan agama yang tidak utuh. Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan bukan sekadar ramainya aktivitas keagamaan, melainkan kedewasaan beragama yang menghadirkan ketenangan sosial.
Moderasi beragama (wasaṭiyyah) menjadi kebutuhan yang konkret karena ia menjaga iman tetap tegak tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan.
Di titik inilah peran Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia Sulawesi Tenggara menjadi penting.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini 👇👇👇👍
Jaringan alumni Universitas Al-Azhar di seluruh dunia mengemban mandat tradisi ilmu yang kuat dan cara pandang yang lapang.
Mandat ini membentuk dakwah yang cenderung tenang, argumentatif, dan adil dalam menyikapi perbedaan.
Oleh karena itu, OIAA tidak hanya hadir sebagai penonton yang hanya menilai gejala sosial keagamaan dari kejauhan.
OIAA perlu tampil sebagai penjernih suasana yang menebarkan prinsip Islam yang raḥmatan lil ‘alamin sebagai akhlak kolektif (publik).
Islam yang memuliakan manusia, menghargai alam semesta, sehingga tidak menumbulkan watak dan prilaku kekerasan.
Islam yang menguatkan ketaatan pada konstitusi sebagai kesepakatan hidup bersama, serta menerima budaya lokal sebagai ruang kebajikan yang dapat memperkaya syiar.
OIAA cabang Indoensia-Sulawesi Tenggara hadir dengan struktur pengurus inti yang menjadi pijakan bagi kerja kolektif.
Dalam hal ini, Ketua dijabat oleh Dr. H. Danial, Lc., M.Th.I., Wakil Ketua dijabat Dr. H. Abdul Muiz Amir, Lc., M.Th.I., Sekretaris oleh H. Muhammad Iqbal, Lc., M.HI., dan Bendahara oleh H. Laenre al-Hafiz, Lc.
Namun yang paling menentukan bukan hanya struktur kepengurusan organisasi, melainkan arah dakwah moral yang ingin dihadirkan di tengah masyarakat.
OIAA memiliki peluang untuk menggeser cara beragama di ruang publik dari nada marah menjadi bahasa rahmah.
Dari kecenderungan merasa paling suci menjadi sikap melayani umat. Dari kebiasaan memecah belah menjadi ikhtiar merangkul, mendidik, dan menenangkan.
Arah ini sejalan dengan pesan Prof. Dr. Ahmad al-Tayyeb (Syaikh/Grand Imam Al-Azhar Al-Sharif) menyatakan “naḥnu du‘ah salam” (Kita adalah para penyeru perdamaian) relevan untuk menjadi kompas dakwah para alumni Al-Azhar di kancah global.
Pesan singkat ini memberi arah bahwa wajah Islam yang perlu dibawa ke tengah masyarakat adalah wajah yang menenangkan dan membangun.
Damai yang berwibawa karena berpijak pada keadilan, bukan damai yang menyerah pada provokasi.
Selain itu, Syaikh ‘Ali Gomaa (Grand Mufti Mesir periode 2003/2013) juga menguatkan pesan yang sama “ila manhaj haqiqi nuqawim bih masyarib al-tasyaddud” (Menuju sebuah metode yang sungguh-sungguh agar kita mampu melawan kecenderungan sikap berlebih-lebihan dan kaku).
Pesan ini menekankan pentingnya rahmah sebagai cara menghadapi kerasnya kecenderungan ekstrem.
Nasihat ini penting karena akar masalah radikalisme sering bukan kurangnya semangat beragama, melainkan semangat yang tidak dibimbing oleh rahmah dan ilmu.
OIAA cabang Indonesia-Sulawesi Tenggara siap membuka diri untuk bekerjasama dengan instansi pemerintah agar ikhtiar moderasi beragama memiliki dukungan dan jangkauan yang luas.
OIAA siap berkolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pusat kajian keagamaan agar literasi Islam yang rahmatan lil alamin mengakar di ruang kelas, kampus, dan komunitas belajar.
OIAA juga siap bersinergi dengan organisasi masyarakat dan para pegiat syiar keagamaan yang toleran dan damai agar narasi rahmah menjadi arus utama di ruang sosial dan ruang digital.
Kolaborasi semacam ini penting sebab harmoni tidak pernah lahir dari kerja sendiri. Ia lahir dari jejaring kebaikan yang saling menguatkan.
Peran OIAA cabang Indonesia-Sulawesi Tenggara siap konsisten menebarkan Islam yang raḥmatan lil ‘alamin, sehingga masyarakat di Sulawesi Tenggara makin toleran tanpa kehilangan prinsip.
Masyarakat makin taat konstitusi tanpa merasa iman berkurang. Masyarakat menolak kekerasan sebagai pilihan, bukan sebagai slogan.
Budaya lokal dipahami sebagai kekayaan yang dapat menambah keindahan syiar.
Di situlah ajaran Islam benar-benar hidup, bukan sebagai wacana, tetapi sebagai peradaban sosial yang menenteramkan.
