Berita UtamaOpini

Berserah, Ikhtiar, Ambisi, dan Ketukan Nurani

×

Berserah, Ikhtiar, Ambisi, dan Ketukan Nurani

Sebarkan artikel ini

Berserah, Ikhtiar, Ambisi, dan Ketukan Nurani

Oleh: Mas’ud, SH., CMLC (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Hukum)

Dalam diskursus spiritualitas dan pengembangan diri, kata “berserah” sering kali disalahpahami sebagai bentuk kepasifan atau sikap fatalistik.

Banyak yang menganggap berserah adalah tentang berdiam diri sembari menunggu keajaiban turun dari langit tanpa melakukan apa pun.

Namun, pemahaman ini justru menjauhkan kita dari hakikat berserah yang sesungguhnya, sebuah proses aktif yang dimulai bahkan sebelum langkah kaki pertama diayunkan.

Berserah bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan fondasi yang diletakkan sebelum ikhtiar dilakukan.

Ia adalah tentang bagaimana seseorang mampu mengubah kendali hidupnya menggeser dorongan yang semula didasari oleh ambisi dan hasrat pribadi menjadi hidup yang digerakkan oleh suara nurani.

Langkah awal dalam berserah adalah melakukan apa yang disebut sebagai “Operasi Pengembalian Qalbu”.

Ini merupakan aktivitas sadar untuk mengembalikan kejernihan hati agar kendali hidup dapat berubah haluan.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

Secara praktis, proses ini terbagi dalam tiga tahapan penting yaitu:

Hening dan Sadar

Masuk ke dalam diri untuk memetakan sumber motivasi, keinginan, dan hasrat yang selama ini menggerakkan kita.

Memohon Ampun dan Merendah

Menyadari bahwa setiap keinginan pribadi yang menggebu sering kali bukan “keinginan sejati” kita di hadapan Tuhan, lalu memohon ampun atas ego tersebut.

Melepaskan Sepenuhnya

Membuang jauh-jauh segala angan-angan dan hasrat untuk mengontrol segalanya.

Selama kita belum mampu melepas, selama itu pula kita membangun “hijab” atau penghalang antara diri kita dengan Sang Pencipta.

Sebagaimana kutipan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.

Maka, wujud ikhtiar yang paling utama adalah mengubah kondisi hati (qalbu).

Setelah fase pembersihan hati selesai, tahap selanjutnya adalah Iqra, membaca dan melaksanakan petunjuk yang hadir dalam keseharian.

Petunjuk ini bisa datang melalui jalur internal berupa intuisi atau lintasan batin yang jernih, maupun jalur eksternal melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Kedua jalur ini saling sinkron dan membentuk sebuah “pola petunjuk”. Tanpa hati yang jernih, manusia akan kesulitan membedakan mana bisikan nurani dan mana bisikan ego yang menyesatkan.

Pada akhirnya, seseorang yang benar-benar berserah tidak akan menjadi pasif. Sebaliknya, ia akan menjadi jauh lebih aktif dalam berikhtiar.

Perbedaannya terletak pada ketajaman dalam membaca pola petunjuk hidup.

Dengan hati yang terjaga dan diperbaiki, setiap langkah ikhtiar yang diambil bukan lagi sekadar mengejar target ambisi, melainkan sebuah gerak harmonis mengikuti arahan Tuhan.

Berserah adalah seni untuk tetap bergerak tanpa merasa memiliki beban atas hasil, karena seluruh kendali telah dikembalikan kepada pemilik-Nya.