Berita UtamaOpini

Kesombongan akan Mampus

254
×

Kesombongan akan Mampus

Sebarkan artikel ini

Kesombongan akan Mampus

​Oleh: MAS’UD

​Sifat sombong (al-kibr) adalah musuh bebuyutan bagi kemanusiaan. Dalam lintasan sejarah, kesombongan bukan sekadar perilaku angkuh, melainkan virus yang menghancurkan peradaban, meruntuhkan kekuasaan, dan pada akhirnya membawa pelakunya pada kehancuran yang sangat hina.

​Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan peringatan yang sangat keras mengenai fenomena ini.

Di dalam Surah Luqman ayat 18, tertulis dengan jelas,

Wa lâ tusha’’ir khaddaka lin-nâsi wa lâ tamsyi fil-ardli maraḫâ, innallâha lâ yuḫibbu kulla mukhtâlin fakhûr(in).

​”Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

​Ayat ini bukan sekadar anjuran etika, melainkan sebuah instruksi mendasar bagi siapa saja terutama mereka yang sedang menggenggam kuasa atau harta agar tidak merasa lebih besar dari bumi yang mereka pijak.

​Belajar dari Sejarah Kehancuran

​Sejarah mencatat bahwa “mampusnya” kesombongan adalah sebuah kepastian hukum alam (Sunnatullah).

Kita bisa berkaca pada sosok Firaun yang dengan pongahnya mengklaim diri sebagai tuhan, atau Karun yang merasa hartanya murni karena kecerdasannya sendiri.

Keduanya berakhir tragis, satu tenggelam di Laut Merah, yang lain terkubur bersama hartanya ke dalam perut bumi.

​Sombong adalah sifat yang membuat seseorang “buta” terhadap kebenaran.

Rasulullah SAW mendefinisikan kesombongan sebagai batharul haqq wa ghamthun naas menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Ketika seseorang sudah merasa paling benar dan memandang rendah sesamanya, saat itulah ia sedang menggali lubang kuburnya sendiri.

​Di era sekarang, kesombongan sering kali tampil dalam bentuk yang lebih halus namun tetap mematikan.

Ada yang sombong karena jabatan, merasa hukum bisa dibeli, ada yang sombong karena status sosial, merasa orang kecil tidak layak didengar dan ada yang sombong karena ilmu, merasa paling suci di hadapan Tuhan.

​Namun, sejarah dan ayat-ayat Tuhan selalu konsisten, kesombongan tidak pernah bertahan lama.

Surah Al-Isra ayat 37 mengingatkan kita

وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا

Wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā(n), innaka lan takhriqal-arḍa wa lan tablugal-jibāla ṭūlā(n).

​”Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

​Pada akhirnya, setiap manusia hanyalah butiran debu di tengah luasnya alam semesta.

Kekuasaan itu dipergilirkan, harta itu titipan, dan kecerdasan itu pemberian.

Tak ada satu pun alasan yang valid bagi manusia untuk bersikap sombong.

​Jika kita tidak segera menanggalkan jubah kesombongan tersebut, maka bersiaplah untuk “mampus” dalam arti yang sebenarnya mampus secara nurani, mampus secara reputasi, dan kelak mampus dalam kehinaan di hadapan Sang Pencipta.

Karena sesungguhnya, hanya Allah yang berhak memiliki sifat Al-Mutakabbir (Yang Maha Megah).