Oleh: MAS’UD
(Direktur Utama Tegas.co)
Jurnalisme bukan sekadar teknik mengolah kata atau kecepatan mengunggah berita.
Di balik sebuah narasi, ada tanggung jawab besar yang dipikul oleh seorang wartawan.
Di era post-truth saat ini, di mana informasi mengalir tanpa bendungan, etika menjadi satu-satunya kompas yang membedakan antara wartawan profesional dan pembuat konten belaka.
Menjadi wartawan beretika adalah pilihan sadar untuk setia pada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak populer.
Berikut adalah pilar utama yang harus kita genggam teguh yaitu,
Kesatu, Independensi dan Akurasi di Atas Kecepatan
Dalam kompetisi media online, kecepatan seringkali menjadi “tuhan”.
Namun, bagi wartawan beretika, akurasi adalah harga mati.
Satu kesalahan data atau kutipan dapat merusak reputasi seseorang dan meruntuhkan kepercayaan publik.
Kecepatan tanpa akurasi hanyalah sebuah kecerobohan yang dibalut informasi.
Kedua Disiplin Verifikasi
Wartawan bukan sekadar “penyambung lidah” narasumber.
Setiap informasi harus melalui proses verifikasi dan check and re-check.
Kita wajib menguji informasi, melakukan konfirmasi, dan memberikan ruang bagi pihak-pihak yang terlibat untuk memberikan penjelasan (keberimbangan).
Tanpa verifikasi, berita hanyalah sekumpulan desas-desus.
Ketiga, Integritas dan Menjauhkan Diri dari Suap
Etika jurnalistik mengharamkan segala bentuk penyalahgunaan profesi.
Menerima suap, manuver atau fasilitas yang bertujuan memengaruhi pemberitaan adalah pengkhianatan terhadap nurani.
Independensi hanya bisa lahir dari tangan yang bersih.
Keempat, Empati dalam Pemberitaan
Wartawan beretika memiliki hati nurani. Dalam meliput peristiwa yang menyangkut duka atau isu sensitif, martabat manusia harus tetap dihormati.
Kita melaporkan fakta untuk memberikan solusi dan informasi, bukan untuk mengeksploitasi penderitaan demi mendulang klik (clickbait).
Kelima, Mematuhi Kode Etik Jurnalistik (KEJ)
Kode Etik Jurnalistik bukanlah sekadar hiasan di dinding kantor redaksi.
Ia adalah hukum tertinggi bagi wartawan. Memahami dan menerapkan poin-poin dalam KEJ adalah bukti bahwa kita menghargai profesi ini sebagai sebuah kemuliaan (officium nobile).
Kepercayaan publik adalah aset terbesar sebuah media. Sekali kepercayaan itu hilang karena perilaku yang tidak etis, sulit untuk membangunnya kembali.
Di Tegas.co, kita berkomitmen bahwa setiap baris kalimat yang kita produksi harus berlandaskan pada etika yang kokoh.
Karena pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling jujur dan konsisten dalam menyuarakan kebenaran.
