Berita UtamaKendariOpini

Siapa di Balik Banjir Kendari?

361
×

Siapa di Balik Banjir Kendari?

Sebarkan artikel ini

Siapa di Balik Banjir Kendari?

Oleh: Mas’ud ( Wartawan senior )

Bencana banjir kembali menyapa Kota Kendari dengan wajah yang lebih kelam.

Berdasar Data terbaru yang dihimpun media ini dari berbagai sumber, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari mencatatkan angka yang bukan sekadar statistik, 657 unit rumah terendam dan 2.985 jiwa terpaksa bertaruh nasib di tengah genangan air.

Dari Kelurahan Kambu hingga luapan Sungai Wanggu di Lepo-Lepo, banjir seolah menegaskan bahwa ibu kota Sulawesi Tenggara ini sedang tidak baik-baik saja.

Setiap kali air memasuki ruang tamu warga, “curah hujan tinggi” selalu menjadi kambing hitam yang paling mudah ditunjuk.

Namun, jika kita mau jujur, apakah benar hanya awan mendung yang patut disalahkan?

Ataukah banjir ini adalah “pesan kiriman” dari pembangunan yang abai terhadap napas alam?

Sungai Wanggu yang meluap bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah cermin dari pendangkalan di hilir dan hilangnya daerah resapan di hulu.

Ketika hutan-hutan di sekitar Kendari berganti menjadi beton dan drainase kota tersumbat oleh ego pembangunan serta sampah, maka hujan hanyalah pemicu dari bom waktu yang kita rakit sendiri.

Menjawab pertanyaan “siapa yang salah” memang kompleks, namun tanggung jawab ini berpijak pada tiga pilar utama yakni,

Pemerintah dan Tata Kota

Sejauh mana konsistensi pemerintah dalam menegakkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)?

Pembangunan pemukiman di bantaran sungai dan wilayah rendah seharusnya menjadi lampu merah yang tidak bisa ditawar dengan izin mendirikan bangunan.

Infrastruktur Drainase

Banjir di 11 kelurahan membuktikan bahwa sistem drainase kita hanya dirancang untuk mengalirkan air “normal”, bukan untuk menghadapi krisis iklim yang kian ekstrem.

Pembersihan saluran yang hanya bersifat seremonial tidak akan pernah cukup.

Kesadaran Kolektif

Manusia sering kali membuka jalan bagi banjir melalui perilaku membuang sampah ke saluran air dan menutup sela-sela tanah dengan semen tanpa menyisakan ruang bagi air untuk pulang ke bumi.

Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan ribuan warga Kendari hidup dalam kecemasan setiap kali mendung menggelayut.

Butuh langkah radikal, normalisasi sungai yang berkelanjutan, audit besar-besaran terhadap sistem drainase kota, dan pengetatan izin alih fungsi lahan.

Banjir Kendari tahun ini harus menjadi titik balik. Jangan sampai kita terjebak dalam siklus yang sama.

Banjir datang, kita sibuk mengevakuasi. Banjir surut, kita lupa berbenah.

Hujan adalah rahmat, namun ia bisa berubah menjadi laknat jika kita, manusia, terus menutup jalan bagi air dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi bencana.

“Bencana banjir bukanlah sekadar masalah teknis air yang meluap, melainkan manifestasi dari gagalnya kita menghormati ruang bagi alam.”