OLEH: MAS’UD (Wartawan Senior)
Ilmu, materi, dan harta (uang) pada hakikatnya barulah berupa “potensi” rezeki.
Ketiga hal tersebut belum tentu menjadi rezeki yang sejati jika tidak dibersamai oleh sebuah indikator utama, yaitu keberkahan.
Berapa banyak orang berilmu yang justru menggunakan kecerdasannya untuk kejahatan?
Berapa banyak orang berharta yang hidupnya diselimuti kecemasan tiada akhir?
Harta dan ilmu baru menjelma menjadi rezeki yang hakiki ketika mendatangkan kemanfaatan dan ketenangan, dan itulah yang disebut berkah.
Lantas, bagaimana Al-Qur’an memandu kita untuk memahami rezeki tertinggi ini?
Konsep ini dikupas tuntas dalam Surah Al-Baqarah ayat 269. Allah SWT berfirman:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yu’til-ḥikmata may yasyā'(u), wa may yu’tal-ḥikmata faqad ūtiya khairan kaṡīrā(n), wa mā yażżakkaru illā ulul-albāb(i)”.
“Dia (Allah) memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa dikaruniai hikmah, sungguh dia telah dikaruniai kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai pikiran (ulil albab).”
Ayat di atas memperkenalkan kita pada tiga kata kunci yang saling bertautan yakni, Hikmah, Anugerah (kebaikan yang banyak), dan Ulil Albab.
Siapakah Ulil Albab ini? Mereka adalah orang-orang yang berakal, yang senantiasa terhubung dengan Allah dalam segala kondisi, baik saat duduk, berdiri, maupun berbaring sambil merenungkan penciptaan alam semesta.
Namun, keterhubungan spiritual yang mendalam dengan Sang Khaliq tidak terjadi secara instan begitu saja.
Ia membutuhkan sarana, sebuah media latihan yang konsisten dan berkesinambungan. Di sinilah posisi sholat berada.
Sholat adalah media latihan terbaik bagi manusia untuk selalu terhubung dengan Allah.
Ketika seseorang mampu mendirikan sholat dengan benar dan khusyuk, ia sedang meraih rezeki tertinggi, sebuah hubungan tanpa batas dengan Pemilik Semesta Dunia.
Nilai dari keterhubungan ini jauh melampaui materi apa pun yang ada di bumi.
Tanpa adanya keterhubungan dengan Allah melalui sholat, harta dan ilmu yang kita miliki akan kehilangan poros kompasnya dan sulit untuk mencapai derajat keberkahan.
Sudah saatnya kita mengubah orientasi spiritual kita. Jangan lagi menjadikan sholat sebagai alat atau sekadar “umpan” untuk memancing rezeki materi.
Justru sebaliknya, sadarilah bahwa kemampuan, kesempatan, dan kelembutan hati yang digerakkan oleh Allah untuk bersujud menunaikan sholat, termasuk sholat Dhuha adalah bentuk rezeki yang paling mahal dan tak ternilai harganya.
Ketika sholat sudah diposisikan sebagai puncak pencapaian kehidupan, maka urusan duniawi yang kecil akan mengikutinya dengan penuh keberkahan.
