OLEH: MAS’UD (Wartawan utama)
Kabar berita terkait dugaan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang melibatkan Wali Kota Kendari, Hj. Siska Karina Imran, dan suaminya, Adriatma Dwi Putra (ADP), belakangan ini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Sebagai figur publik, kehidupan pribadi sosok pemimpin memang kerap menjadi sorotan. Di balik riuhnya kabar tersebut, ada pesan penting yang perlu kita garis bawahi bersama, “kedewasaan dalam bersikap”.
Hampir semua rumah tangga, siapapun pelakunya, tidak terlepas dari dinamika dan ujian. Ketika persoalan tersebut mencuat ke ranah publik, apalagi hingga melibatkan proses hukum, wajar jika masyarakat menaruh perhatian besar. Namun, layaknya dibarengi dengan etika dan rasa empati.
Kita patut semua mengapresiasi langkah kuasa hukum pihak perlapor yang menegaskan keinginan untuk mengedepankan penyelesaian secara restorative justice atau penyelesaian damai dan kekeluargaan.
Ini sejalan dengan pernyataan pihak Kominfo Kota Kendari yang menyebut, persoalan ini telah diselesaikan dalam ranah privasi keluarga.
Keputusan untuk menempuh jalan damai merupakan bentuk kedewasaan dalam merespons situasi yang sulit, sebuah langkah yang patut dihargai daripada memperuncing keadaan. Ini adalah contoh teladan.
Di tempat terpisah, imbauan dari Subdit V Siber Polda Sultra mengenai pentingnya menjaga ruang digital tetap kondusif harus menjadi perhatian kita semua agar senangtiasa menjunjung tinggi martabat orang lain.
Ayo semua! kita jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk belajar bijak dan empati.
Menghargai privasi seseorang, meski ia seorang pejabat publik di Kota Kendari, adalah bentuk kedewasaan masyarakat yang sehat.
Mestinya, kita harus mampu membedakan mana ruang yang menjadi konsumsi publik dan mana yang menjadi ranah personal yang wajib dijaga kehormatannya.
Untuk seluruh pihak, mari kita percayakan proses penegakan hukum dan resolusi konflik kepada mereka yang berwenang dan keluarga yang bersangkutan.
Sungguh bijak jika energi kita digunakan untuk hal-hal yang lebih konstruktif bagi pembangunan Kota Kendari, daripada larut dalam spekulasi yang tidak memberi manfaat.
Hingga pada akhirnya, rumah tangga adalah unit terkecil yang fondasinya adalah kasih sayang dan penyelesaian masalah dengan kepala dingin.
Kita doakan, semoga kebaikan dan kedamaian senantiasa menyertai semua pihak yang sedang diuji, dan semoga masyarakat Kendari tetap tenang, cerdas, serta santun dalam menyikapi setiap dinamika yang terjadi.
