Benteng Keraton Buton Tuai Apresiasi Fadli Zon, Kementerian Siapkan Program Penguatan Cagar Budaya

Benteng Keraton Buton Tuai Apresiasi Fadli Zon, Kementerian Siapkan Program Penguatan Cagar Budaya
Benteng Keraton Buton Tuai Apresiasi Fadli Zon, Kementerian Siapkan Program Penguatan Cagar Budaya

BAUBAU, TEGAS.CO – Kunjungan kerja Menteri Kebudayaan RI, Dr. Fadli Zon, ke Kota Baubau pada 11–12 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi upaya pelestarian dan pengembangan warisan budaya Kesultanan Buton. Selama berada di Baubau, Fadli Zon mengikuti sejumlah agenda, mulai dari malam ramah tamah di Istana Malige hingga meninjau langsung Kawasan Cagar Budaya Benteng Keraton Buton beserta situs-situs bersejarah di dalamnya.

Rangkaian kunjungan diawali dengan malam ramah tamah yang digelar Pemerintah Kota Baubau di Istana Malige, Sabtu (11/7/2026).

Acara tersebut dihadiri Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau Yusran Fahim, Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu, unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

Suasana penuh keakraban mewarnai penyambutan Menteri Kebudayaan yang untuk pertama kalinya melakukan kunjungan resmi ke pusat bekas Kesultanan Buton.

Keesokan harinya, Minggu (12/7/2026), Fadli Zon bersama rombongan meninjau Kawasan Cagar Budaya Benteng Keraton Buton.

Selain menyusuri benteng, rombongan juga berziarah ke makam Sultan Murhum, mengunjungi Batu Air yang menjadi tempat pemandian calon sultan, Batu Popaua sebagai lokasi prosesi pengambilan sumpah sultan, serta meninjau meriam-meriam kuno yang masih berdiri di sepanjang kawasan benteng.

Dalam keterangannya, Fadli Zon mengaku terkesan dengan kemegahan Benteng Keraton Buton yang menurutnya merupakan bukti nyata kemajuan peradaban masyarakat Nusantara.

“Benteng ini diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-5 dengan panjang sekitar 2.750 meter. Yang luar biasa, benteng ini dibangun oleh masyarakat Buton sendiri, bukan oleh Belanda ataupun Portugis. Ini menunjukkan kemampuan masyarakat Nusantara dalam membangun sistem pertahanan yang sangat maju,” ujar Fadli Zon.

Ia menjelaskan, benteng tersebut memiliki karakteristik yang unik. Struktur bangunannya tersusun dari batu karang dan batu kapur, dilengkapi 12 lawa (gerbang) dan 16 baluara (bastion), serta dibangun di kawasan perbukitan dengan tata ruang yang mencerminkan konsep pertahanan Kesultanan Buton pada masanya.

Menurut Fadli Zon, Benteng Keraton Buton merupakan salah satu karya arsitektur monumental Nusantara yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan peradaban yang sangat tinggi sehingga layak terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari identitas bangsa.

Dalam kesempatan itu, Menteri Kebudayaan juga menyampaikan sejumlah rencana strategis pemerintah.

Selain memperkuat pengelolaan Benteng Keraton Buton yang telah berstatus Cagar Budaya Nasional, Kementerian Kebudayaan membuka peluang perluasan kawasan cagar budaya dengan mengusulkan sejumlah situs penting, termasuk kompleks Makam Sultan Murhum.

Di sisi lain, pemerintah juga akan mengkaji usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Buton ke-20 dan Sultan Buton ke-23 atas jasa dan kontribusinya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

“Kita berharap ada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan Pemerintah Kota Baubau. Tugas kita bukan hanya melindungi dan mengonservasi warisan budaya ini, tetapi juga mengembangkannya agar memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat jati diri bangsa,” kata Fadli Zon.

Rangkaian kunjungan kerja ditutup dengan menikmati kuliner khas Baubau, di antaranya kambuse dan jagung rebus yang disajikan pelaku UMKM Sorawolio sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner lokal kepada tamu negara.

JSR

Komentar