Opini

Pemuda Era Kejayaan Islam VS Era Sekulerisme

89
×

Pemuda Era Kejayaan Islam VS Era Sekulerisme

Sebarkan artikel ini

Oleh : Hawilawati

(Muslimah Peduli Generasi)

Kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid Aya Sofya, menghentakkan dunia. Pasalnya sudah 86 tahun mati dari fungsi sebenarnya. Hanya bisa dinikmati megahnya bangunan peninggalan kejayaan Islam sebagai museum. Alhamdulillah, saat banyak  masjid telah  ter-lockdown, di masa pandemi Covid-19 ini.  Justru bangunan megah yang memiliki sejarah kegemilangan emas dimasa Kekhilafahan Utsmaniyah tersebut, telah berfungsi kembali. Betapa bahagianya umat Islam, tak hanya muslim di negeri Istanbul Turki saja, tapi di seluruh penjuru dunia. Apakah ini arti sebuah kebangkitan Islam?

Perlu kita pahami, bahwa kebangkitan Islam tatkala sistem kehidupannya menjadi rujukan, mampu mengendalikan dunia dengan dua kekuatan yaitu dakwah dan jihad, dua hal yang tak bisa dipisahkan. Dakwah untuk mensyiarkan betapa agungnya syariat Allah dalam menata dan mengatur kehidupan ini, hingga umat manusia terikat terhadap aturan Allah. Jihad dilakukan untuk meluaskan wilayah negara Islam dengan tujuan menjadikan penduduk di dalamnya terselamatkan dari kejahilan sistem negeri yang rusak.

Adalah sosok Muhammad al-Fatih (Sultan Mahmed II), usianya sangatlah muda. Pemuda cerdas  beriman nan gagah berani dikenal sebagai pemimpin yang cakap dan mempunyai kepakaran dalam bidang kemiliteran, ilmu pengetahuan, matematika, dan menguasai enam bahasa saat berumur 21 tahun. Dijuluki Al-fatih (Sang Penakluk), karena telah berhasil menaklukkan negara adidaya saat itu yaitu konstantinopel. Inipun telah dikabarkan Baginda Rasulullah SAW ratusan tahun yang silam dalam bisyaroh-nya (kabar gembira)

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanval Al Musnad).

Al Fatih beserta bala tentaranya berhasil memasuki Konstantinopel dengan strategi jihad yang tak biasa, menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya di puncak gunung, Tujuh puluh kapal beserta ribuan tentaranya diseberangkan melalui perbukitan galata hanya dalam satu malam, menuju titik terlemah konstantinopel yaitu selat Golden Horn.

Pada 20 Jumadil Awal 857 H bertepatan dengan 29 Mei 1453 M, konstantinopel berhasil ditaklukkan. Jihad dilakukan, tiada genosida penduduk dari kalangan orang tua, wanita dan anak-anak lawan. Pasukan islam memperlakukan mereka dengan manusiawi, hingga kaum Nasrani di wilayah tersebut-pun,  begitu kagum, akhirnya  berbondong-bondong (tanpa paksaan) memeluk Islam nan mulia. Dunia terselamatkan, sangat dirasakan keberkahan hidup dan rahmat bagi seluruh alam.

Saat berhasil menaklukkan konstantinopel, Hagia Sophia  berfungsi sebagai masjid Aya Sofya. Selain sebagai tempat ibadah,  juga sebagai pusat  menebar khasanah Islam melalui kajian-kajian berlian yang disampaikan oleh para Alim Ulama.

luar biasa, hingga syiar Islam dan ketaqwaan penduduknya semakin mewarnai Istanbul yang indah.

Bagaimana dengan pemuda di era ini?, kontribusi apa yang akan dan sedang dilakukan untuk agamanya ? Akankah mempersiapkan diri menaklukan Roma, sebagaimana cita-cita Al-fatih yang belum tersampaikan karena ajal telah mendahuluinya?.

Di era ini, tak sedikit pemuda dengan usia yang tak jauh berbeda dengan Al-fatih masih asyik dengan urusan dirinya, bahkan terlena  menghabiskan waktunya hanya untuk urusan senda gurau, percintaan semu sampai melahirkan maksiat lainnya.  Bahkan tak peduli dengan lingkungan, negara dan agamanya. Ironisnya kemaksiatan menjadi wejengan sehari-hari. Hingga sangat  dirasakan keterpurukan hidup terlihat dari ketidak seimbangan antara  kematangan usia dan fisiknya dengan kesempurnaan akalnya dalam berfikir.

Tentu bukan tanpa sebab, ideologi sekulerisme yang bercokol lama di negeri-negeri Islam, telah mengacak-acak tatanan kehidupan manusia yang teratur, tak terkecuali melemahkan berfikir umat manusia. Tak mampu memahami hakikat dan tujuan hidupnya. orientasi dunia telah terpatri dalam diri, sementara orientasi akhirat dikesampingkan.

Ideologi sekulerisme, telah memisahkan pemuda dari pemahaman agama  dengan kehidupannya, begitu ambisi mengarahkan mereka melakukan kemaksiatan dengan berbagai cara dan memperlambat bahkan melemahkan level berfikir yang seharusnya.

Sungguh berbeda dengan  ideologi islam, sangat berpengaruh besar dalam mensholihkan jiwa manusia, memahami tujuan penciptaan diri dan alam semesta,  dari mana ia diciptakan, mau apa di dunia dan mau kemana setelah sirnanya nikmat hidup di dunia ini. Jika cara pandang tersebut mampu dijawab dengan shohih, maka ia akan menemukan hakikat kehidupan dan keberadaan sang Pencipta dalam kehidupan.

Rindukah kita dengan sosok pemuda layaknya  Muhammad al-Fatih, dengan usianya yang sangat muda mampu menggentarkan dunia, disegani kawan dan ditakuti lawan dan mampu menyelamatkan dunia? Tentu sangatlah rindu, karenanya mari kita berusaha mengembalikan ideologi serta sistem Islam yang mampu mengatur manusia, hingga pemuda dapat berada dalam level berfikirnya, berani beramar ma’ruf nahi munkar, akalnya berfungsi sebagai Al-Furqon yang haq dan bathil, menyelesaikan masalah bangsa dan agamanya penuh tanggung jawab, serta memiliki jiwa pemimpin hingga dunia terselamatkan dalam genggamannya.