OpiniTegas.co Nusantara

Wajah Buruk Penanganan Wabah,Tak Berubah

74
×

Wajah Buruk Penanganan Wabah,Tak Berubah

Sebarkan artikel ini
Liana Yulita (aktivis muslimah)

TEGAS.CO., NUSANTARA – Wacana mengubah definisi kematian akibat Corona Menurut sumber Kompas.com karena adanya permohonan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Kementerian Kesehatan untuk membedakan angka kematian akibat Covid-19 antara pasien yang menderita penyakit komorbid dan tidak. JIka kita melihat data, jumlah kasus positif virus corona (Covid-19) di Jawa Timur telah melebihi 10 ribu (10.155) pada hari Selasa (23/6). Jumlah itu membuat kasus positif di Jawa Timur hanya selisih 135 dari DKI Jakarta. Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah kasus positif virus corona di DKI Jakarta sebanyak 10.250 pada hari yang sama. Peningkatan kasus positif baru, Jawa Timur sudah melebihi DKI Jakarta. Kasus baru di Jatim ada 258. Sementara di Jakarta hanya ada 160 kasus baru. Tingkat kematian di Jawa Timur juga lebih tinggi daripada DKI Jakarta. Sekitar ada 741 orang meninggal dunia di Jawa Timur sedangkan di Jakarta ada 594 orang yang meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona. Lebih rendah dari Jawa Timur. (cnnIndonesia).

Disampaikan oleh staf ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh bahwa pemerintah tidak akan mengubah penulisan angka kasus kematian akibat Covid-19.Namun hanya akan menambah detail pada definisi kasus kematian akibat Covid-19. Sesuai yang telah diatur dalam Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 revisi kelima. Dimana WHO pada tanggal 6 April 2020 mengeluarkan pedoman International Guidelines fot Certification and Classification (Coding) of Covid-19 as Cause of Death berdasarkan ICD (International Classificatian of Disease). “Misalnya orang dengan kecelakaan lalu lintas berat ternyata Covid-19 positif kemudian meninggal. Apakah dikategorikan sebagai kematian akibat Covid-19, tentu tidak. Tapi tetap dilaporkan sebagai Covid-19 postif karena penanganan jenazahnya berbeda,” ungkap dia. Begitu pula dengan kanker, atau serangan jantung dan lain-lain. (Kompas.com).

Di sisi lain, disaat pembukaan Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 yang dilakukan secara virtual pada tanggal 26 September 2020. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan angka kesembuhan mencapai 196.000 orang. persentase kesembuhan pasien virus Corona atau Covid-19 di Indonesia mencapai di angka 73.25 persen. Angka itu mengacu data harian kasus Covid-19 pada tanggal 25 September. Dan menurut juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito saat jumpa pers di Kantor Presiden. Sementara jumlah kasus sembuh di Indonesia mencapai 191.853 atau 73,2 persen. Angka ini lebih rendah dari rata-rata dunia yang mencapai 73,77 persen., Jakarta, Kamis (24/9/2020).(news.okezone.com).

Sampai saat ini wabah covid-19 masih menghantui di sekitar kita. Data-data yang diberikan oleh pemerintah saat ini tidaklah bisa dijadikan patokan bahwa wabah saat ini sudah benar-benar bisa teratasi. Realitanya setiap harinya masih saja ada kasus kematian yang terjadi akibat covid-19. Walaupun pemerintah menyatakan bahwa kasus sembuh dari covid-19 mengalami peningkatan. Cukup Sudah rakyat disuguhi oleh data ataupun angka-angka yang diberikan oleh pemerintah saat ini. Rakyat sudah lelah, yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah kerja nyata dan kesungguhan pemerintah dalam menangani wabah covid-19 ini. Tentunya dengan memberikan kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada keselamatan rakyat bukan lagi mengotak-atik data info grafis untuk sekedar memperbaiki Citra. Apalagi mempersoalkan tentang definisi kematian yang dirasa tidak penting apalagi urgen untuk dilakukan saat ini. Melainkan berpikir bagaimana caranya mencegah adanya kasus kematian Karena covid-19 tidak terjadi kembali. Berpikir Bagaimana caranya agar rakyat dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari tidak dihantui rasa takut terkena wabah ini.

Tugas dan kewajiban Negara lah menjaga, melindungi dan memberikan rasa aman kepada rakyatnya. negara sebagai pelayan rakyat harus memberikan yang terbaik tentunya. Namun inilah yang terjadi ketika sistem sekuler kapitalisme lah Yang diemban. Menstandarkan segala sesuatunya terhadap angka, untung rugi, dan ditujukan hanya untuk segelintir orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu.

Berbeda ketika sistem Islam diterapkan. Nyawa dalam Islam sanggatlah berharga. Allah Swt berfirman:

“Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. al- Maidah: 32). wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Liana Yulita (aktivis muslimah)
Editor: H5P