
TEGAS.CO., NUSANTARA- Istilah pejuang tidak selalu identik dengan mengangkat senjata. Banyak juga disebut pejuang karena menegakkan nilai-nilai kemanusiaan baik itu yang berkenaan dengan agama, sosial, budaya, ataupun lainnya. Pejuang tidak selalu berlandaskan jenis kelamin atau usia. Dan dunia tidak kekurangan manusia seperti itu, seperti banyak juga diwartakan di media masa (cetak, elektronik) dan media sosial. Beberapa diantaranya berlabel orang besar, selebihnya adalah personal yang tidak dikenal atau luput dari pemberitaan. Semuanya layak diteladani.
Menjadi pejuang adalah panggilan diri dan nurani. Ia terketuk hatinya untuk berbuat langkah nyata, tidak sekedar kata atau jargon belaka apalagi pencitraan diri. Menjadi seorang pejuang memang berat, banyak jalan terjal yang ada di hadapan mata. Tantangan dan gangguan kerap ditemui. Dan disitulah pengujian seorang pejuang, konsekuensi dari nilai dan harga dari sebuah pengorbanan besar mendapat sebutan pejuang sejati san itu sesuatu yang layak disandangnya.
Pejuang sejati selaku konsisten terhadap cita-citanya itu tanpa mudah goyah akan godaan yang sifatnya pragmatis, baik itu berupa materi ataupun jabatan. Menjadi pejuang sejati tidak harus memiliki kepandaian seperti layaknya anak “sekolahan”. Karena dasarnya adalah panggilan hati maka semua akan dilakukan sepenuh hati.
Menilik dari fenomena kehidupan pasca zaman reformasi ini, kita diperhadapkan dengan realita kehidupan kompleks. Penempatan posisi dan pola pikir menjadi sebuah kekuatan untuk menjadi pribadi pejuang sejati. Kompleksnya dinamika sosial dalam tataran kehidupan bermasyarakat mengharuskan kita berani mengambil keputusan.
Kita harus menjadi problem solver, kita telah dianugerahi kesempatan untuk menuntut ilmu. Metode provokasi harus positif sembari menjadikan perbandingan positif menuju kompetitif.
Kita dianugerahi potensi yang sama, penciptaan dari Tuhan pun sama. Lalu kita sama-sama memiliki kodrat yg digariskan oleh yang kuasa. Titik perbedaannya hanya mental. Tidak perlu menambahkan imbuhan ” Ter ” agar terpental.
Representasikan sikap emosional kearah yg lebih baik, dikarenakan masa depan butuh karya bukan celoteh apalagi sifat cengeng.
Kita terlahir dari darah para ksatria, mewarisi darah para pejuang, kepalan tangan dan kucuran pengorbanan merupakan harga dari sebuah perjuangan
Bangun dan bangkitlah, masa depan ada digenggaman kita. Semangat , karya inovatif , menjadi tanggung jawab pribadi sebagai pejuang luhur.
Kepalkan tangan dan yakinkan diri, ditangan kita , pilihan kita lah yang menjadi penentu segalanya.
Bidikan kita kedepan hanya ada dua hal, ” Menjadi Pejuang besar yang Sukses atau sekedar menjadi Tim Hore yang menepukkan tangan dengan riuh “
Penulis : LA Raita Afu. S.SI
Editor : YA