
TEGAS.CO., NUSANTARA – Semenjak disahkannya UU Omnibus Law Ciptaker pada tanggal 05 Oktober 2020, hingga memicu adanya aksi besar-besaran di berbagai kota di seluruh pelosok tanah air. Aksi besar-besaran atas penolakan Undang-undang Omnibus Law yang di ikuti oleh aliansi serikat buruh, mahasiswa, pelajar dan organisasi lainnya ternyata ditanggapi dengan isu miring oleh Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam wawancara dengan CNBC Indonesia TV seperti dikutip Kamis (8/10/2020). Dia mengaku tahu pihak-pihak yang membiayai aksi demo itu.
Menurutnya, gelombang massa yang melakukan aksi menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja semakin besar. Pemerintah mengklaim mengetahui siapa dalang yang menggerakkan demo besar-besaran. (Detikfinace,08/10/20).
Mahasiswa merupakan aset bangsa yang mampu merubah tatanan masyarakat dan bangsa. Wajar bila sosok mereka disandang sebagai agen of the change atau pembawa perubahan. Perjuangan mereka sebagai aktivis tentu sebagai penyambung lidah rakyat atas kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat.
Mahasiswa lahir dari masyarakat maka wajar mereka selalu aktif terjun ke jalan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat. Tak hanya itu, adanya pergerakan mahasiswa sebagai aktivis sangat berperan penting terhadap kemajuan bangsa. Karenanya dari setiap pergerakan mahasiswa ini selalu menjadi momok menakutkan bagi pemerintah yang takut kehilangan kursi kekuasaannya.
Terlepas dari hal tersebut, peran intelektual muda atau mahasiswa yang selalu diidentifikasikan sebagai aksi bayaran justru diancang dengan ancaman nilai akademis hingga kehilangan kesempatan kerja. Maka dari sini kita bisa menilai bahwa adanya sistem kapitalis justru tengah mengerdilkan peran mahasiswa sebagai penyambung suara rakyat.
Watak kapitalis sejatinya hanya menguntungkan para pemodal saja. Karena itu, adanya peran intelektual muda yang kehadirannya diharapkan mampu membungkam pihak yang hanya sekedar mencari keuntungan melalui indenpendensi mahasiswa dalam menyuarakan meslahatan rakyat. Sayangnya, peran mereka justru dikerdilkan bahkan dimatikan akibat kekalahan intelektualitas yang dimiliki oleh para elit politik yang justru tidak membawa arah perubahan yang mendasar dalam perbaikan bangsa. Padahal peran para intelektual muda justru lebih energik dan inovatif dalam memberikan gagasan revolusioner terhadap kemajuan dan perubahan bangsa.
Lantas bagaimana Islam memandang sosok intelektual muda sebagai pelopor kemajuan bangsa? Berbicara masalah pemuda berarti berbicara tentang masa depan. Karena pemuda adalah generasi pewaris yang akan mengganti estafet kepemimpinan sebuah generasi baik dalam keluarga, kelompok, organisasi, bangsa dan negara.
Pemuda merupakan motor penggerak bagi peradaban. Mereka merupakan harapan besar bagi kemajuan bangsa, negara dan agama. Di dalam Islam, pemuda tidak dipandang sebagai orang-orang pengekor, melainkan mereka inilah orang-orang yang memiliki motivasi dan inovasi dalam mengembangkan dan meningkatkan kemajuan peradaban umat Islam.
Selain itu, para pemuda ini juga diharapkan akan menjadi ujung tombak dalam pergerakan dakwah Islam agar mampu berkembang dengan pesat.
Islam telah banyak melahirkan para pemuda-pemuda pilihan yang telah menorehkan sejarah keemasan Islam di masanya. Bagaimana sosok Muhammad Alfatih sang penakluk Konstatinopel dan bergelar seorang panglima dan sultan di usianya mudanya. Ada Zaid bin Tsabit yang gagah berani memimpin jihad di usianya yang masih tergolong muda 13 tahun. Mereka adalah sosok pejuang militan Islam yang gaungnya masih terdengar hingga saat ini bahkan masih banyak lagi sosok pejuang militan didalam Islam yang tak pernah pantang menyerah dalam membela agamanya.
Sosok pemuda didalam Islam seperti inilah yang diharapkan kepada para intelektual muda saat ini. Yang mampu mengubah tatanan masyarakat dan negara dari jeritan sistem kapitalisme. Pemuda yang didambakan dalam Islam tentu yang memiliki ‘aqliyah (pola pikir) yang selaras dengan pemikiran Islam dan bersinergi dengan nafsikah (pola sikap) yang selalu patuh dan tunduk terhadap aturan Islam.
Pemuda yang memiliki syakhsyiyah Islam atau kepribadian Islam akan selalu memberi gagasan atau ide tanpa kekerasan ketika hendak mengkritik kebijakan rezim. Pemuda inilah yang memiliki idealisme yang kuat yang lahir dari intelektualitas diri yang telah diasah dan dibangun sesuai dengan pemahaman Islam.
Sementara itu, para ulama salaf pun memberikan sinyal tentang generasi muda yang harus siap menjadi pemimpin di masa depan. Dengan kalimat hikmahnya “Shubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” yang artinya “Pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan”. Maka sudah seyogianya pemuda Islam harusnya jadi pemuda paling revolusioner dibanding yang lainnya karena dalam benaknya selalu tertanam keyakinan bahwa ia adalah pemimpin masa depan, generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan. Wallahu A’lam Bishshowab
Penulis: Hamsina Halisi Alfatih
Editor: H5P