Santri Harapan Umat: Sehat Badannya Kuat Imannya

Enok Sonariah (Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah)

TEGAS.CO., NUSANTARA – “Santri Sehat Negara Kuat”, demikian tagline hari Santri 2020. Kesehatan bagi para santri yang sedang menimba ilmu di pesantren sangatlah penting. Sepantasnya menjadi perhatian banyak pihak termasuk negara. Apalagi di masa pandemi.

Kembalinya para santri ke pondok, walaupun sudah menerapkan protokol kesehatan tetap saja tidak mampu menahan serangan covid-19. Satu per satu pesantren, baik yang berada di wilayah Kabupaten Bandung maupun wilayah lainnya harus di-lockdown, karena sejumlah santrinya terkonfirmasi positif.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk sehat, kuat dan energik. Tidak sakit-sakitan, lemah dan tidak berdaya. Oleh karena itu Islam demikian memperhatikan makanan halal dan bergizi, kebersihan, serta berobat bagi yang sakit.

Cukupkah hanya sehat jasmani yang diperhatikan? Tentu saja tidak. Berpikir dan berperasaan sehat pun tidak kalah pentingnya, dalam artian berpikir dan berperasaan sesuai tuntunan syariah, sehingga menghasilkan suluk (tingkah laku) mengikuti perintah dan larangan Allah SWT. Singkatnya bukan hanya badannya yang bebas virus juga akalnya. Berfikirnya lurus, tidak dipengaruhi oleh paham atau isme-isme dari luar Islam.

Kehidupan saat ini tidak bisa dinafikan, umat Islam dikepung oleh berbagai pemikiran sesat yang datangnya dari barat, tak terkecuali mengepung para santri. Diantaranya; sekularisme, liberalisme, feminisme dan isme-isme lainnya.

Sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan, telah memasung pemikiran para santri untuk memahami Islam hanya sebagai bahasan yang mengatur ibadah ritual dan akhlak semata. Pemahaman bahwa agama mengatur seluruh aspek kehidupan ; ekonomi, politik, sosial, pemerintahan dan lain sebagainya dikesampingkan dari kajian. Khilafah sebagai sistem pemerintahan Islam yang akan menerapkan seluruh aturan Islam, ditolak dengan alasan sistem yang ada sudah cukup tinggal orang-orangnya yang harus diperbaiki. Demokrasi, ekonomi ribawi yang dijalankan oleh para penguasa dianggap hal yang wajar karena sudah jamannya. Santri gak usah ngomong politik karena sudah ada bagiannya. Cukup berdoa agar Allah Swt. menganugerahi pemimpin yang baik.

Liberalisme yaitu paham kebebasan sedikit banyak telah mewarnai cara berfikir para santri. Buktinya gerakan JIL (Jaringan Islam Liberal) yang kontroversial didirikan oleh para alumni pesantren. Sebut saja Nurcholis Majid, Ulil Abshar Abdalla, Lutfie Asyaukani dan yang lainnya. Mereka berpandangan tidak boleh ada monopoli klaim kebenaran (truth claim) sehingga pernyataan bahwa Islam adalah agama yang paling benar dianggap berbahaya, karena akan menyebabkan hilangnya pluralitas dan kebebasan.

Selain sekularisme dan liberalisme, ada lagi feminisme atau kesetaraan gender. Yaitu faham yang menuntut kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan. Faham ini membolehkan perempuan menduduki jabatan kepemimpinan pemilik kebijakan seperti presiden ataupun gubernur. Hal tersebut dipandang sebagai sebuah kemajuan padahal dilarang dalam Islam. Jangankan kepemimpinan dalam skup pemerintahan, pemimpin di keluarga saja tidak boleh diserahkan kepada perempuan. Selain itu atas nama kesetaraan, pembagian waris yang sudah ada ketentuannya dalam al-Qur’an yaitu dibedakan bagian laki-laki dan perempuan sudah banyak yang mempraktikkan disamakan.

Masih banyak isme-isme lain yang cukup berbahaya disuntikkan ke tengah-tengah santri seperti sinkretisme, pluralisme, nasionalisme dan yang lainnya. Semuanya adalah virus produk dari barat untuk meracuni berfikirnya para santri agar keimanannya lemah.

Berharap perhatian negara terhadap kesehatan para santri baik badannya maupun pemikiran atau akalnya, menjadi hal yang sulit diwujudkan. Alasannya karena justru negaranya sendiri menjadi pelaku dan pelaksana dari isme-isme di atas. Menjadikan negara lemah, tidak mampu menjaga kesehatan berpikir para santri, begitu pun kesehatan badannya. Para santri harus membayar mahal biaya perawatan andai positif covid-19.

Inilah kenyataan hidup berada dibawah pengaturan sistem kapitalisme- sekular. Alih-alih mampu melahirkan para santri sehebat tempo dulu yang menyerukan jihad melawan penjajah malah bertekuk lutut, menjadi penghamba dan pemuja pemikiran barat yang tak berdaya.

Seiring dengan diserukannya dakwah Islam kaffah secara masif, ditambah kajian kitab-kitab salafus shalih di pesantren, seluruh para santri tercerahkan sehingga mereka mampu membersihkan virus pemikiran pada dirinya, dilanjutkan di tengah-tengah umat, menjadi pembela dan penjaga Islam terpercaya serta berjuang menegakkannya. Badannya sehat imannya kuat, itulah santri harapan umat yang dicintai oleh Allah SWT.

“ Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan” (HR. Muslim).
Wallahu a’lam bi ash shawwab.

Penulis: Enok Sonariah (Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah)
Editor: H5P