Opini

Kemenangan Biden: Angin SEGAR bagi Islam dan Muslim?

67
×

Kemenangan Biden: Angin SEGAR bagi Islam dan Muslim?

Sebarkan artikel ini
Srilestina (Pemerhati Umat)
Srilestina (Pemerhati Umat)

TEGAS.CO., NUSANTARA – Apapun tentang Amerika seakan menarik untuk dibahas. Mulai dari KFC hingga Dolar, dari Hollywood hingga Presiden AS tak pernah luput dari perhatian media internasional maupun nasional. Amerika populer bukan sekedar karena keberuntungannya menjadi negara Adidaya pertama sejak perang dunia II, namun karena kiprahnya dalam melanggengkan ideologi kapitalisme-sekularisme di seluruh dunia sebagai alat ekspansinya.

Situasi perpolitikan Amerika Serikat pun tak pernah luput dari perhatian dunia. Pasalnya AS yang mengklaim diri sebagai negara adidaya dunia, kebijakan politik dalam dan luar negerinya begitu berimbas kemana-mana, hingga semua negara seakan satu komando mengakui bahwa apapun yang terjadi dalam perpolitikan amerika, akan turut mengubah dunia. Karena AS adalah dedengkot negara kapitalis yang hari ini dianut oleh banyak negara.

Beberapa waktu lalu ketika pertarungan memperebutkan massa antara dua kubu calon presiden AS yaitu Donald Trump dan Joe Biden sedang panas-panas nya, rival paling kuat dari Trump secara sengaja menunjukkan seolah-olah bersimpati pada kaum paling terdiskriminasi di AS yaitu Muslim Amerika.

Dalam kanal YouTube nya, Biden mengungkapkan janjinya bahwa jika menjadi presiden, Islam akan diperlakukan sebagaimana mestinya, seperti keyakinan agama besar lainnya. Biden pun mengungkapkan kesungguhan janjinya sampai mengutib hadits Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan siapapun diantara kamu yang melihat kesalahan agar dia mengubahnya dengan tangannya, jika dia tidak mampu, maka dengan lidahnya, jika dia tidak mampu, maka dengan hatinya.

Biden pun menegaskan bahwa jika mendapatkan kehormatan menjadi Presiden AS, dia akan mengakhiri larangan (Travel ban) bagi muslim pada hari pertama menjabat. Pernyataan ini langsung mendapat sambutan hangat dari warga internasional khususnya kaum muslim, bahkan ada yang mendoakannya.

Sebagai Muslim yang telah banyak menyaksikan kejahatan atau kezaliman negara-negara kapitalis sepanjang sejarah di seluruh dunia, kaum Muslim perlu memikirkan kembali dengan tanpa menunjukkan kegembiraan yang berlebihan. Karena bagaimanapun kampanye tetaplah kampanye, seribu satu janji dan impian kehidupan lebih baik bisa diutarakan tanpa takut jeratan hukum jika melanggarnya.

Untuk diketahui, kampanye dalam dunia demokrasi hanyalah sarana untuk meraih suara. Bukan MOU atau kesepakatan resmi dengan sejumlah pihak yang bisa dituntut pertanggungjawabannya. Apalagi, sudah jadi rahasia umum bahwa hal paling utama dalam kampanye adalah bagaimana memenangkan opini, siapa yang memenangkan opini umum dialah pemenang pemilu, bahkan bisa ditebak sebelum kontes pemungutan suara terjadi.

Opini klise seperti menghilangkan kemiskinan, menumpas kezaliman, diskriminasi sosial, ras, perubahan ke kehidupan yang lebih baik, dan lain-lain masih menjadi arus utama opini menarik untuk digaungkan ke tengah publik. Karena dalam pemilu demokrasi, suara rakyat jelata sama nilainya dengan rakyat kelas atas, suara akar rumput sama berharganya dengan suara pemilik gedung pencakar langit. Suara rakyat minoritas yang menginginkan keadilan dan hidup tanpa diskriminasi, sama artinya dengan suara minoritas pengusaha yang menginginkan kerajaan bisnisnya semakin menggurita. Masing-masing orang hanya bisa memberikan satu suara.

Jika kita melihat, Joe Biden bukanlah seorang muslim, tapi entah mengapa kepentingan kaum Muslim Amerika begitu diarus utamakan dalam kampanyenya. Rupanya Biden tertarik dengan suara kaum muslim Amerika yang tidak bisa disepelekan, yang dianggapnya berpotensi untuk mendukung kemenangannya dalam pemilihan presiden. Apalagi melihat pertumbuhan kaum Muslim Amerika yang setiap tahun meningkat. Baik yang lahir dan berdomisili di Amerika maupun imigran dari negeri Muslim di seluruh dunia. Biden tentu paham apa masalah dan kebutuhan mereka, dan juga mengenal militansi kaum muslim untuk membela opini “menumpas kezaliman” yang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Kepalsuan Demokrasi dan Jahatnya Kapitalisme Amerika

Negara Amerika adalah penganut utama ideologi kapitalisme-sekularisme dengan sistem pemerintahannya demokrasi. Demokrasi sendiri dicitrakan sebagai antithesis sistem pemerintahan diktator. Dalam demokrasi rakyat diklaim berdaulat penuh baik dalam politik, ekonomi maupun sosial budaya; politik akan berpihak kepada rakyat, sehingga kehidupan rakyat pun makin maju dan sejahtera secara merata.

Slogan dari rakyat-oleh rakyat-untuk rakyat dalam demokrasi, meski tampak indah, sebenarnya dari awal sudah bermasalah, dan dalam realita mudah diperalat. Mungkinkah seluruh rakyat terlibat dalam proses pembuatan hukum sehingga hukum benar-benar berasal dari rakyat? Andaipun semua orang terlibat, tidak ada jaminan bahwa kualitas hukum yang dibuat itu akan benar-benar bermutu dan baik untuk kelangsungan hidup negara dan masyarakat dalam jangka panjang.

Dalam konteks Pilpres Amerika dan kaum muslim, mangkinkah semua aspirasi kaum muslim akan dipertimbangkan oleh presiden Joe Biden? Sementara Biden tidak berdiri sendiri. Realitas dalam negara kapitalisme yang menerapkan demokrasi, hanya tokoh yang dekat dengan pihak-pihak yang mampu memodali kampanye dan membayar saksi yang akan berhasil meraih peluang besar.

Artinya bisa dipastikan Biden adalah tokoh yang dibeking oleh para kapitalis Amerika. Biden memiliki hutang budi dan materi kepada para pemilik modal yang mendukungnya dalam pilpres. Kenyataan inilah yang membuat partisipasi rakyat khususnya kaum muslim Amerika akan sulit terakomodasi kepentingannya. Siapa yang bisa menjamin sikap politik Biden yang lebih “welcome” terhadap Muslim dan Islam akan mendapat dukungan penuh dari para pendukungnya dan warga masyarakat non-Muslim lain?

Kalaupun Biden membuktikan janjinya membuat hidup Muslim Amerika lebih nyaman dan mendapatkan keadilan, apakah kita harus melupakan kejahatan Amerika selama ini? akankah kita berubah “berbaik sangka” kepada Amerika yang telah terbukti menjajah dan mendukung penjajahan atas negeri Muslim di seluruh dunia?

Amerika dengan alasan yang dibuat-buat telah melakukan penjajahan atas Irak dan Afganistan dan menjadikan negeri itu bak negeri dongeng yang sudah tidak dikenali, menjadi porak poranda sambil membantai para Mujahid militant yang telah dicapnya sebagai teroris. Amerika juga terlibat dalam memperpanjang konflik Timur Tengah khususnya Suriah yang mengakibatkan ratusan ribu bahkan jutaan warga sipil Muslim tak berdosa hidup mederita dan mati sia-sia dalam negara yang telah menjadi medan perang lebih dari 6 negara. Bahkan, para penguasanya yang meski silih berganti namun tetap pada dukungannya pada penjajahan kafir Zionis Israel atas Palestina.

Apapun yang dibuktikan Biden kepada kaum Muslim Amerika, hanyalah dalam posisinya sebagai kepala negara yang ingin membuat warganya hidup nyaman, adil dan mendukung pemerintahannya. Kaum Muslim yang telah memilih hidup di Amerika sebagai negara gembong kapitalis harus pandai bermain untuk mendapatkan posisi aman dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan saudara Muslim lainnya.

Di sisi lain, bila seorang kepala Negara (presiden) pemenang pemilu telah duduk di kursi pemerintahan, akan tampaklah 1001 persoalan yang menyertainya. Ada aturan-aturan yang saling menopang dan membelit, yang tidak dapat diubah satu-persatu begitu saja. Di posisi inilah bahkan seorang Biden akan sulit mengubah keadaan Muslim Amerika.

Politik dalam negeri beda lagi halnya dengan politik luar negeri. Jika keadilan dalam negeri mungkin bisa diwujudkan oleh pimpinan negara kapitalis, belum tentu sama dengan kiprahnya di dunia internasional dalam kebijakan politik luar negerinya. Sebagai presiden negara kapitalis, Biden tidak punya pilihan selain meneruskan imperialisme dan kolonialisme sebagai kebijakan politik luar negerinya. Ini karena Amerika, siapapun pemimpinnya, masih berpijak pada ideologi sekluarisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan dan negara, dengan kapitalisme sebagai sistem ekonominya.

Kita sudah melihat, demi pemulihan ekonomi, amerika mengorbankan nyawa jutaan rakyatnya terinfeksi dan mati karena wabah Covid 19 di tahun 2020 ini. Menurut Negara kapitalis yang mendasarkan semua pada kepuasan materi, mendapatkan keadaan ekonomi yang semakin menguat lebih utama dari menyelamatkan nyawa manusia. Ini tidak heran, mengingat negara kapitalis sepanjang sejarah sudah terbiasa mengorbankan nyawa manusia untuk ekspansi wilayah jajahan dan eksploitasi sumber daya alam di sana, dan untuk mendapatkan kekuatan politik di dunia.

Watak Negara kapitalis, akan selalu mencari dan menemukan daerah jajahan untuk tujuan mengeksploitasi sumber daya yang ada di sana. Baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam.

Inilah mengapa kemenangan Biden atas Trump tidak serta merta membawa angin menyejukkan bagi kaum muslim di seluruh dunia. Palestina akan tetap terjajah, Suriah, Afganistan akan tetap bergolak dan jika kapitalisme tetap dibiarkan dengan lalainya kaum muslim, bahkan akan semakin meluas menjajah negeri-negeri kaum Muslim.

Bagaimana Kaum Muslim Mewujudkan Keadilan?

Secara fitrah, setiap manusia menyukai keadilan dan membenci kezaliman. Secara fitrah pula, manusia akan berpihak pada pelaku keadilan dan bersimpati kepada orang yang terzalimi. Sekilas pernyataan dalam kampanye Biden menunjukkan seakan dia salah seorang calon presiden yang akan menumpas kezaliman khususnya yang dialami kaum muslim di Amerika.

Hanya saja, dalam mewujudkan keadilan yang merupakan fitrah dan hak semua manusia, Islam memberikan serangkaian panduan dan petunjuk serta sistem untuk mewujudkan keadilan itu di tengah-tengah manusia.

Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang seharusnya. Allah SWT sebagai pencipta manusia lebih mengetahui tentang standar keadilan. Standar keadilan dalam Islam adalah syariat Islam yang telah diturunkan kepada kaum Muslim. Saat syariat tidak dijadikan rujukan, maka kezalimanlah yang akan terjadi bukannya keadilan.

Seperti dalam firman Allah SWT “Siapa saja yang tidak memutuskan perkara menurut wahyu yang telah Allah turunkan, mereka itulah orang kaum yang zalim” (Al Maidah: 45).

Keadilan yang ingin diwujudkan oleh Biden terhadap kaum Muslim Amerika, tidak bisa diharapkan oleh kaum Muslim. Mengingat Amerika berdiri di atas ideologi sekularisme yang tentu saja jauh dari aturan yang diturunkan Allah. Sebaik apapun dia berusaha untuk adil, tidak akan pernah adil dan akan selalu ada celah untuk kezaliman. Mengingat aturan dibuat hanya berdasarkan standar manfaat dan akal manusia yang terbatas. Terbukti sampai hari ini Amerika masih menganggap baik penjajahan dan mendukung penjajahan Zionis atas Muslim Palestina.

Karena itu, kaum muslim harus menempuh jalan lain, yaitu mengikuti jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw dalam mewujudkan keadilan dan kebaikan dalam masyarakat. Yaitu dengan dakwah dan perjuangan menegakkan hukum Allah yaitu syariat Islam dalam daulah Islam. Yang lebih tinggi dari keadilan versi Biden yang hanya sekedar menyelamatkan Muslim Amerika dari travel ban dan diskriminasi lain. Syariat Islam yang diterapkan dalam daulah Islam akan menyelamatkan Muslim di seluruh dunia. Biden tidak bisa memasang badannya untuk melindungi kaum Muslim, tapi seorang Khalifah bisa memberikan perlindungan untuk warganya yang ada di dalam negeri maupun luar negeri. Militer Amerika ada untuk menjajah dunia dan kaum Muslim di berbagai negeri Muslim, tapi militer Daulah Islam ada untuk melindungi Islam dan kaum muslim di mana saja mereka berada.

Penulis: Srilestina (Pemerhati Umat)
Editor: H5P