oleh

Bukit Algoritma, Proyek Bergengsi Minim Visi

Logo tegas.coDireksi & Redaksi tegas.co mengucapkan Selamat & Sukses Konferensi PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PW)I Sulawesi Tenggara pada 9 - 11 Juli 2021 “Tingkatkan Profesionalisme Wartawan Di tengah Pandemi Covid19 Menyongsong HPN 2022 di Kendari””
Bukit Algoritma, Proyek Bergengsi Minim Visi
DHEVY HAKIM

Akal menjadi anugerah berharga yang diberikan Sang Pencipta pada manusia dibandingkan dengan yang lainnya. Selain menempatkan manusia pada posisi mulia, anugerah akallah yang menjadikan manusia mampu berfikir hingga melahirkan berbagai khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang dari masa ke masa. Era millenium saat ini telah membawa pada era digitalisasi yakni era revolusi industri 4.0. Kini, pemerintah mencanangkan pembangunan bukit algoritma yang disebut-sebut sebagai “sillicon valley”-nya Indonesia.

Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko menyampaikan terkait Bukit Algoritma, “Kawasan ini akan menjadi salah satu pusat untuk pengembangan inovasi dan teknologi tahap lanjut, seperti misal kecerdasan buatan, robotik, drone (pesawat nirawak), hingga panel surya untuk energi yang bersih dan ramah lingkungan.” (kompas.com, 11/4/2021)

Sedang Silicon Valley atau Lembah Silikon yang digunakan sebagai modelling bagi pembangunan bukit algoritma merupakan julukan bagi kawasan selatan San Fransisco Bay Area, California, AmerikaSerikat. Silicon Valley menjadi rumah bagi perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia seperti Adobey System, Apple Computer, Cisco System, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel dan Yahoo!. Perusahaan-perusahan teknologi tersebut bergerak dalam bidang komputer dan semikonduktor, dimana dalam bidang teknologi tersebut membutuhkan yang namanya chip silikon. Oleh karenanya kawasan tersebut dijuluki “Silicon Valley”.

Lagi-lagi Investasi

Rencana pembangunan bukit algoritma dijadwalkan dimulai pada bulan Mei 2021. Lokasinya pun telah ditandai oleh Google maps yakni berada di kawasan Cikidang resort, Sukabumi, Jawa Barat. Bukit algoritma akan menjadi kawasan pengembangan riset dan sumber daya manusia berbasis teknologi 4.0 atau “Brand Capital Indonesia”. Di atas tanah seluas 888 hektar ini akan dibangun kawasan energi terbarukan solar sel sebesar 1 giga Watt, dibangun pusat kajian kewilayahan eksplorasi ruang udara atau pembuatan drone untuk berbagai kepentingan, dan ada pula pusat satelit telpon, pusat pembuatan alat kesehatan mandiri dan juga Nano Teknologi Center Nano Science dan Biologi Molekuler. (kompas.tv, 23/4/2021)

Namun yang penting untuk dicatat dan diperhatikan bagi elit pemerintah yang bermimpi membangun bukit algoritma, silicon valley sampai pada posisi menjadi episentrum teknologi dunia seperti sekarang ini memerlukan waktu 20 tahun yakni setelah di tahun 1950 mulai dibangunnya kawasan tersebut. Artinya untuk membangun kawasan teknologi butuh adanya waktu, bahkan waktu yang cukup panjang bukan sulapan dalam waktu sekejap.
Lantas, kenapa pemerintah terkesan terburu-buru?

Di tengah situasi pandemi covid-19 yang belum usai bahkan diduga akan menuai gelombang susulan covid varian baru, pemerintah terus menggencarkan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan pasti butuh dana, untuk pembangunan bukit algoritma diberitakan memakan biaya sebesar 18 triliun rupiah (CNN, 11/04/2021). Kuat dugaan kesan buru-buru nya pembangunan bukit algoritma tersebut tidak lain untuk kepentingan investasi.

Seperti yang disampaikan oleh Budiman Sudjatmiko, Pendiri Gerakan Inovator 4.0 sekaligus Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya, -sebagai perusahaan pengembang proyek ini- kepada CNNIndonesia.com Sabtu (10/4), “Kami punya ide, kami tawarkan ke investor. Kemudian banyak investor dalam dan luar negeri tertarik. Kemudian dipercayakan kepada kami, kami kemudian cari kontraktor”.

Sekedar Prestisius

Kesuksesan silicon valley di AS bila ditelaah tidak hanya karena campur tangan kapitalis Ventura saja, namun juga adanya kalangan penghobi yang menjadi usahawan teknologi, pengaruh momen politik, laboratorium yang memadai juga dukungan ahli dalam melakukan riset.

Bila silicon valley yang dijadikan rujukan dalam pembangunan bukit algoritma, maka investasi bukanlah satu-satunya yang menjadi pertimbangan. Terlebih, sudah jamak diketahui adanya investasi baik yang diberikan investor dalam negeri dan luar negeri tidaklah diberikan secara cuma-cuma. Ada kompensasi yang harus diberikan sebagai imbalan investasi. Dampaknya, negara semakin terperosok pada jebakan hutang, makin tergantung dan tentu saja makin tunduk pada keinginan investor.

Oleh karenanya pembangunan bukit algoritma tidak boleh sekedar proyek prestisius atau ajang proyek bergengsi saja apalagi hanya untuk alasan pemulihan ekonomi. Pembangunan bukit algoritma haruslah memperhatikan beberapa hal berikut.

Pertama, kejelasan visi. Kejelasan visi akan membawa kemaslahatan bangsa. Proyek yang dilakukan akan tepat sasaran. Harusnya belajar dari pengalaman pembangunan bandara Kertajati, sudahlah menelan biaya besar akhirnya tak berfungsi layaknya museum mati.

Kedua, kesiapan jaringan. Digitalisasi tentu membutuhkan jaringan internet bebas hambatan. Realitanya, saat ini jaringan 4G saja belum merata di seluruh pelosok Nusantara. Semestinya, sebelum pembangunan bukit algoritma dibangun menjadi penting untuk menyiapkan jaringan merata bebas hambatan terlebih dahulu.

Ketiga, persiapan masyarakat. Masyarakat lebih dulu mendapatkan edukasi berkaitan kegiatan ekonomi menggunakan market digital kedepannya. Sehingga Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) secara alami akan tumbuh di sekitar bukit algoritma.
Keempat, kemandirian bangsa. Keinginan untuk menjadikan bukit algoritma sebagai pusat teknologi tentu merupakan buak pikiran yang patut diapresiasi.

Namun, realita pembangunan yang memerlukan dana besar juga menjadi pertimbangan penting. Bila negara tidak ada Anggara untuk membangun secara mandiri semestinya tidak perlu dipaksakan. Ada banyak yang perlu dituntaskan lebih dahulu seperti masalah pandemi covid-19 dan kondisi ekonomi bangsa. Bila dipaksakan, negeri ini niscaya akan terus berada dibawah arahan para kapitalis asing maupun Aseng.

Kelima, dukungan ahli. Pembangunan pusat teknologi pastinya dibutuhkan tangan-tangan para ahli. Bahkan semestinya laboratorium memadai berdekatan dengan lokasi yang dicanangkan dibangunnya bukit algoritma tersebut. Tanpa dukungan ahli dan laboratorium yang mendukung, mimpi mewujudkan silicon valley ala Indonesia rasanya akan sulit.

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia memang menjadi pangsa pasar yang baik bagi para kapitalis. Potensi jumlah SDM yang didukung melimpahnya SDA yang dimiliki negeri ini semestinya mampu menjadikan negeri yang mandiri bahkan berdaya memimpin dunia. Asalkan kemaslahatan umat yang menjadi orientasinya, yakni berdaulat berdasarkan Islam.

Bukankah landasan filosofis berdirinya negeri ini adalah “berkat Rahmat Allah”? Insyaallah, dengan melandaskan pada Islam, pembangunan riset dan teknologi akan didukung penuh baik finansial dan moneter untuk kepentingan islam dan kaum muslim. Dengan cara ini tidak hanya pembangunan bukit algoritma saja yang mendatangkan kemaslahatan namun lebih lanjut negeri ini akan mendapatkan limpahan berkah. Negeri yang baldatun. thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’alam binshowab.

PENULIS: DHEVY HAKIM

PUBLISHER: MAS’UD

Komentar