oleh

Game Online : Antara Peluang atau Masalah di tengah Pandemi?

Advertisements
Mariana, S.Sos ( Guru Swasta dari Kolaka – Sulawesi Tenggara )

TEGAS.CO,. NUSANTARA – Apa yang lagi digandrungi generasi Millennials, Gen Z, hingga generasi Alpha untuk mengisi waktu mereka di masa pandemi? Ya, tidak lain adalah Games online, ini yang menjadi tren dikalangan remaja hingga dewasa saat ini. Bermain game sebenarnya tidaklah salah, hanya saja yang dikhawatirkan adalah timbulnya adiksi sehingga merugikan materi, mental dan fisik.

Sebagaimana dilansir oleh CNN Indonesia, 23/06/2021, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) diminta untuk memblokir situs dan aplikasi game online mulai dari PUBG hingga Free Fire. Permintaan itu disampaikan Bupati Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Sapuan lantaran dianggap memiliki dampak negatif pada anak.

Sebenarnya adanya permintaan pemblokiran situs, tidak lain karena banyaknya keluhan masyarakat akibat dampak negatif dari pengaruh game online, mulai dari gangguan mental yang terjadi pada pecandu game, kesehatan yang terganggu, hingga kematian. Miris memang, kemajuan sains dan teknologi untuk memberikan fasilitas hiburan yang mudah dan cepat terjangkau ternyata punya sisi yang melukai.

Ini dikarenakan negara tidak memiliki visi dan misi dalam pengembangan teknologi, sehingga arah kebijakan dalam mengembangkan game online ini justru berpotensi membahayakan publik dalam jangka panjang, misalnya saja konten kekerasan, pornografi, bullying, dan lainnya yang tentu berdampak pada psikis yang memainkannya.

Hanya saja ketika bisnis sudah mengemuka apapun bahayanya maka akan menjadi sulit untuk dicegah, sebagaimana game online, alasan menciptakan lapangan kerja, pendapatan besar dari bisnis ini tentu sangat menggiurkan.

Sederet nama pemilik game online seperti Ma Huateng yang merupakan pemilik sekaligus pendiri Tencent yang salah satu gamenya adalah PUBG, sebagaimana data Forbes tahun 2020, memiliki kekayaan US$ 48,2 miliar, setara Rp 713 triliun (kurs Rp 14.800). kemudian ada Forrest Li pendiri Sea Ltd, gamenya yang terkenal adalah Free Fire, memiliki kekayaan USD 13,2 miliar (Rp 193 Triliun). Tak ketinggalan William Lei Ding atau Ding Lei pimpinan NetEase dengan kekayaan sebesar USD 37,7 Miliar atau berkisar Rp 533 triliun (kurs Rp 14.139). Dan masih banyak deretan pebisnis yang sukses meraup pundi-pundi kekayaan lewat game online.

Sangat mungkin dengan melihat prestasi game online, industri bisnis ini tidak akan mungkin dapat dihentikan selama pijakannya adalah keuntungan atau profit, tentu akan banyak cara bagi para kapital untuk dapat survive melambungkan bisnisnya meski banyak protes dari berbagai kalangan akan efek yang ditimbulkan.
Lagi pula negara diuntungkan dengan pertumbuhan ekonomi dari game online, apalagi dengan adanya pajak. Karena itu, selama masih tetap otak bisnis dan keuntungan yang dikedepankan, maka risiko psikis, fisik dan bahkan kematian masih dapat diperdebatkan.

Mengembangkan Ekonomi Harus Memiliki Visi Dan Misi Yang Jelas

Jika mau serius menggarap potensi ekonomi, sesungguhnya negara seharusnya mengembangkan sumber ekonomi primer semisal pertanian, perindustrian dan perdagangan. Dengan pengelolaan secara sungguh-sungguh bidang pertanian, industri terutama industri berat, perdagangan terutama barang dan jasa riil, tentu hal ini dapat membuka lapangan kerja, sehingga usia kerja dapat terserap dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sungguh orang-orang aktif kreatif dan inovatif serta memahami teknologi sangatlah dibutuhkan oleh negara untuk kemajuan dan bargaining position pada kancah dunia. Namun jika suatu negara tidak memiliki visi, misi dan regulasi yang berpijak pada aturan Pencipta maka yakin saja bahwa perkembangan sains dan teknologi justru membawa pada kehancuran peradaban.

Ada contoh nyata kemajuan pengetahuan dan teknologi yang membawa pada kegemilangan suatu negara yakni peradaban Islam, sungguh dalam Islam, sangat memuliakan orang-orang yang berilmu termasuk orang yang mengembangkan teknologi.

Pada masa Khilafah Abbasiyah, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Para Khalifah yang memimpin turut mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebijakan-kebijakannya, maka tidak heran banyak tokoh ilmuan yang terkenal kala itu. Bahkan banyak dari ilmuan barat mengagumi peradaban Islam, diantaranya: Will Durant dalam pernyataannya;
“ Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradaban nya selama lima abad”.

Begitupun dalam ekonomi Will Durant menilai peradaban Islam berhasil membangun ekonominya dengan pendapatan negara yang tinggi, hal itu bukan berasal dari pajak melainkan pengaruh pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri dan pesatnya aktivitas perdagangan ( Will Durant- The Story of Civilization).

Senada dengan will Durant, Jacques C.Reister menilai “ Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi”, Prof Kodrad dalam bukunya Uber den Ursprung Der Mitte literchen Minnesang yang diterbitkan di Swiss tahun 1918 menulis, “ Eropa yang mendapatkan sastra dan nyala api peradaban modern berasal dari Islam.”

Maka Islam adalah peletak dasar teknologi modern yang dirasakan saat ini, jika dunia mau berterimakasih pada kemajuan teknologi maka tentu hal itu lebih patut ditujukan pada peradaban Islam. Dan jika ada peradaban yang gemilang mengembangkan pengetahuan dan teknologi maka itu ada pada peradaban Islam yang mulia.

Tentu saja kemuliaan peradaban Islam dengan kemajuan teknologi dan ekonominya, terjadi disebabkan karena pijakan regulasinya yang kokoh dan benar berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulnya. Begitupun visi dan misinya jelas yakni untuk mencerdaskan generasi dan membentuk kepribadian Islam yang kuat, sehingga mereka dapat survive dengan kekuatan iman dan pemahaman IPTEK di tengah pertarungan peradaban dunia.
Hal ini tentu berbeda jika negara tidak memiliki visi dan misi yang jelas, bukan kebaikan yang diperoleh tapi kehancuran, yang mengakibatkan terbawa arus dalam perkembangan teknologi, sehingga sangat memungkinkan menjadikan generasi Millenials, gen Z, hingga Alpha yang memiliki potensi besar justru menjadi pangsa pasar, padahal teknologi belum tentu membawa kebaikan bagi mereka.

Pendidikan Sarana Membentuk Kepribadian Yang Kokoh

Peradaban Islam memiliki visi dan misi yang jauh lebih baik jika dibandingkan sistem negara hari ini, karena menjadikan tujuan pendidikan sebagai sarana untuk menyiapkan manusia membentuk kekokohan kepribadiannya, sehingga mampu mengarungi dunia dan memanfaatkan dunia seoptimal mungkin untuk bekal mempertanggungjawabkan perbuatannya dihadapan Allah SWT.

Pendidikan dalam Islam, menghasilkan output yang menonjol dalam Tiga perkara yakni Pertama; kekokohan kepribadian, sehingga tidak putus asa ketika menghadapi sebuah persoalan, apalagi sampai mencelakakan orang lain. Kedua; Skill atau keahlian dalam pengembangan sektor primer sehingga hasilnya bisa dirasakan masyarakat luas dan negara akan dapat berkembang menjadi peradaban yang maju.
Ketiga; Politis artinya mempunyai kepedulian atau perhatian serta paham dengan urusan masyarakat, juga mampu untuk memberikan solusi terhadap problematika yang dihadapi masyarakat sesuai dengan apa yang seharusnya yakni Syariat Allah dan RasulNya. Jadi generasi tidak akan dibiarkan menjadi objek pangsa pasar dari berbagai komoditas korporasi, yang justru lebih banyak menguntungkan para kapital pebisnis.

Generasi Islam adalah generasi cerdas yang kuat kepribadiannya tidak mudah tergerus oleh serangan game yang merusak potensinya. Jadi apakah game online adalah kesenangan atau kegilaan? Tentu kesenangan itu ada pada mereka yang diuntungkan dari larisnya game online sehingga menambah pundi-pundi kekayaan yang bahkan hampir setara dengan setengah dari APBN suatu negara.

Kegilaan adalah pada mereka yang terjebak arus dan menjadi kecanduan game online sehingga tergadai kehidupan sosial dan ekonominya bahkan kekuatan spiritualnya pada Pencipta menjadi lenyap, yang lebih berbahaya jika adiksi ini menyebabkan kegilaan ekstrim yang berakhir pada tindakan amoral dan destruktif yang bukan hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang-orang disekitarnya.

Maka sangat urgen menyelamatkan generasi dari kacaunya perkembangan teknologi saat ini, karena itu diperlukan solusi cerdas dan itu hanya ada pada peradaban Islam kaffah dalam bingkai negara, tentu hal itu sudah pernah dibuktikan sejarah dan para ilmuan dunia telah mengakuinya. Wallahu a’lam (***)

Penulis : Mariana, S.Sos ( Guru Swasta dari Kolaka – Sulawesi Tenggara )

Editor : YA

Komentar