
TEGAS.CO,. NASIONAL – “Jangan terlalu dalam mempelajari agama,” kata salah satu petinggi negara dalam mengisi tausiyah subuh di salah satu masjid di Papua. Bahaya! Kalimat seperti ini bisa menimbulkan kesesatan berpikir bagi masyarakat dalam mempelajari agama mereka. Hal semacam ini merupakan salah satu bentuk islamphobia yang bisa merusak akidah umat, terutama muslim bahkan menancapkan ketakutan terhadap umat untuk mengenali agamanya secara benar.
Moderasi beragama bukanlah ide baru melainkan proyek lama agen kafir barat dalam memerangi Islam politik. Barat sadar jika eksistensi ideologi mereka terancam dengan adanya ideologi Islam. Peradaban kapitalis barat sangat tidak mungkin bersatu dengan Islam ibarat air yang tidak akan pernah bisa menyatu dengan minyak. Sehingga, berbagai cara mereka lakukan untuk menghilangkan agama Islam dari kehidupan dunia.
Indonesia menjadi sasaran empuk ide moderasi beragama sebagaimana diketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas muslim terbanyak. Pada 2015, Indonesia menempati posisi teratas dunia, bahkan jumlah pemeluk Islam bertambah menjadi 219,9 juta jiwa (pewresearch.org).
Inilah yang menjadi landasan barat ingin merontokkan ide-ide Islam yang sudah tersebar di Indonesia dan mencoba menanamkan ide-ide kafir mereka dalam tatanan kehidupan Indonesia.
Moderasi Beragama, Arahan dan Sesat Pikir Barat
Dalam Konferensi Alumni Al-Azhar untuk Indonesia (2018), Tuan Guru Bajang (TGB) sebagai salah satu motor penggerak moderasi di Indonesia kala itu menyampaikan pentingnya moderasi Islam. Menurutnya, dalam beragama perlu mempertimbangkan kehidupan berbangsa, bukan hanya pertimbangan pribadi. Ia menambahkan, sekadar berorientasi pada pribadi akan memaknai agama dengan sempit. (MuslimahNews.com, FOKUS/2021)
Waspada! Pernyataan-pernyataan semacam inilah yang memicu adanya moderasi beragama. Banyaknya cendekiawan dan orang pintar yang telah tersentuh ide moderasi bisa menjadi ancaman bagi muslim yang belum memahami Islam dengan benar. Sehingga, dengan mudah mereka akan menerima ide-ide moderasi beragama yang coba disampaikan oleh para cendekiawan dan orang pintar tadi.
Ide-ide moderasi beragama makin langgeng dengan adanya dukungan dari umat non muslim. Pada 2019, 36 uskup di wilayah Gereja Katolik se-Indonesia bertemu dengan Paus Fransiskus di Vatikan. Dalam pertemuan itu, Paus meminta para uskup ikut membantu menerapkan deklarasi persaudaraan yang ditandatanganinya di Abu Dhabi, Februari 2019. Adapun isi deklarasi Abu Dhabi tersebut menegaskan komitmen Al-Azhar dan Vatikan untuk bekerja sama memerangi ekstremisme.
Perlu diketahui, kata ekstremisme, radikalisme dan terorisme diarahkan pada Islam politik, yakni kelompok atau ormas Islam yang vokal menyuarakan Islam diterapkan sebagai ideologi negara. Berbeda halnya ketika tindakan ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme dilakukan oleh non muslim maka seolah tidak ada pejabat tinggi negara yang berani mengutuk aksi-aksi mereka. Sehingga, jelas bahwa pemerintah dan segelintir elit yang membenci Islam tidak benar-benar ingin memerangi aksi ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme melainkan hanya ingin memerangi Islam.
Tindakan memerangi aksi ekstrimisme, radikalisme, dan terorisme adalah bagian dari kampanye global yang sudah lama diagendakan barat. Hal ini merupakan bentuk kesesatan berpikir yang coba dicokolkan ke dalam jiwa kaum muslimin. Sehingga, sebagai muslim sejati perlu mengampanyekan kepada khalayak tentang ideologi Islam yang merupakan solusi terbaik atas setiap permasalahan kehidupan yang akut.
Islam Solusi Hakiki
Umat Islam sudah lama dijajah pemikirannya dengan ide-ide kafir barat. Sayangnya mereka tidak menyadari akan hal ini. Padahal, barat sangat sadar jika eksistensi Islam mampu meruntuhkan ideologi kafir mereka.
Sebagai umat muslim wajib mengimani bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Salah satu cara memerangi moderasi beragama yakni dengan mempelajari Islam dan mendakwahkannya di tengah-tengah umat agar tercipta pemahaman yang sempurna tentang ideologi Islam.
Banyak nas Al-Qur’an maupun hadis yang memerintahkan kaum muslim untuk bersungguh-sungguh mempelajari Islam. Allah Swt., misalnya, berfirman, “Katakanlah, “Samakah orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sungguh orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS az-Zumar [39]: 9)
Kewajiban mempelajari Islam agar umat Islam tidak mudah terseret arus moderasi beragama. Pemahaman Islam yang kokoh bisa memerangi ide-ide moderasi beragama yang banyak bertebaran dalam tatanan kehidupan kapitalis demokrasi.
Sehingga, setiap muslim wajib meyakini segala kebenaran yang datang dari Islam dan hanya islamlah satu-satunya agama yang benar di sisi Allah. Kerusakan dan kehancuran yang terjadi akhir-akhir ini akibat penerapan sistem sekuler buatan kafir barat. Dengan demikian, sudah saatnya umat muslim membuka mata atas kerusakan sistem ini dan berusaha kembali pada aturan yang benar buatan Allah SWT. Wallahu alam biisowwab.
Penulis : Zulhilda Nurwulan (Relawan Opini Kendari)
Publisher : Yusrif Aryansyah