Islam Moderat, Jalan Baru Mengaborsi Syariat

Sartinah (Pemerhati Masalah Publik)

TEGAS.CO,. NUSANTARA – “Jangan terlalu dalam mempelajari agama.” Demikian potongan tausiah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD/KASAD) Jenderal Dudung Abdurachman di Masjid Nurul Amin, Jayapura, Provinsi Papua. Jenderal Dudung juga mengatakan, dampak terlalu dalam mempelajari agama adalah terjadinya penyimpangan.

Cuplikan tausiah tersebut sontak memantik beragam komentar di masyarakat. Salah satunya dari Ketua MUI Muhammad Chalil Nafis. Beliau mempertanyakan maksud dari ucapan Jenderal Dudung tersebut. Chalil menyatakan, sebaiknya Jenderal Dudung fokus pada tugas dan kewenangannya sebagai KSAD. Karena agama bukan tupoksinya, bukan wilayahnya, sehingga sering disalahpahami. (detiknews.com, 6/12/2021)

Sepanjang 2021, pengarusan moderasi beragama memang masif digaungkan. Targetnya mulai dari instansi pemerintah hingga merambah ke sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Tujuannya jelas, menjadikan seluruh komponen negeri ini menampilkan wajah Islam yang moderat dan toleran.

Agenda Moderasi

Kesadaran kaum muslim untuk menjalankan agamanya secara kafah, manjadikan kaum kafir tidak tinggal diam. Berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan sikap fanatisme kaum muslim terhadap agamanya.

Cara tersebut sebagaimana yang direkomendasikan oleh RAND Corporation dalam rangka menghadapi Islam yang mereka sebut ‘radikal’. Salah satunya dengan promosi jaringan moderat, mengganggu jaringan liberal, melibatkan umat Islam dalam politik demokrasi, dan melibatkan kalangan perempuan.

Upaya-upaya menyerang Islam di balik ide moderasi agama lambat laun mulai diterapkan di negeri ini. Misalnya pada awal 2021, pemerintah mengesahkan Perpres 7/2021 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN-PE). Pada Mei 2021, Kemenag berhasil berhasil membuat peta jalan penguasaan moderasi beragama yang menjadi panduan tidak hanya oleh Kemenag, melainkan instansi terkait lainnya.

Kemudian pada September 2021 Kemenag merilis pedoman penguatan moderasi beragama dalam acara, “Aksi Moderasi Beragama: Menyemai Nilai-Nilai Moderasi Beragama dan Kebhinekaan” serta merilis berbagai pedoman pelaksanaan moderasi beragama bagi guru dan siswa. Juga di akhir Oktober 2021, Kemenag telah menggelar Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-20 yang merupakan miniatur kajian Islam Indonesia yang terbuka dan moderat. Semua agenda tersebut menjadi bukti keseriusan Barat menghancurkan Islan dan kaum muslim.

Menyerang Islam

Rand Corporation telah menjadikan Indonesia sebagai poros Islam moderat sekaligus menjadi penjaganya. Islam moderat terus dipropagandakan dengan alasan masyarakat negeri ini sangat plural, sehingga hanya mampu dipersatukan dengan Islam moderat.

Sayangnya, moderat menurut mereka adalah toleran terhadap nilai-nilai Barat, menjunjung tinggi pluralisme, dan sebagainya. Alih-alih mempersatukan bangsa, moderasi Islam justru memecah belah umat.

Pengarusan moderasi beragama sangat masif di semua sektor kehidupan. Perlu diketahui, suatu proyek apa pun tidak mungkin berjalan dengan mulus tanpa adanya sokongan dana.

Begitu pula dengan pengarusan moderasi beragama guna menciptakan masyarakat yang modern, moderat, liberal, demokratis, dan lain-lain. Anggaran moderasi beragam tahun ini sebesar Rp3,2 triliun yang sebelumnya hanya Rp400 miliar.

Jika ditelisik lebih dalam, moderasi beragama merupakan agenda global untuk menjauhkan kaum muslimin dari pemahaman agama yang lurus. Alih-alih menciptakan masyarakat yang toleran, moderasi Islam justru mengaborsi nilai-nilai Islam yang hakiki.

Membentuk masyarakat yang apatis terhadap agamanya, juga mencetak agen-agen moderasi. Hal ini jelas berbahaya bagi umat Islam. Slogan-slogan moderasi seperti pluralisme, liberalisme sejatinya adalah langkah-langkah strategis untuk menghadang kebangkitan Islam politik.

Membendung Moderasi dengan Islam

Masifnya pengarusan moderasi agama mengakibatkan umat jauh dari pemahaman Islam yang hakiki. Umat Islam justru terkotak-kotak dan saling bermusuhan. Inilah yang diinginkan Barat dari program moderasi agama. Musuh-musuh Islam pun menyadari bahwa bersatunya kaum muslim dalam satu kepemimpinan akan mengoyak eksistensi mereka.

Karena itu, Barat terus menggunakan seluruh daya dan upayanya agar umat Islam jatuh hingga tidak mampu bangkit kembali. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Lord Curzon (mantan Perdana Menteri Inggris) sesaat setelah keruntuhan Khilafah Utsmani oleh Mustafa Kemal. “Kita telah berhasil meruntuhkan kekuatan umat Islam dan memastikan mereka tak akan bangkit kembali, karena kita telah menghapus dua kekuatannya, yakni Islam dan khilafah.

Jika menilik masa kejayaan Islam, masyarakat saat itu juga plural. Namun, Rasulullah saw. mampu menyatukan mereka di bawah akidah Islam dan hukum-hukumnya. Alhasil, persatuan umat Islam hanya bisa terjadi dengan diterapkannya syariat Islam secara kafah dalam bingkai khilafah.

Di bawah kepemimpinan Islam, umat benar-benar dijaga dari seluruh pemikiran merusak berbaju moderasi agama. Wallahu ‘alam bishshawab

Penulis : Sartinah (Pemerhati Masalah Publik)

Publisher : Yusrif Aryansyah

Komentar