Berita UtamaMunaSultra

Liangkabori Muna, Galeri Prasejarah Terbuka Warisan Peradaban Nusantara Timur

928
×

Liangkabori Muna, Galeri Prasejarah Terbuka Warisan Peradaban Nusantara Timur

Sebarkan artikel ini
Gua Liangkabori. dok: jsr/tegas.co

TEGAS.CO, MUNA, SULAWESI TENGGARA – Kawasan karst Liangkabori di Kabupaten Muna terus menegaskan posisinya sebagai salah satu situs prasejarah terpenting di Indonesia bagian timur.

Wilayah yang dikenal sebagai “Gua Bertulis” ini menyimpan ratusan lukisan cadas yang merekam jejak kehidupan, sistem kepercayaan, serta evolusi sosial masyarakat prasejarah yang pernah menghuni Pulau Muna ribuan tahun lalu.

Hingga pertengahan 2025, hasil inventarisasi terbaru mencatat sedikitnya 43 hingga 48 gua dan ceruk dengan lukisan prasejarah di kawasan Liangkabori.

Jumlah tersebut meningkat dari data sebelumnya yang mencatat sekitar 38 gua, seiring ditemukannya beberapa situs baru seperti Brin Lansirata dan Brin Lakantobe.

Penemuan ini memperkaya khazanah arkeologi Sulawesi Tenggara dan memperkuat dugaan bahwa Liangkabori merupakan pusat aktivitas budaya manusia purba yang berkelanjutan.

Lukisan-lukisan cadas di Liangkabori menampilkan beragam motif, mulai dari figur manusia, hewan, perahu, cap tangan, hingga simbol-simbol geometris dan abstrak.

Sebagian besar gambar dibuat menggunakan pigmen alami berwarna merah, hitam, dan coklat, yang berasal dari mineral lokal.

Para peneliti mencatat lebih dari 350 panel lukisan yang tersebar di sekitar 40 gua, menunjukkan tingkat kesadaran simbolik dan kemampuan refleksi sosial yang tinggi pada masyarakat prasejarah setempat.

Dua situs utama menjadi sorotan dalam kajian arkeologi kawasan ini, yakni Gua Liangkabori dan Liang Metandono.

Gua Liangkabori dikenal sebagai ikon utama dengan koleksi mural prasejarah yang menggambarkan kehidupan sosial, interaksi manusia dengan alam, serta teknologi transportasi air melalui motif perahu.

Sementara itu, Liang Metandono memiliki intensitas lukisan yang sangat tinggi dan memberikan gambaran lebih detail tentang pola hidup masyarakat agraris dan pastoral prasejarah.

Keunikan Liangkabori tidak hanya terletak pada seni cadasnya, tetapi juga pada keberlanjutan sejarahnya.

Dalam satu kawasan yang sama, ditemukan pula kompleks makam raja-raja Muna, termasuk Makam Raja Muna II Sugi Patola, serta struktur benteng pertahanan.

Keberadaan unsur prasejarah dan sejarah kerajaan ini mencerminkan kesinambungan kepercayaan, struktur sosial, dan identitas politik masyarakat Muna dari masa ke masa.

Dari perspektif antropologi, para peneliti menilai bahwa gua-gua di Liangkabori tidak semata berfungsi sebagai tempat berlindung, melainkan juga sebagai ruang ritual dan spiritual.

Motif-motif geometris dan abstrak diduga berkaitan dengan praktik simbolik tertentu, termasuk komunikasi dengan leluhur atau representasi kosmologi lokal.

Hal ini menegaskan bahwa seni cadas di kawasan tersebut melampaui fungsi utilitarian dan menjadi medium ekspresi budaya yang kompleks.

Perhatian pemerintah terhadap situs ini juga semakin meningkat. Pada Juli 2025, Gua Liangkabori resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Selain itu, wacana pengembangan kawasan karst Muna sebagai bagian dari Geopark Nasional terus digulirkan, guna mengintegrasikan pelestarian geologi dan warisan budaya.

Upaya promosi dan edukasi publik dilakukan melalui Festival Liangkabori 2025 yang digelar pada 11–18 Juli 2025 dengan tema “Lestarikan Budaya Leluhur, Daseise Lalo Damowanu Liwu”.

Festival ini melibatkan masyarakat lokal dan menampilkan berbagai kegiatan budaya, termasuk lomba Kaghati Kolope, layang-layang tradisional khas Muna.

Meski demikian, tantangan pelestarian masih membayangi. Vandalitas akibat pengunjung yang tidak terkontrol serta keterbatasan pemandu dan pengawasan lapangan menjadi ancaman serius bagi kelestarian lukisan cadas.

Untuk mengatasinya, pemerintah dan peneliti mulai mendorong kolaborasi dengan komunitas lokal sebagai mitra konservasi, sekaligus mengembangkan pariwisata budaya yang berkelanjutan.

Dengan nilai sejarah, ilmiah, dan budaya yang tinggi, Liangkabori tidak hanya menjadi aset daerah, tetapi juga bagian penting dari narasi besar peradaban awal manusia di Indonesia.

Pelestarian yang konsisten dan riset lanjutan dinilai krusial agar warisan ini tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Laporan: JSR

Editor: Yusrif