
TEGAS.CO., BUTON UTARA – Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap Kardin (37), warga Desa Banu-banua Jaya yang hilang di perairan Ereke, Buton Utara, kini telah memasuki hari keempat, Rabu (25/3/2026).
Di balik pengerahan teknologi canggih dan puluhan personel gabungan, terselip kronologi janggal yang menyelimuti hilangnya pria tersebut.
Kepala KPP (Basarnas) Kendari, Amiruddin A.S., menyatakan bahwa tim gabungan telah memulai penyisiran sejak pukul 07.00 WITA dengan membagi kekuatan menjadi dua tim utama:
- Tim 1 (Sektor Luas): Menggunakan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan longboat untuk menyisir area seluas 5,5 NM².
- Tim 2 (Sektor Pesisir): Fokus pada area pesisir timur Pulau Pombelaa, mulai dari sisi selatan Pulau Loilaya hingga pintu masuk Desa Tanah Merah dengan luas pencarian 0,89 NM².
”Kondisi cuaca di lapangan terpantau berawan dengan tinggi gelombang antara 0,25 hingga 0,5 meter. Kecepatan angin mencapai 8 km/jam dari arah barat laut, yang secara teknis masih dalam kategori aman untuk operasi,” jelas Amiruddin dalam rilis resminya.
Pencarian kali ini tidak hanya mengandalkan penyisiran visual. Basarnas mengerahkan alat-alat mutakhir untuk mempercepat deteksi, di antaranya: aquaeye, alat pemindai bawah air untuk mencari objek manusia di kedalaman, drone untuk memantau area rawa dan hutan bakau dari udara yang sulit dijangkau kapal.
“Kemudian starlink untuk menjamin konektivitas komunikasi tanpa hambatan bagi tim di lapangan,” kata Amiruddin.
Operasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Staf Ops KPP Kendari, Pos SAR Wakatobi, Polair Buton Utara, BPBD, hingga Babinsa setempat.
Tak hanya petugas, para nelayan sekitar dan pihak keluarga korban juga terlibat aktif menyisir perairan Ereke, berharap ada titik terang dari hilangnya sang ayah dan suami tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berjuang melawan waktu untuk menemukan keberadaan Kardin.
Publisher: Yusrif