Berita UtamaSultra

Target Stunting Sultra 17 Persen, Ambisi Besar di Tengah Ancaman Defisit Gizi

×

Target Stunting Sultra 17 Persen, Ambisi Besar di Tengah Ancaman Defisit Gizi

Sebarkan artikel ini
Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua saat memberi arahan dalam Pertemuan Evaluasi Intervensi Spesifik Stunting yang dihadiri seluruh jajaran Dinas Kesehatan kabupaten/kota di Hotel Claro Kendari, Rabu (8/4/). dok: ppid utama sultra

TEGAS.CO,. SULAWESI TENGGARA – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menghadapi tantangan berat untuk memangkas angka prevalensi stunting yang saat ini masih tertahan di angka 26,1 persen. Untuk mencapai target ambisius 17 persen pada akhir tahun 2026, pemerintah daerah dituntut melakukan lebih dari sekadar koordinasi rutin di atas kertas.

Wakil Gubernur Sultra, Hugua, mengakui bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) di Sultra sedang dipertaruhkan. Hal ini ia sampaikan dalam Pertemuan Evaluasi Intervensi Spesifik Stunting yang dihadiri seluruh jajaran Dinas Kesehatan kabupaten/kota di Hotel Claro Kendari, Rabu (8/4/2026).

“Stunting adalah dampak langsung dari kegagalan pemenuhan gizi esensial. Jika ini dibiarkan, produktivitas fisik dan mental generasi kita akan cacat secara permanen,” tegas Hugua dalam arahannya.

Angka 17 persen yang dipatok Pemprov Sultra berarti mengharuskan penurunan sekitar 9 persen dalam periode yang sangat singkat. Jarak ini dianggap cukup lebar mengingat rata-rata nasional yang kian kompetitif. Tanpa kerja keras luar biasa, Sultra berisiko tetap menjadi daerah dengan kontribusi stunting yang signifikan di Indonesia.

Pemerintah mengeklaim akan memperkuat dua jalur utama, pertama, promosi edukasi dengan menyasar pola makan ibu hamil dan balita. Kedua, layanan kuratif melalui penanganan medis bagi anak yang sudah terkena stunting dengan penyakit penyerta

Kritik utama seringkali muncul pada lemahnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota dalam eksekusi lapangan. Hugua menekankan bahwa mulai tahun ini, perencanaan hingga evaluasi harus dilakukan secara terintegrasi, bukan berjalan sendiri-sendiri.

“Intervensi harus tepat sasaran. Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan lama jika ingin hasil yang berbeda,” tambahnya.

Selain masalah medis, Pemprov Sultra juga menyoroti hambatan budaya. Kebiasaan pola asuh dan konsumsi masyarakat lokal yang tidak sehat menjadi faktor pengganjal yang selama ini sulit ditembus oleh program pemerintah. Evaluasi berkala yang dijanjikan setiap pertengahan dan akhir tahun akan menjadi tolok ukur apakah komitmen ini benar-benar berjalan atau hanya menjadi agenda tahunan tanpa dampak nyata bagi balita di Sultra.

PUBLISHER: REDAKSI