Berita Utama

Berhijab Bentuk Ketaatan, Hijab di Bahas, Liberal di Libas

93
×

Berhijab Bentuk Ketaatan, Hijab di Bahas, Liberal di Libas

Sebarkan artikel ini
Irma Ismail (Aktivis Muslimah Balikpapan)

TEGAS.CO., NUSANTARA – Hijab kembali di bahas dalam perspektif feminis di sebuah video melalui akun Twitter,@dw_indonesia Jumat 25/9/2020 yang mewawancarai perempuan yang mewajibkan putrinya mengenakan hijab sejak kecil, juga mewawancarai seorang psikolog yang menyatakan dampak psikologis bagi anak-anak yang sejak kecil diharuskan memakai jilbab, dimana anak-anak itu belum paham betul konsekuensi dari mengenakan hijab. DW juga mewawancarai seorang feminis yang juga salah satu pendiri JIL (Jaringan Islam Liberal), Nong Darol Mahmada, yang menyatakan tentang kekhawatirannya kepada pola pikir si anak itu menjadi eksklusif karena sedari kecil ditanamkan untuk berbeda dari yang lainnya. (JurnalGaya 26/9/2020).

Postingan DW Indonesia pun mendapat serangan netizen, salah satunya dari Fadli Zon, anggota DPR melalui akun twitternya menyatakan “Liputan ini menunjukkan sentiment “Islamofobia” n agak memalukan utk kelas @dwnews”. Balasan dari ciutan @dw_indonesia ternyata semakin mendapat reaksi dari netizen Indonesia, apalagi pihak DW tidak menyertakan pendapat dari Alim Ulama tetapi pendapat psikologi dan feminis. Dan balasan bersambut dari netizen yang lain, di antaranya Dari @cleomaharanizo “Kerudung dan jilbab adalah kewajiban dlm Islam, menanamkan prinsip wajib pd anak2 tentu dg cara yg menyenangkan, menentramkan, tanpa paksaan, & sejak dini karena membutuhkan proses dan waktu yang tdk sedikit”. (@geloranews,26/9/2020).

Ini bukanlah kali pertama, ketika Islam dan Syariatnya di usik oleh kaum liberal dan jaringannya. Dan ketika syariat di artikan dari kacamata kaum liberal, moderat atau sejenisnya, maka akan terjadi perubahan makna sesuai dengan keinginan dan interpretasi mereka, tidak lagi menjadikan Alqur-an dan Assunah sebagai rujukannya tetapi menggunakan akal semata . Berlindung di balik hak asasi manusia, terus mengkampanyekan pluralisme (semua agama adalah sama), jangan merasa benar sendiri dan itu jelas menunjuk kepada Islam, bahkan Islam selalu ditekan untuk lebih toleran kepada agama lain atau menghormati pilihan orang yang tidak melaksanakan kewajibannya. Termasuk mengkritisi bagaimana proses pendidikan anak, dimana mengajarkan untuk melatih ketaatan kepada anak di anggap sesuatu yang salah, merampas hak anak. Juga mempermasalahkan kerudung dan jilbab yang di anggap pilihan dan bukan kewajiban. Dan banyak hal lainnya. Lantas apa tujuan kaum liberal dengan sepak terjangnya ?

Tujuannya jelas untuk membuat umat Islam jauh dari syariatnya, bahkan syariat bisa di anggap ancaman atau sesuatu yang menakutkan bahkan bagi pemeluknya sendiri. Berasas sekularisme, kaum liberal beranggapan bahwa agama hanya mengatur dalam hal ibadah ritual saja tapi tidak dalam hal kehidupan sosial lainnya, maka jelas terlihat bagaimana usahanya dalam membuat narasi-narasi yang menyudutkan kaum muslim yang taat pada aturan Allah diluar ibadah ritualnya, dan terus menekankan tentang kebebasan pribadi dalam berekspresi. Bahkan akan di anggap eksklusif jika merasa benar sendiri dan berbeda, termasuk bagi Muslimah yang menutup aurat. Kebebasan berekspresi, bertingkah laku, dan tanpa aturan, adalah hal yang diinginkan sebagai bentuk pemahamannya bahwa Islam hanya mengatur dalam ibadah saja .

Kebebasan yang di agungkan jelas akan menghantarkan kepada jurang kenistaan dan kehancuran. Pergaulan bebas, kehamilan diluar pernikahan hingga aborsi, dunia gemerlap malam adalah fakta yang nyata terlihat dan bahkan ada di hadapan kita. Jangankan orang lain, bahkan dirinya pun tidak menghormati dirinya sendiri. Satu hal yang harusnya menjadi renungan bagi kaum liberal ini, apakah kerusakan itu karena mengikuti aturan Allah atau karena melanggar aturan Allah ? atau memang kehidupan seperti ini yang diinginkan, bebas tak terkendali ? Lantas apakah dengan modal ini akan membangun bangsa yang beradab ?

Manusia diberikan pilihan untuk memilih oleh Sang Pencipta, namun manusia juga dibekali akal untuk bisa memilih dan membedakan mana yang Haq dan yang batil, dan sesuai dengan fitrahnya akal akan cenderung pada yang Haq. Dan Islam adalah agama yang tuntunannya sesuai dengan fitrah manusia, maka akal dalam Islam adalah sebagai sarana untuk dapat memahami Islam dengan baik dan benar, bukan kemudian menjadikan akal sebagai penentu atas hukum yang akan di terapkan. Maka berilmu tanpa keimanan akan menyesatkan, membuat jauh dari Islam.

Islam mengajarkan pluralistis yaitu mengakui keberagaman beragama, dan mengharamkan pluralisme yaitu pengakuan bahwa semua agama adalah sama. Bahwa semua agama punya Tuhan masing-masing yang di sembah, tetapi cara masing-masing agama dalam mengatur ibadah kepada Tuhannya dan kehidupan umatnya jelas berbeda. Sebagaimana Islam mempunyai cara beribadah dan aturan hidup yang tidak sama dengan agama yang lain, dan Islam menghormati perbedaan itu. Maka sebagai muslim harusnya paham bahwa kehidupan seorang muslim ya akan diatur dengan norma-norma Islam bukan dengan norma-norma yang lain, apalagi sampai membuat aturan sendiri.

Dan sebagai seorang muslim, mendidik anak adalah kewajiban orang tua. Maka mengenalkan aturan beragama dari usia dini adalah sebuah keniscayaan, membiasakan anak-anak untuk dapat melaksanakan dengan konsep keimanan dan pemahaman adalah pembelajaran bagi sang anak sejak awal, bahwa Islam punya aturan yang menyeluruh, Tujuannya agar kelak ketika di usia baligh, dimana seorang anak manusia akan bertanggung jawab atas pilihan perbuatannya, mereka sudah siap dan terbiasa melakukan hal yang diwajibkan dalam agama dan menjauhi apa yang di larang. Termasuk mengenakan kerudung bagi anak-anak perempuan adalah cara membiasakan mereka untuk belajar menutup aurat, termasuk batasan aurat bagi laki-laki, serta batasan interaksi dengan lawan jenis, juga melatih berpuasa atau sholat bagi anak-anak dan lainnya. Semua itu adalah cara bagaimana kewajiban orangtua dalam mendidik anaknya mengenalkan agamanya.

Maka pendidikan agama sejak dini bukan untuk membuat anak-anak menjadi eksklusif, tetapi untuk menunjukkan jati diri mereka sebagai seorang muslim. Dan anak pun paham bahwa ini adalah bentuk tanggung jawab orang tua kepada Allah nantinya. Maka dalam mendidik anak komunikasi dua arah harus berjalan. Inilah salah satu cara Islam menjaga dan memuliakan perempuan, yaitu dengan menutup auratnya serta menjaga interaksi pergaulan dengan lawan jenis. Tidak melarang berteman dengan lawan jenis tetapi membatasi pada interaksi yang dibenarkan oleh syara.

Dan semua semakin lengkap ketika pengawasan masyarakat, lingkungan , aturan serta negara juga berperan. Ada batas norma antar agama yang memang harus dijaga dan dihormati sebagai sebuah perbedaan keyakinan, tidak masuk untuk mengurusi keyakinan yang sudah jelas berbeda. Maka negara harusnya menjaga Aqidah umatnya dari pemahaman yang menyesatkan yang berusaha mengaburkan atau merusaknya. Dan Islam pernah membuktikan itu, dalam masa keemasan Islam, agama yang berbeda dapat hidup berdampingan, dan Daulah Islamiyah menjaganya dengan baik, tanpa membedakan agama, ras atau suku.

Penulis: Irma Ismail {Aktivis Muslimah Balikpapan)
Editor: H5P