Marak Kekerasan, Jaminan Keamanan Negara Dipertanyakan

 

Marak Kekerasan, Jaminan Keamanan Negara Dipertanyakan
Safitri Fathin Rahayu (Aktivis Dakwah Remaja)

TEGAS.CO, NUSANTARA – Amarah dan dendam seringkali menjadikan seseorang gelap mata.
Dan ini begitu meresahkan. Dari hari ke hari kabar penganiayaan dan pembunuhan terus bermunculan.

Belum lama ini, di Sulawesi Selatan, seorang bayi perempuan berusia 4 bulan dibanting pamannya hingga tewas di Dusun Parenggi, Desa Mattoangin, Bantimurung, Kabupaten Maros.
Insiden itu diduga dipicu usai paman dari bayi tersebut terlibat pertengkaran hebat dengan adiknya sendiri yang tak lain merupakan ibu dari bayi itu.

Peristiwa tersebut terjadi, Sabtu (22/10/2022). Bayi tersebut ditemukan tewas di kamar rumah dengan kondisi penuh luka dan isi kepala berceceran. (kompas.com)

Di Medan seorang suami menghabisi nyawa istrinya dengan membacok berulang kali. Dia melakukan hal itu berawal dari keributan mengenai anak mereka.

Peristiwa sadis itu terjadi pada Sabtu (22/10/2022) malam di jalanan yang berada di wilayah Jalan Mandala By Pass, Medan. Kapolsek Percut Sei Tuan, Kompol Agustiawan mengatakan, awalnya korban mendatangi pelaku untuk meminta anak mereka yang sedang sama pelaku. Saat bertemu, terjadi keributan antara korban dan pelaku
Konflik rumah tangga dan hak asuh anak diduga menjadi pemicu. (Detik.sumut)

Selanjutnya yang sedang santer, beredar kabar pembunuhan yang dilakukan eks pendeta muda (R) pada rekannya (AYR). Pelaku (R) melakukan searching di internet bagaimana cara membunuh tanpa suara. Itu dipelajari selama 3 hari.
Pembunuhan ini dipicu karena masalah bisnis dan merasa dikhianati teman dalam circlenya.

Sebelum itu, Rudolf mengajak Icha untuk melakukan siaran podcast bersama di sebuah kamar Apartemen di kawasan Jakarta Pusat. Rudolf berdalih jika siaran podcast disponsori oleh salah satu produk kalung kesehatan.

Icha diminta Rudolf untuk berpura-pura menjadi korban penculikan dengan tangan dan kakinya diikat.

Icha yang tidak menaruh curiga kepada Rudolf mengikuti kemauan dari tersangka. Nahas, momen itu yang justru menjadi awal mula petaka kepadanya terjadi. (Tribunnews.com)

Ini baru secuil, diantara sekian banyak kasus yang tidak viral. Sungguh ini menjadikan kita merasa was-was. Karena banyak kasus penganiyaan ataupun pembunuhan dilakukan oleh orang terdekat. Suami, adik/paman, maupun teman se-circle.

Keamanan dan perlindungan tergantung pada masing-masing individu. Yang punya dana bisa membayar body guard untuk menjamin keamanan untuk diri dan keluarganya.

Namun ini tidak berlaku rakyat jelata. Mereka yang tak pernah terpikir akan dibunuh, akan merasa aman-aman saja berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya. Namun siapa kira, keluarga maupun teman dekat yang dirasa aman dengannya, justru menjadi orang yang sangat berbahaya.

Sedangkan penguasa tak turut andil banyak dalam menyelesaikan problem penganiayaan dan pembunuhan yang marak di tengah masyarakat. Dalam sistem kapitalisme-sekuler, negara gagal memberikan keamanan bagi rakyatnya.

Kenapa kasus penganiyaan dan pembunuhan bisa terus menerus terjadi?

Di sini kita bisa lihat ada dua faktor. Yang pertama adalah dari sisi individu. Mayoritas individu yang minim, bahkan tidak meyakini ada Pada yang mengawasi dan pertanggungjawaban amal di akhirat, menjadikan banyak orang tidak lagi takut dosa.

Selain itu budaya kebebasan seringkali menjadikan orang kebablasan, bahkan buntutnya akan meremehkan nyawa manusia.

Faktor yang kedua adalah lemahnya penegakan hukum. Di negeri kapitalis ini hukum bisa dibeli, asal dia punya uang.
Selain itu, bentuk hukuman yang ringan tidak banyak memberi efek jera.

Jika kedua faktor tersebut dibiarkan begitu saja, maka masyarakat akan semakin rusak. Dan kasus penganiyaan yang berakhir pembunuhan akan sulit dihentikan.

Ini semua merupakan dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme – sekuler. Dimana dalam sistem ini, meniscayakan pemisahan agama dari kehidupan. Yang berimbas pada tata aturan kehidupan sangat kering dan justru memunculkan banyak permasalahan.

Lantas sistem apa yang mampu menjamin keamanan?

Dalam Islam, menjaga jiwa/nyawa, harta dan kehormatan merupakan kewajiban negara. Maka keamanan merupakan hal yang tiap rakyat berhak menerima.

Untuk pencegahan di ranah individu, negara akan menjaga aqidah dan jiwa umat. Sistem pendidikan Islam akan membangun aqidah yang lurus dan kokoh. Yang buah dari aqidah tersebut, umat akan berhati-hati dalam berucap dan bertindak.

Selain itu sanksi yang ditegakkan adalah sanksi yg diambil dari sumber hukum Islam, kitabullah, yang tidak diragukan keadilannya.

Sanksi dalam Islam berfungsi sebagai pencegah dan memberi efek jera, juga sebagai penebus dosa. Seperti hukuman qishos bagi pembunuh. Orang yang membunuh, hukumannya adalah dibunuh.

Dengan adanya sanksi seperti ini, individu akan berpikir ulang jika hendak membunuh. Namun jika sudah terlanjur membunuh, maka sanksi yang ditegakkan akan menebus dosanya di akhirat. Pelaku pembunuhan memiliki kesempatan untuk taubat nasuha sebelum dieksekusi.

Alhasil, jika dari ranah individu sudah dibangun aqidah yg kuat dan menjadi pribadi yang takut maksiat, kemudian di tengah masyarakat diberlakukan sistem Islam yang memunculkan suasana yang islami, dan juga adanya ketegasan penerapan hudud, seluruh rangkaian ini akan mampu memutus rantai besar tindak kriminal yang merebak di masyarakat.

Wallahu a’lam bi showab.

Penulis : Safitri Fathin Rahayu (Aktivis Dakwah Remaja)

Publisher : Mahidin

Komentar