Baubau dan Kolaka Terdampak Gempa M 7,7, Flores BMKG Resmi Akhiri Peringatan Dini Tsunami

Views: 17

Baubau dan Kolaka Terdampak Gempa M 7,7, Flores BMKG Resmi Akhiri Peringatan Dini Tsunami
Baubau dan Kolaka Terdampak Gempa M 7,7, Flores BMKG Resmi Akhiri Peringatan Dini Tsunami

JAKARTA, TEGAS.CO – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mencabut peringatan dini tsunami pascagempa bumi tektonik magnitudo M7,7 (pemutakhiran dari M7,0) yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58.23 WIB.

Pencabutan status peringatan dini tsunami dilakukan pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pengamatan stasiun pemantau pasang surut air laut (tide gauge) di berbagai wilayah pesisir menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc., mengonfirmasi bahwa seluruh rangkaian pemantauan tinggi gelombang tsunami telah dinyatakan selesai.

“Dengan memperhatikan kondisi terkini terkait hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. Maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB,” ujar Wijayanto dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (15/8/2026).

Parameter Gempa dan Mekanisme Sumber

Hasil analisis pemutakhiran BMKG menunjukkan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT.

Pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman hiposenter dangkal yaitu 15 kilometer.

BMKG menjelaskan bahwa dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi ini merupakan jenis gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar naik belakang busur Flores (Flores Back-Arc Thrust).

Analisis mekanisme sumber mengindikasikan struktur patahan bergerak secara naik (thrust fault).
Kronologi Peringatan Dini dan Rekaman Tsunami sesaat setelah guncangan terjadi, BMKG merilis Peringatan Dini Tsunami 1 pada pukul 05.00.39 WIB atau hanya 2 menit 16 detik usai guncangan utama.

Dalam peringatan awal tersebut, sejumlah wilayah pesisir sempat ditetapkan dalam status SIAGA (potensi gelombang 0,5 hingga 3 meter), meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto.

Sementara status WASPADA (potensi gelombang di bawah 0,5 meter) dikeluarkan untuk wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo.

Berdasarkan pengamatan stasiun pasang surut laut di lapangan, gelombang tsunami akibat gempa ini tercatat tiba di sepuluh lokasi dengan rincian sebagai berikut:

Sikka tercatat pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 0,2 meter.

Pelabuhan Kewapante, Sikka tercatat pukul 05.16 WIB dengan ketinggian 0,38 meter.

Flores Timur tercatat pukul 05.24 WIB dengan ketinggian 0,25 meter.

Labuan Bajo tercatat pukul 05.26 WIB dengan ketinggian 0,36 meter.

Maurole, Ende tercatat pukul 05.27 WIB dengan ketinggian tertinggi mencapai 0,94 meter.

Dompu tercatat pukul 05.29 WIB dengan ketinggian 0,17 meter.

Bakalang, Alor tercatat pukul 05.41 WIB dengan ketinggian 0,14 meter.

Baubau tercatat pukul 05.47 WIB dengan ketinggian 0,30 meter.

Bulukumba tercatat pukul 05.58 WIB dengan ketinggian 0,54 meter.

Kolaka tercatat pukul 06.27 WIB dengan ketinggian 0,23 meter.

BMKG melakukan pemutakhiran data secara berkala sebanyak empat kali melalui Peringatan Dini 3 (pukul 05.55 WIB, 06.28 WIB, 06.49 WIB, dan 07.05 WIB) sebelum akhirnya menerbitkan Peringatan Dini 4 (pengakhiran) tepat pada pukul 07.30.00 WIB, atau 2 jam 31 menit setelah guncangan gempa.

Dampak Guncangan dan Puluhan Gempa Susulan

Pemutakhiran peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan dampak gempa dirasakan cukup kuat di wilayah NTT.

Skala VII MMI (tiap-tiap orang keluar rumah, kerusakan ringan pada bangunan konstruksi baik): dirasakan di Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), dan Kota Mbay.

Skala VI MMI (getaran dirasakan semua penduduk, mayoritas terkejut dan lari keluar) dirasakan di Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa.

Skala V MMI (getaran dirasakan hampir semua penduduk, banyak orang terbangun) dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng.

Hingga pukul 07.07 WIB, hasil monitoring BMKG mencatat telah terjadi 37 kali aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan kisaran magnitudo M3,6 hingga M6,2. Dari puluhan gempa susulan tersebut, tercatat 1 gempa susulan yang guncangannya dirasakan oleh masyarakat.

Imbauan Resmi BMKG untuk Masyarakat

Meskipun ancaman tsunami telah berakhir, BMKG meminta masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap potensi dampak gempa susulan.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu atau kabar bohong (hoaks) yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat guncangan gempa sebelum memastikan struktur bangunan aman untuk dimasuki kembali.

Meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi susulan yang masih mungkin terjadi.

BMKG menegaskan bahwa pemantauan aktivitas gempa dan pergerakan muka laut masih terus dilakukan.

Seluruh informasi resmi dipastikan dapat diakses melalui saluran komunikasi terverifikasi BMKG, seperti aplikasi seluler infoBMKG, laman web bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, serta akun media sosial resmi @infoBMKG.

PUBLISHER: MAS’UD

Komentar