Partisipasi Pemkot Kendari dalam Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara

Partisipasi Pemkot Kendari dalam Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara
Partisipasi Pemkot Kendari dalam Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara

TEGAS.CO., KOLAKA – Partisipasi Pemerintah Kota Kendari dalam pameran yang diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Provinsi Sulawesi Tenggara.

Partisipasi ini mencakup produk-produk unggulan yang dipamerkan, peran organisasi yang terlibat seperti Dekranasda dan instansi teknis lainnya.

Manfaat partisipasi ini bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, serta implikasi ekonomi yang lebih luas.

Cukup signifikansi kerajinan perak dan tenunan khas Kota Kendari sebagai aset budaya dan ekonomi. Partisipasi Kota Kendari dalam pameran ini merupakan langkah strategis dalam mempromosikan produk lokal dan mendukung pertumbuhan UMKM, dengan Dekranasda memainkan peran sentral dalam pembinaan dan promosi.

Provinsi Sulawesi Tenggara merayakan hari jadinya, sebuah momentum penting untuk merefleksikan pencapaian dan merencanakan masa depan.

Peringatan HUT ke-61 pada 27 April 2025 menjadi tuan rumah bagi Kabupaten Kolaka, yang menyelenggarakan serangkaian acara termasuk “Festival Harmoni Sultra”.

Festival ini merupakan evolusi dari konsep perayaan sebelumnya yang dikenal sebagai “Halo Sultra”.

Perubahan nama ini mengindikasikan pergeseran fokus yang lebih kuat pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pelibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Rangkaian peringatan HUT Sultra secara resmi dibuka pada tanggal 25 April 2025, dengan upacara puncak dijadwalkan pada tanggal 27 April 2025 di Alun-Alun 19 November Kolaka.

Pameran produk memiliki peran krusial sebagai platform untuk promosi ekonomi regional. Kegiatan seperti “Pekan Produk Unggulan” menjadi wadah kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menampilkan produk-produk terbaik dari masing-masing daerah.

Pameran serupa pada tahun-tahun sebelumnya telah terbukti memberikan manfaat signifikan bagi UMKM, bahkan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Tujuan utama dari pameran ini adalah untuk mempromosikan produk UMKM dan potensi unggulan daerah Sulawesi Tenggara, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Partisipasi aktif Pemerintah Kota Kendari dalam pameran HUT ke-61 ini merupakan bagian integral dari strategi pembangunan ekonomi mereka, yang bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan produk lokal dan mendukung perkembangan UMKM di wilayahnya.

Terdapat indikasi bahwa perubahan dari “Halo Sultra” menjadi “Festival Harmoni Sultra” bukan sekadar penggantian nama, melainkan mencerminkan langkah strategis yang disengaja oleh pemerintah provinsi.

Tujuannya adalah untuk memberikan penekanan yang lebih besar pada pemberdayaan ekonomi dan pengembangan UMKM dalam perayaan hari jadi tersebut.

Istilah “Harmoni” sendiri menyiratkan fokus pada kolaborasi dan manfaat bersama, yang selaras dengan tujuan untuk memajukan UMKM dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Penekanan ini diperkuat oleh pernyataan bahwa fokus utama festival adalah pada “penguatan sektor ekonomi masyarakat melalui pelibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)”.

Hal ini menunjukkan potensi tren di mana perayaan hari jadi daerah semakin berorientasi pada kegiatan yang mendukung perkembangan bisnis.

Pemerintah Kota Kendari bersama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kendari turut serta dalam memeriahkan HUT Sultra dengan mendirikan sebuah stand pameran.

Pembukaan rangkaian peringatan HUT Sultra pada tanggal 25 April 2025 menjadi momentum bagi Pemkot Kendari untuk menampilkan produk-produk unggulan mereka di stand pameran tersebut.

Kehadiran bersama Pemkot Kendari dan Dekranasda Kota Kendari di stand pameran ini secara visual terkonfirmasi melalui keterangan foto.

Organisasi kunci yang terlibat dalam stand Kota Kendari adalah Pemerintah Kota Kendari (Pemkot Kendari) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Kendari.

Selain kedua organisasi ini, partisipasi Kota Kendari juga melibatkan lima instansi teknis yang membawa berbagai jenis produk sesuai dengan bidang masing-masing.

Instansi teknis tersebut adalah Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, serta Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Meskipun informasi detail mengenai produk spesifik yang ditampilkan oleh masing-masing instansi teknis dari Kendari tidak secara eksplisit dapat melihat contoh dari partisipasi daerah lain dalam pameran serupa pada tahun sebelumnya.

Pemerintah Kota Baubau, misalnya, dalam persiapan untuk pameran “Halo Sultra” (konsep sebelumnya) melibatkan dinas-dinas seperti Dinas Perikanan, Dinas Koperasi dan UKM, DPMPTSP, dan Dinas Perdagangan. Hal ini mengindikasikan adanya model umum bagi pemerintah daerah untuk berpartisipasi dalam acara semacam ini, dengan melibatkan berbagai sektor ekonomi.

Produk-produk yang dipamerkan di stand Kota Kendari mencakup hasil binaan dari Dekranasda Kota Kendari serta produk dari lima instansi teknis yang terlibat.

Secara spesifik, kerajinan perak yang telah lama menjadi keunggulan Kota Kendari dan tenunan hasil binaan Dekranasda Kota Kendari disebutkan sebagai produk andalan yang ditampilkan.

Meskipun detail produk dari dinas lainnya tidak disebutkan secara spesifik, contoh dari daerah lain dapat memberikan gambaran. Kabupaten Buton Utara, misalnya, menampilkan hasil pertanian dan perkebunan seperti beras, ikan suwir, kacang mete, keripik, madu, minyak kelapa, dan garam lokal.

Sementara itu, Kabupaten Muna Barat memamerkan kain tenun, anyaman, makanan olahan, hasil pertanian, dan hasil laut.

Produk-produk dari Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Kendari kemungkinan mencakup berbagai produk UMKM binaan, sementara Dinas Perindustrian dapat menampilkan produk-produk manufaktur skala kecil.

Dinas Pertanian dan Perikanan kemungkinan menampilkan hasil bumi dan perikanan unggulan dari Kota Kendari, dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dapat menampilkan produk-produk kerajinan dan souvenir lainnya.

Keterlibatan yang konsisten dari instansi teknis tertentu seperti Dinas Perdagangan/Koperasi/UKM, Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, dan Dinas Pariwisata/Ekonomi Kreatif dalam partisipasi berbagai kota (Kendari dan Baubau) dalam pameran HUT Sultra menunjukkan adanya pendekatan terstandarisasi oleh pemerintah provinsi.

Pemerintah provinsi mendorong representasi sektor yang beragam dan berbagai kegiatan ekonomi regional.

Pengulangan nama-nama instansi ini di berbagai konteks mengimplikasikan adanya kerangka kerja atau pedoman strategis yang diberikan oleh pemerintah provinsi kepada kota/kabupaten untuk berpartisipasi dalam pameran.

Kerangka kerja ini kemungkinan bertujuan untuk memastikan pameran yang komprehensif dari kekuatan ekonomi masing-masing daerah di berbagai sektor, mulai dari industri primer seperti pertanian dan perikanan hingga industri sekunder seperti manufaktur dan seni kreatif, serta sektor pendukung seperti perdagangan dan koperasi.

Partisipasi Pemkot Kendari dalam Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara
Partisipasi Pemkot Kendari dalam Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara

Kerajinan Perak (Kendari Werk)

Kerajinan perak Kota Kendari, yang dikenal dengan nama Kendari Werk, memiliki sejarah panjang dan reputasi yang membanggakan.

Sejak lama, kerajinan ini telah menjadi salah satu keunggulan Kota Kendari dan terkenal di berbagai kalangan. Bahkan, Kendari Werk telah dikenal sebagai kerajinan yang melegenda dan dikagumi oleh tokoh-tokoh penting seperti Ratu Wilhelmina.

Reputasinya sebagai “Perak Melegenda di Tanah Sulawesi” semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ciri khas Kota Kendari yang seringkali dibawa sebagai buah tangan.

Kerajinan ini juga disebut sebagai “Perak Sulawesi yang Melegenda” dan telah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda. Keunikan Kendari Werk terletak pada teknik pembuatannya yang dikenal dengan nama filigree.

Teknik ini melibatkan perangkaian benang perak halus ke dalam kerangka atau bingkai yang juga terbuat dari perak. Prosesnya dimulai dengan mengecilkan perak batangan menggunakan mesin press, kemudian diperkecil lagi menggunakan draw plate hingga menjadi benang yang sangat tipis.

Benang-benang perak ini kemudian dipilin satu per satu dan dengan penuh kesabaran disusun pada kerangka, membentuk motif yang halus, detail, dan rumit. Pembuatan Kendari Werk sepenuhnya mengandalkan keahlian tangan para pengrajin, tanpa sentuhan mesin serba otomatis.

Berbagai jenis produk dihasilkan dari kerajinan perak Kendari ini, terutama perhiasan wanita seperti bros, cincin, kalung, gelang, anting, dan giwang. Selain itu, Kendari Werk juga menghasilkan barang-barang dekorasi seperti miniatur perahu, rumah adat, hewan, serta barang fungsional seperti nampan kue.

Produk-produk ini seringkali digunakan untuk menghadiri acara-acara adat. Namun, seiring berjalannya waktu, Kendari Werk menghadapi berbagai tantangan yang mengancam keberadaannya.

Jumlah pengrajin perak di Kendari semakin sedikit, dan kerajinan ini bahkan lebih berkembang di luar daerah, terutama di Makassar.

Meskipun demikian, nama Kendari Werk tetap dikenal. Berbagai upaya telah dilakukan untuk melestarikan kerajinan ini, termasuk upaya yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1985 dengan merekrut dan melatih beberapa orang menjadi pengrajin.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sulawesi Tenggara juga turut berperan dalam produksi dan pemasaran Kendari Werk. Meskipun demikian, kendala seperti kurangnya pengrajin dan permintaan modal yang besar masih menjadi tantangan.

Bahkan, ada kekhawatiran bahwa Kendari Werk, yang dulunya merupakan seni perak yang gemerlap, kini mulai menghilang.

Salah satu upaya konkret adalah melalui pelatihan kerajinan perak yang diinisiasi oleh Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Kendari bekerja sama dengan Dekranasda Kota Kendari.

Pemerintah Kota juga berencana membangun pojok Dekranasda di Balai Kota untuk menampilkan hasil kerajinan masyarakat, termasuk perak.

Keikutsertaan kerajinan perak dalam pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara ini menjadi bagian penting dari upaya pelestarian dan promosi warisan budaya Kendari.

Dengan menampilkan Kendari Werk, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan keunikan dan nilai historis kerajinan ini, serta mendorong minat generasi muda untuk mempelajari dan melanjutkannya.

Meskipun memiliki sejarah yang kaya dan pengakuan internasional, Kendari Werk menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan pengrajin dan persaingan pasar.

Keterlibatan Dekranasda yang berulang kali dalam upaya promosi dan revitalisasi kerajinan ini menunjukkan peran krusialnya dalam keberlanjutan warisan budaya ini.

Kisah kejayaan Kendari Werk di masa lalu sangat kontras dengan kekhawatiran saat ini mengenai kemerosotannya. Hal ini mengindikasikan perlunya intervensi yang lebih terarah untuk mendukung pengrajin yang tersisa dan menarik generasi baru untuk menekuni kerajinan ini.

Keterlibatan Dekranasda yang terus-menerus menunjukkan tanggung jawab yang diakui dan upaya yang sedang berlangsung, namun tantangan yang tetap ada menunjukkan bahwa dukungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan diperlukan.

Tenunan Khas (Traditional Weaving)

Selain kerajinan perak, tenunan khas juga menjadi salah satu produk unggulan Kota Kendari yang ditampilkan dalam pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara. Ini merupakan hasil binaan dari Dekranasda Kota Kendari.

Ketua Dekranasda Kota Kendari bahkan tampil memukau dalam fashion show yang merupakan bagian dari acara HUT Sultra ke-61 dengan mengenakan busana tenun khas Tolaki. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tenunan tradisional ini bagi identitas budaya Kendari.

Kota Kendari memiliki beragam jenis dan karakteristik tenunan tradisional, salah satunya adalah Kain Tenun Tolaki. Pada masa kerajaan, kain tenun Tolaki biasa dijadikan busana para raja dan keturunan bangsawan suku Tolaki yang merupakan salah satu suku di Kendari.

Selain itu, terdapat juga Tenun Asma Kendari yang dibuat secara tradisional menggunakan bahan berkualitas dengan corak maupun warna yang menarik.

Tenun Asma Kendari menggunakan bahan-bahan alami terbaik dengan warna khas seperti merah samar, hijau lumut, biru, pink, cokelat, hingga kuning kunyit.

Tenun Asma Kendari memproduksi dan memasarkan kain tenun khas Muna, tenun khas Tolaki, dan tenun khas Buton. Secara umum, kain tenun khas Kendari ditenun menggunakan cara tradisional dengan bahan-bahan alami dan memiliki corak warna yang berbeda dengan kain tenun dari daerah lain.

Tenunan khas Sultra, termasuk yang berasal dari Kendari (Tolaki), juga cukup laris, terutama di kalangan tamu dari luar daerah yang membeli langsung di pusat penjualan kain khas daerah di Kendari. K

ontingen Kota Kendari dalam Sultra Tenun Karnaval 2024 juga menampilkan busana tenunan khas Tolaki dengan motif ndolaki dan motif pinetobo yang menyerupai piramida sebagai simbol kesatria dan kesejahteraan, seringkali dipadukan dengan kerajinan perak.

Dekranasda Kota Kendari memainkan peran yang sangat penting dalam membina dan mengembangkan produk tenunan tradisional ini. Keterlibatan Ketua Dekranasda Kota Kendari dalam fashion show HUT Sultra dengan mengenakan tenun Tolaki merupakan salah satu bentuk promosi aktif.

Dekranasda juga kemungkinan memfasilitasi pelatihan bagi para pengrajin tenun, membantu dalam desain dan inovasi produk, serta mempromosikan produk tenun melalui berbagai platform termasuk pameran.

Beberapa waktu terakhir, tenunan khas Kendari juga mendapatkan perhatian melalui berbagai acara dan inisiatif. Seorang pelajar Kendari bahkan memamerkan Tenun Pinetobo di Indonesia Fashion Parade 2024, yang merupakan upaya untuk memperkenalkan tenun Sultra di tingkat nasional.

Selain itu, Sultra Tenun Karnaval 2024 juga menjadi ajang promosi tenun lokal. Penjualan tenun khas Sultra secara umum juga mengalami peningkatan sepanjang tahun 2023, yang menunjukkan adanya tren positif dalam minat dan permintaan terhadap produk ini.

Kontingen Kota Kendari juga secara khusus menampilkan keindahan tenun khas Tolaki dengan motif Pinetobo dalam Sultra Tenun Karnaval Tahun 2024.

Kendari memiliki tradisi tenun yang kaya, terutama gaya Tolaki dengan motif khas seperti Pinetobo.

Dekranasda Kota Kendari memainkan peran penting dalam mempromosikan warisan ini melalui fashion show dan partisipasi dalam acara seperti Sultra Tenun Karnaval.

Eksposur di tingkat nasional melalui acara seperti Indonesia Fashion Parade dan peningkatan penjualan yang dilaporkan menunjukkan tren positif dalam pengakuan dan daya jual tenunan tradisional Kendari.

Penekanan yang konsisten pada tenun Tolaki, terutama dalam acara promosi yang dipimpin oleh Dekranasda, mengindikasikan fokus strategis pada gaya ini sebagai elemen kunci dari identitas budaya Kendari dan potensi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Partisipasi dalam acara nasional dan peningkatan penjualan yang dilaporkan menunjukkan bahwa upaya promosi ini semakin mendapatkan daya tarik dan berkontribusi pada apresiasi dan permintaan yang lebih luas terhadap tekstil tradisional Kendari.

Memberdayakan Bisnis Lokal: Peran Pameran bagi UMKM

Pameran HUT ke-61 Sulawesi Tenggara menjadi platform penting bagi UMKM Kota Kendari untuk memasarkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Pemerintah Kota Kendari menyadari betul peran pameran dalam membantu UMKM memperluas jangkauan pasar mereka. Melalui pameran ini, produk UMKM dapat lebih dikenal dan membuka peluang pasar yang lebih besar.

Diharapkan produk-produk yang dipamerkan akan mendapatkan respon positif dari masyarakat dan menghasilkan transaksi yang signifikan. “Pekan Produk Unggulan” secara khusus bertujuan untuk mendorong perkembangan UMKM di Sulawesi Tenggara dengan meningkatkan kualitas produk dan daya saing mereka.

Secara umum, pameran produk UMKM memiliki kemampuan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan kesadaran merek, membangun koneksi dan jaringan bisnis, serta menyediakan peluang penjualan langsung bagi para pelaku usaha.

Pameran kerajinan tangan juga efektif dalam memperkenalkan produk lokal ke pasar yang lebih luas, meningkatkan penghasilan pengrajin, dan melestarikan warisan budaya.

Partisipasi dalam pameran ini juga berpotensi meningkatkan penjualan dan peluang bisnis bagi UMKM yang terlibat. Pasar kreatif yang diselenggarakan oleh Dekranasda Kota Kendari sebelumnya berhasil meraih omzet penjualan hingga Rp500 juta dalam waktu empat hari.

Hal ini menunjukkan potensi dampak ekonomi yang signifikan dari acara semacam ini. Pameran produk UMKM secara khusus menawarkan peluang penjualan langsung yang dapat meningkatkan pendapatan bisnis.

Keberhasilan ini tercermin dalam representasi yang kuat melalui stand pameran bersama Dekranasda Kota Kendari dan lima instansi teknis, yang menampilkan beragam produk unggulan daerah.

Signifikansi kerajinan perak (Kendari Werk) dan tenunan khas (terutama tenun Tolaki) sebagai produk andalan Kendari semakin ditegaskan melalui pameran ini, yang tidak hanya mempromosikan warisan budaya tetapi juga potensi ekonomi daerah.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Kendari, Hj. Sasriati mengatakan, dalam stand pameran ini Pemerintah Kota Kendari menampilkan produk-produk hasil binaan dari Dekranasda dan juga 5 instansi teknis.

Instansi teknis tersebut adalah, Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah, Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Disini juga ada kerajinan perak yang merupakan keunggulan kita Kota Kendari yang sudah sejak lama terkenal, disini juga kami ada tenunan hasil dari binaan dekranasda Kota Kendari,” ujarnya. Kamis (24/4/2025).

Sasriati juga mengungkapkan, peran Pemerintah Kota Kendari ini sangat membantu UMKM dalam memasarkan produk-produknya sehingga bisa diketahui lebih luas lagi. (ADV)

PUBLIAHER: MAS’UD

 

Komentar