
Tegas.co, Kendari – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Kendari menilai perlu adanya penguatan sistem surveilans dan pencatatan kasus untuk memastikan intervensi kesehatan dilakukan secara tepat sasaran.
Hal itu dikatakan oleh Kepala Bappeda Kota Kendari, Muhamad Saiful ketika membuka kegiatan Pertemuan Perencanaan dan Penganggaran AIDS, TBC, dan Malaria (ATM) Tahun 2025 yang digelar Dinas Kesehatan Kota Kendari, Selasa (22/7/2025).
Saiful mengungkapkan, penyakit HIV/AIDS, Tuberkulosis (TBC), dan Malaria masih menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan termasuk di Kota Kendari.

Dia menyebutkan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem imun dan dapat menimbulkan infeksi oportunistik yang berdampak secara sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu kata Saiful, upaya pengendalian perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai sektor.
“Kasus TBC masih tinggi secara nasional, termasuk di Kota Kendari. Capaian penemuan kasus TBC atau treatment coverage di Kendari pada tahun 2024 mencapai 83 persen,” ungkapnya.

Sementara untuk Malaria tercatat 123 kasus. Sedangkan jumlah kasus HIV yang terdata sebanyak 79 kasus dan AIDS sebanyak 232 kasus.
Olehnya itu, Saiful menyoroti pentingnya keterlibatan lintas sektor dan lintas program serta dukungan dari lembaga seperti Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) – Asosiasi Dinas Kesehatan seluruh Indonesia (Adinkes) dalam memperkuat perencanaan dan penganggaran program ATM.
Bukan hanya keterlibatan lintas sektor, Saiful juga menyarankan alokasi anggaran untuk ATM dapat diintegrasikan dalam dokumen perencanaan daerah seperti RKPD, RENJA, dan RKA APBD dengan merujuk pada SE 906/2114/SJ dan Permendagri Nomor 84 Tahun 2022.

Selain itu, Pemerintah Kota Kendari supaya menyusun rencana inisiatif baru dalam pengendalian ATM, guna mendukung komitmen nasional menuju eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada tahun 2030.
Sebelum menutup sambutannya, Saiful mengajak seluruh peserta tidak hanya menghadiri pertemuan secara formal, tetapi turut menyusun strategi nyata dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ATM.
Redaksi