Desa Wisata Namu Konsel Masuk 15 Besar, Ini Cerita Menariknya

Desa Wisata Namu Konsel Masuk 15 Besar, Ini Cerita Menariknya
Kepala desa NAMU Konawe Selatan, Nikson saat menerima penghargaan 20 tokoh penggerak desa wisata beberapa waktu lalu

KENDARI,TEGAS.CO – Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menunjukkan tajinya di kancah kepariwisataan nasional. Desa Wisata Namu di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, berhasil menembus 15 besar kategori Desa Wisata Terbaik dalam ajang bergengsi Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025 yang digelar Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Pencapaian ini menjadi cerita menarik bagi Dinas Pariwisata (Dispar) Sultra, mengingat WIA adalah ajang baru yang menggantikan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI).

Prestasi ini melanjutkan tradisi gemilang desa-desa wisata Sultra di tingkat nasional, seperti Labengki (Juara 1 ADWI Kategori Berkembang), Liya Togo, Limbo Wolio, Sumber Sari Moramo, dan Sani-Sani.

Kepala Dinas Pariwisata Sultra, H. Belli, HT, mengungkapkan bahwa masuknya Namu dalam jajaran elit nasional bukanlah suatu kebetulan. Menurutnya, WIA 2025 memilih desa-desa yang benar-benar aktif bergerak dan bekerja.

“Dari puluhan desa di Sultra yang sempat masuk seleksi awal, Namu yang mampu bertahan. Penilaiannya independen oleh tim kementerian, dan setiap desa pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” ujar Belli, Jumat.

Belli menyingkap kunci kesuksesan Desa Namu terletak pada dua orang di balik layar: Kepala Desa Namu, Nikson, dan pendamping desa wisata, Ahmad Nizar atau yang akrab disapa Om Ino.

Keduanya, ternyata, telah dinobatkan Dispar Sultra sebagai bagian dari “20 Tokoh Penggerak Desa Wisata Sultra 2025” beberapa bulan silam, bahkan telah dibukukan dan dilaunching pada Rakornis Desa Wisata se-Sultra.

“Tidak bisa dibantah, Namu punya tim yang solid dari masyarakat yang luar biasa, ditambah dua sosok itu yang memang harus dapat apresiasi. Wajar Kemenpar memilih Namu,” tegas Belli.

Kisah kolaborasi antara Kepala Desa Nikson dan Ahmad Nizar justru berawal dari sebuah program Dispar Sultra sendiri.

Mereka pertama kali bertemu pada 2023 dalam program “Studi Tiru Desa Wisata ke Bali”.

Saat itu, Ahmad Nizar yang merupakan praktisi pariwisata ditugaskan sebagai pendamping rombongan, sementara Nikson adalah salah satu peserta kepala desa pilihan.

“Dari situlah mereka bertemu, menyatukan visi. Sang Kepala Desa cukup intens berdiskusi dan akhirnya meminta Om Ino untuk menjadi pendamping mandiri Desa Wisata Namu sejak 2023 hingga sekarang,” jelas Belli.

Desa Wisata Namu Konsel Masuk 15 Besar, Ini Cerita Menariknya
Foto bersama 20 tokoh penggerak desa wisata Sultra 2025 saat menerima penghargaan

Belli menutup pernyataannya dengan bangga, menegaskan bahwa prestasi nasional ini adalah pembuktian atas kerja keras dan konsistensi seluruh komponen di Desa Namu.

“Sudah jalan Tuhan, Namu bisa berbicara di tingkat nasional. Mereka bekerja konsisten. Kami tidak salah memilih dua tokoh tersebut untuk mendapatkan penghargaan di tingkat provinsi. Sekarang saatnya mereka dapat apresiasi lebih tinggi di tingkat nasional,” pungkasnya.

Pencapaian Desa Wisata Namu ini tidak hanya membawa kebanggaan bagi Kabupaten Konawe Selatan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi desa-desa wisata lainnya di Sultra untuk terus berinovasi dan berkarya.

PUBLISHER: MAS’UD

Komentar