
KENDARI, TEGAS.CO โ Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tengah melakukan terobosan radikal dalam pola peningkatan kapasitas aparatur sipil negara (ASN).
Mengadopsi “Retreat Model” ala Magelang dan Jatinangor, Pemprov Sultra menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Penguatan Kapasitas Perangkat Daerah Tahun 2025 dengan pendekatan yang lebih mendalam dan substantif.
Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, M.Ling memberikan materi menohok bertajuk “Dari Sistem Ego ke Ekosistem (From Ego System to Eco System)” pada hari kedua kegiatan, Kanis 11 Desember 2025.
Dalam paparannya, Hugua tidak berbicara soal teknis anggaran atau regulasi semata, melainkan menyentuh akar masalah mentalitas birokrasi.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐๐๐๐
Ia menyoroti fenomena “downloading” dalam bekerja, sebuah kebiasaan reaktif di mana birokrat hanya merespons gejala permukaan (symptom) tanpa pernah menyentuh akar masalah yang sesungguhnya.
“Kita sering terjebak. Ada masalah, kita selesaikan gejalanya saja. Kenapa? Karena kita bekerja dengan pola lama, pola ‘downloading’. Kita lupa pada blind spot (titik buta) kita sendiri,” ujar Hugua di hadapan para kepala OPD dan peserta retret.
Mantan Bupati Wakatobi ini menekankan, penghalang utama kemajuan birokrasi adalah Voice of Cynicism (suara sinisme) dan Voice of Judgment (suara penghakiman).
Sikap merasa diri paling penting, atau yang disebutnya sebagai “Ego-System”, membuat sekat tebal antar-aparatur. “Seringkali muncul pikiran ‘siapa lu, siapa gue’. Ini mematikan empati. Padahal, untuk melayani rakyat, kita harus bergeser ke ‘Eco-System’.
Kesadaran bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan semesta. Kita perlu Open Mind (buka pikiran), Open Heart (buka hati), dan Open Will (buka tekad),” tegas Hugua.
Lebih lanjut, Hugua menjelaskan pentingnya Sensing dan Presencing. Menurutnya, seorang pemimpin atau birokrat harus mampu merasakan (sensing) realitas di lapangan dengan empati penuh, bukan sekadar melihat data di atas kertas.
Ia mendorong peserta untuk melakukan bonding (ikatan emosional) satu sama lain sebelum masuk ke pembahasan materi teknis.
“Tanpa bonding, materi teknis hanya akan lewat begitu saja. Kita harus selesai dengan ego kita, barulah kita bisa membangun ekosistem pemerintahan yang melayani,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai 10 hingga 13 Desember 2025 ini, diharapkan mampu mencetak aparatur yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual dalam mengawal pembangunan Sultra ke depan.
PUBLISHER: MAS’UD