Berita UtamaOpini

Sedekah: Melawan “Malfungsi” Hati Melalui Aliran Kebaikan

×

Sedekah: Melawan “Malfungsi” Hati Melalui Aliran Kebaikan

Sebarkan artikel ini

Sedekah: Melawan "Malfungsi" Hati Melalui Aliran Kebaikan

Oleh: Mas’ud (Direktur Utama tegas.co)

Dalam riuhnya ambisi dunia dan tuntutan hidup yang kian menyesakkan, tak jarang manusia merasa hatinya menjadi sempit. Dada terasa berat, dan kegelisahan menjadi kawan akrab sehari-hari.

Banyak yang mencari pelarian ke tempat hiburan atau menumpuk materi, namun kedamaian yang dicari justru kian menjauh.

Padahal, obat terbaik untuk hati yang sedang merasa sempit itu hanyalah satu yaitu sedekah.

Namun, urgensi sedekah di sini bukan semata-mata karena sebuah kewajiban agama atau janji pahala yang tertulis dalam kitab suci.

Jauh di balik itu, sedekah berkaitan erat dengan fitrah atau “desain asli” dari hati manusia itu sendiri.

Secara fisiologis maupun spiritual, hati (atau yang secara fisik sering diidentikkan dengan jantung) tidak pernah didesain untuk memendam.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

Jantung kita memiliki fungsi utama untuk memompa dan mengalirkan darah ke seluruh tubuh agar organ-organ lain dapat berfungsi optimal.

Apa yang terjadi jika jantung berhenti mengalirkan darah? Seluruh organ akan mati, dan kehidupan pun berakhir.

Demikian pula dengan hati nurani kita. Indikator hati yang sehat dan lapang adalah hati yang selalu mengalirkan apa yang Tuhan titipkan dalam hidupnya, mulai dari kasih sayang, perhatian, ilmu, kesehatan, hingga materi harta.

Ketika seseorang memendam apa yang seharusnya ia distribusikan, hatinya secara otomatis akan merasa sempit, sesak, bahkan jatuh sakit.

Banyak orang ragu bersedekah karena takut kehilangan. Padahal, jika kita merujuk pada prinsip aliran tadi, sedekah sebenarnya hanyalah upaya mengembalikan sesuatu pada aliran aslinya.

Ibarat pompa jantung, sedekah adalah denyut yang memastikan energi kehidupan tetap berputar.

Lagipula, bagaimana mungkin kita merasa kehilangan sesuatu yang sejak awal memang bukan milik kita sepenuhnya?

Harta, ilmu, dan tenaga adalah amanah yang mampir untuk diteruskan, bukan untuk digenggam erat hingga mati rasa.

Hal menarik yang perlu digarisbawahi adalah definisi “memendam” itu sendiri. Memendam tidak selalu berarti menumpuk uang di bawah kasur.

Membelanjakan harta untuk hal-hal yang sia-sia dan bersifat impulsif demi memuaskan ego sesaat juga merupakan bentuk lain dari memendam.

Mengapa demikian? Karena dalam aktivitas tersebut, harta tidak benar-benar “mengalir” menuju kebermanfaatan hidup.

Ia hanya dipindahkan untuk memuaskan dahaga ego yang tak pernah kenyang. Akibatnya, alih-alih memberi rasa lapang, perilaku konsumtif justru seringkali meninggalkan lubang kehampaan yang lebih besar di dalam hati.

Jangan biarkan hati kita mengalami malfungsi. Hati yang tertutup dan berhenti memberi hanya akan merusak seluruh aspek kesadaran hidup kita.

Alirkanlah apa yang kita miliki untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati tidak ditemukan pada seberapa banyak yang kita simpan, melainkan pada seberapa tulus apa yang kita alirkan.

Opini ini bersumber dari refleksi mendalam mengenai filosofi sedekah dan kesehatan hati.