Oleh: MAS’UD (Direktur Utama Tegas.co)
Seringkali kita terjebak dalam paradigma bahwa kesuksesan finansial diukur dari seberapa tebal saldo di rekening atau seberapa banyak aset yang berhasil kita tumpuk.
Namun, pernahkah kita merenung bahwa cara Tuhan mengajarkan konsep rezeki bukan melalui teori papan tulis, melainkan melalui fase-fase hidup yang nyata?
Dalam sebuah perenungan mendalam, kita diingatkan bahwa rezeki memiliki sifat dasar yang unik yaitu, ia mengalir, bukan memusat apalagi menimbun.
Rezeki yang “Mampir Lalu Mengalir”
Banyak dari kita mungkin pernah mengalami fase di mana kerja keras terasa maksimal, penghasilan meningkat, bahkan bonus datang dari arah yang tak disangka-sangka.
Namun, anehnya, uang tersebut seolah hanya “numpang lewat”. Ada saja kebutuhan mendesak, mulai dari biaya keluarga hingga tagihan rutin yang jumlahnya persis dengan pendapatan tambahan yang baru kita terima.
Secara manusiawi, mungkin kita merasa lelah atau bahkan mengeluh. Namun, di sinilah Tuhan sedang mengajarkan kita tentang kebermanfaatan.
Uang yang kita kira “habis” untuk listrik, nyatanya adalah instrumen yang menjaga kehangatan rumah dan kelancaran ibadah kita.
Uang yang “ludes” untuk bensin adalah sarana yang mengantar kita mencari nafkah. Bahkan, uang yang kita belanjakan di warung makan, menjadi wasilah bagi pemilik warung untuk menggaji karyawannya tepat waktu.
Konsep rezeki yang mengalir dan membawa manfaat bagi orang lain ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Saba’ (34): 39:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗوَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗ ۚوَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
Qul inna Rabbii yabsutur rizqa limai yashaaa’u min ‘ibaadihii wa yaqdiru lah; wa maaa anfaqtum min shai’in fahuwa yukhlifuhuu wa Huwa khairur raaziqiin.
“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)’. Dan apa saja barang yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.”
Ayat ini menegaskan bahwa setiap aliran rezeki yang kita keluarkan untuk nafkah dan kebaikan tidak akan membuat kita miskin, karena Allah adalah sebaik-baiknya pemberi ganti.
Setiap fase hidup memberikan tiga hal yaitu, Masalah, Pembelajaran, dan Pertumbuhan. Ketika kita berhasil melalui fase “rezeki yang mengalir” ini dengan rasa syukur dan pemahaman, itulah saat di mana derajat kita sedang ditinggikan oleh-Nya.
Kita tidak perlu menyesal jika penghasilan selalu habis setiap bulan, asalkan ia mengalir untuk hal-hal yang membawa manfaat (kebutuhan).
Hal yang justru patut disesali adalah ketika rezeki kita minus atau habis hanya karena menuruti hawa nafsu dan keinginan sia-sia.
Sebagai penutup, mari kita ingat pesan dalam QS. Adh-Dhariyat (51): 22:
وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
Wa fis-samā`i rizqukum wa mā tụ’adụn
“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
Rezeki sudah takarannya, tugas kita adalah memastikan alirannya menjadi berkah bagi diri sendiri dan orang lain.
Jangan takut kehilangan, karena air yang mengalir akan selalu tetap jernih, sementara air yang tergenang (menimbun) cenderung menjadi keruh dan berbau.
Semoga perenungan ini menjadikan kita pribadi yang lebih bijak dalam mengelola setiap amanah harta yang dititipkan-Nya.
