OLEH: MAS’UD, S.H., C.M.L.C (Wartawan senior/utama)
Kondisi anak sungai di Kelurahan Letta, Kabupaten Bantaeng, kini berada dalam fase kritis. Sungai yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan bagi para nelayan lokal, perlahan tapi pasti “tercekik” oleh tumpukan sedimentasi lumpur yang diperparah dengan akumulasi sampah.
Perjuangan para nelayan yang harus berjibaku mengayuh sampan di tengah endapan lumpur bukanlah sekadar keluhan, melainkan alarm peringatan akan potensi kelumpuhan ekonomi pesisir.
Bagi nelayan Letta, sungai bukan sekadar aliran air; sungai adalah dermaga, rumah bagi sampan, dan akses vital menuju mata pencaharian. Namun, realitas harian mereka kini berubah menjadi perjuangan fisik yang melelahkan.
Nelayan dipaksa tunduk pada ritme alam yang ekstrem. Hanya saat air pasang mereka memiliki sedikit “napas” untuk melintas.
Waktu yang Terbuang saat air surut, sungai menjadi jebakan lumpur. Nelayan harus berpacu dengan waktu, sebuah pola kerja yang tidak efisien dan menghambat produktivitas ekonomi.
Sampan dipaksa melewati endapan lumpur bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga berisiko merusak badan perahu yang menjadi modal utama usaha mereka.
Pendangkalan ini bukanlah fenomena tunggal. Ada dua musuh utama yang harus segera dihadapi yakni, Sedimentasi yang bersumber dari perubahan tata guna lahan di hulu, dan sampah yang menumpuk akibat minimnya kesadaran serta lemahnya pengelolaan limbah domestik di sepanjang aliran sungai.
Jika dibiarkan, pendangkalan ini akan berujung pada kematian sungai. Ketika sungai tidak lagi dapat dilalui, nelayan akan kehilangan akses ke laut, yang pada akhirnya akan meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan di tingkat kelurahan.
Pemerintah Kabupaten Bantaeng tidak boleh menutup mata. Pemulihan sungai di Kelurahan Letta memerlukan langkah konkret yang terukur.

Pertama, harus ada agenda rutin pengerukan sedimentasi untuk mengembalikan kedalaman sungai agar tetap dapat dilalui saat air surut.
Kedua, penempatan jaring penahan sampah di titik-titik strategis dan penguatan sistem pengangkutan sampah di wilayah hulu dan pinggir sungai sangat mendesak.
Perlu ditinjau kembali pengelolaan tata ruang di hulu sungai untuk meminimalisir erosi tanah yang menjadi penyebab utama sedimentasi lumpur.
Melibatkan nelayan dan warga setempat dalam gerakan bersih sungai sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Sungai Letta adalah aset ekonomi yang harus dijaga. Membiarkan sungai ini terus mendangkal sama saja dengan membiarkan harapan hidup para nelayan Bantaeng surut bersama lumpur.
Sudah saatnya pemerintah hadir, bukan hanya dengan janji, tetapi dengan alat berat dan kebijakan nyata untuk membebaskan aliran sungai dari belenggu sampah dan lumpur.
