
TEGAS.CO., NUSANTARA – Darama ini bercerita tentang seorang perempuan tua yang bekerja sebagai mucikari disuatu pedesaan. Ia tidak hanya menjadi “penjaja” perempuan tetapi juga menjadi tempat curhat dan pelindung bagi para gadis binaannya.
Meski dianggap hina oleh masyarakat, tumirah justru memiliki hati nurani dan rasa keibuan yang kuat terhadap anak-anak gadis yang ia asuh.
Konflik muncuk ketika lingkungan sosial terus menekaan keberadaannya dan moralitas masyrakat mulai dipertanyakan.
Tema
Tema utama drama ini adalah kritik sosial terhadap kemunafikan masyrakat yang merendahkan beberapa profesi tanpa memahami latar belakang seseorang serta gambaran tentang keberpihakan dan moralitas yang relatif.
Alur
Alur dalam drama ini linier progresif dimulai dari pengenaloan tumirah dan kehidupannya menuju konflik antara dirinya dengan masyarakat sekitar lalu menuju klimaks saat tumirah mempertahankan anak asuhnya dari kekerasan sosial.
Tokoh dan penokohan
Tumirah : tokoh utama, seorang mucikari tua, bijaksana, penyayang tetapi keras kepala.
Gadis-gadis binaan : anak-anak mudah yang hidup dibawah asuhan tumirah.
Masyarakat : tokoh-tokoh minor yang mewakili suara sosial yang munafik dan penuh prasangka.
Latar
Berlatar di perkampungan tepatnya disudut lingkungan kota kecil. Dialog dalam drama ini mengandung banyak sindiran tajam dan kritik sosial, namun tetap menggunakan bahasa sehari-hari yang mudah untuk dipahami.
Sinematografi
Tata panggung yang minimalis dengan suasana gelap, pengaturan pencahayaan untuk menonjolkan suasana suram dikehidupan tumira. Menggunakan musik yang terkesan sedih dan penuh keputusasaan.
Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan
Naskahnya kuat dengan pesan moral yang dalam Tokoh Tumirah sangat mendalami karakter sebagai mucikari
Dialognya tajam, jelas, dan relevan pada kenyataan sosial.
Beberapa tokoh tidak sesuai dengan karakter yang diberikan
Ada beberapa dialog yang terkesan sangat dipaksakan pada saat pementasan
Kesimpulan
Secara keseluruhan “Tumirah sang mucikari” adalah drama panggung yang sangat kuat dalam menyuarakan kritik sosial tentang kemunafikan masyarakat terhadap profesi yang dianggap hina.
Karakter Tumirah sebagai figur ibu sekaligus mucikari muncul sebagai seseorang yang memiliki hati nurani, dan rasa sayang kepada anak asuhnya. Drama ini sangat cocok ditonton bagi pencinta teater realis sosial maupun mahasiswa seni pertunjukkan.
Penulis: Ariawan