
TEGAS.CO., NUSANTARA – Dalam gedung teater (GT) di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo mahasiswa Prodi Sastra Indonesia menyelengarakan festival untuk memenuhi tugas mata kuliah Karya kereatif, dan pegelaran sastra yang di laksanakan oleh Angkatan 022 dan 023.
Ada pun salah satu pementasan yang cukup menarik yaitu drama “Tumirah (Sang Mucikari), Naskah drama karya Senoh Gumirah Ajidarma ini disutradarai oleh salah satu alumni dari Sastra Indonesia dipentaskan pada 20 juni 2025.
Drama ini memiliki pesan moral yaitu pentingnya peka terhadap keadaan sosial, pantang menyerah, dan memahami kebersamaan, kerja keras, dan menyadari bahwa setiap tindakan, sekecil apapun, memiliki makna.
“Tumirah Sang Mucikari adalah drama satir yang memuat unsur tragedi dan realisme sosial. Drama ini menggunakan sindiran atau keritik sosial terhadap realitas kehidupan, khususnya dalam konteks kekerasan dan ketidak adilan.
Drama ini menggunakan sindiran dan humor untuk mengkeritik isu-isu sosial dan politik yang ada dalam masyarakat.
Lakon ”Tumirah (Sang Mucikari)” mencoba menggeser pandangan umum tentang pelacur dan mengangkat isu-isu kekerasan, politik, dan ketimpangan soisal.
Meskipun ada unsur komedi, drama ini juga mengangkat tema tragedi kehidupan, seperti kekerasan terhadap pelacur dan konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat.
Lakon ”Tumirah (Sang Mucikari)”, bercerita tentang hidup seorang germo yang bernama Tumirah. Ia adalah germo yang berusia 40 tahun yang menjadi ”Ibu” bagi beberapa pelacur di rumah bordil yang ia miliki.
Suatu ketika, para pelacur muda anak-anak Tumirah berkumpul dan berbincang-bincang di halaman rumah bordil dan tidak di sangka – sangka rumah bordil Tumirah didatangi rombongan para ninja yang membuat suasana menjadi kacau.
Rombongan ninjapun membabi buta pada saat itu, semua pelacur-pelacur mudah dianiaya dan diperkosa oleh ninja-ninja tersebut begitupun dengan Tumirah, ia juga merasakan penyiksaan tersebut, para pelacur dan Tumirah disiksa habis-habisan oleh para ninja sehingga meregut salah satu nyawa pelacur anak Tumirah.
Setelah para ninja puas atas perlakuanya merekapun meninggalkan rumah bordil Tumirah tanpa merasa bersalah.
Tumirah pun menghampiri satu persatu anak-anaknya sambil meneteskan air mata meratapi anak anaknya menerima penyiksaan yang tidak manusiawi yang di lakukan para ninja-ninja tersebut.
Setelah kejadiaan tersebut, Tumirah duduk sendiri di depan rumah bordilnya sambil merenungi nasibnya yang ditemani sebatang rokok.
Tidak lama kemudian, banyak oknum yang berdiri di atas kata ”Keadilan” memanfaatkan situasi dengan mengorek informasi dari Tumirah.
Para oknum (pengacara, wartawan, polisi, dan intel), hanya ingin menjual berita dan menyebarluaskan penderitaan sebagai konsumsi publik.
Berawal dari konflik itulah, drama ”Tumirah (Sang Mucikari)” seakan ”Menggoyang dan ”mengobrak-abrik” pemikiran tentang pelacur yang pernah ada di otak saya.
Sebagaimanapun pelacur menjual tubuhnya, mereka tidak menjual cinta. Dan tindakaan pemerkosaan yang menimpa mereka merupakan suatu pukulan yang telah menghacurkan harapannya.
Ada sisi lain yang tersembunyi dalam diri seorang pelacur, yang tidak pernah terbaca oleh orang lain dalam situasi biasa. Sisi ”Kemanusiaan” yang memang menjadi kodrat manusia.
Tumirah dan Kehidupannya
Menurut saya ada yang menarik dari lakon ini untuk di angkat sebgai pertunjukan. Tumirah sebagai tokoh sentral digambarkan sebagai seorang germo/pelacur merupakan sosok yang tereliensi dari masyarakat.
Padahal disisi lain pelacur juga manusia yang masi memiliki sifat, ambisi, cita-cita, bahkan kebaikan yang sama seperti manusia lain. Penganiayaan dan politik adu domba ninja seakan mewakili ketimpangan sosial bangsa.
Kacaunya hukum di negara ini juga disimbolkan dengan adanya pengadilan rakyat tanpa ada dasar hukum yang kuat, pembunuhan orang yang belum tentu bersalah seakan menjadi hal yang biasa.
Namun demikian, ketulusan cinta dan kasi syanglah yang mampu meredahnya bagaikan cinta seorang Tumirah pada Sukab kekasihnya, dan ketuluan Mahmud pada kekasihnya Lastri apa adanya.
Walaupun drama ini agak menggelitik telinga, namun esensi pesan yang terkandung didalamnya memancing untuk berfikir lebih keritis lagi terhadap hidup. Bukan sisi erotisisme yang dipertontonkan, namun pesan moral yang teramat dalam yang ingin disampaikan.
Apresiasi aktor drama ”Tumirah”
Bintang sesungguhnya dalam pertunjukan ini adalah para aktor. Mereka berhasil menghidupkan karakter Tumirah dan tokoh-tokoh lain dengan begitu meyakinkan.
Setiap dialog terasa tulus, setiap gerakan memiliki bobot, dan setiap ekspresi wajah mampu menembus batas panggung, menyentuh hati penonton.
Khususnya pemeran utama, ia berhasil merangkum kompleksitas sosok Tumirah dengan segala suka duka, harapan dan keputusasaan, menjadi representasi yang utuh dan relatable.
Emosi yang ditawarkan tidak terasa dibuat-buat, melainkan mengalir alami, menunjukkan pendalaman karakter yang luar biasa. Tidak hanya pemeran utama, para pemeran pendukung juga tampil solid, saling melengkapi dan membangun dinamika yang kuat.
Interaksi antar karakter terasa begitu otentik, seolah kita sedang menyaksikan potongan kehidupan nyata.
Penulis: Nurfadillah