Artikel

Apresiasi: Drama Tumirah Sang Mucikari

231
×

Apresiasi: Drama Tumirah Sang Mucikari

Sebarkan artikel ini
Apresiasi: Drama Tumirah Sang Mucikari

TEGAS.CO., NUSANTARA – Tumirah (Sang Mucikari) merupakan
karya dramatik Seno Gumira Ajidarma yang menggugah, provokatif, dan sarat makna. Drama ini mengangkat tema besar tentang kekerasan, seksualitas, kuasa, kemanusiaan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Dalam panggung pergelaran, ia menyajikan ironi sosial yang menyayat, menyingkap luka-luka masyarakat marginal, serta menjadi metafora tajam terhadap kondisi politik dan kemanusiaan di Indonesia.

Lakon ini bukan hanya menggambarkan penderitaan para pekerja seks, namun juga menghadirkan kritik tajam terhadap sistem yang menormalisasi kekerasan dan menyembunyikan pelakunya di balik simbol negara atau ideologi.

Dalam gedung teater di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu-Oleo, Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia menyelenggarakan Festival Ujian Akhir Semester untuk memenuhi tugas mata kuliah Karya Kreatif dan Pegelaran Sastra.

Salah satu pementasannya yang sangat menarik yaitu drama “Tumirah (Sang Mucikari)”

Karakterisasi yang Kuat dan Multidimensional

Tumirah: Karakter Tumirah adalah inti dari kekuatan drama ini. la bukan sekadar mucikari, melainkan figur ibu yang protektif, seorang filsuf jalanan, dan simbol kemanusiaan yang tak tergoyahkan di tengah kehancuran.

Dialog-dialognya, seperti “Apakah yang bisa lebih kejam bagi seorang perempuan selain dari derita perkosaan? Biarpun mereka pelacur, mereka punya hati.

Mereka menjual tubuh, tapi tidak menjual cinta,” menunjukkan kedalaman pemikirannya dan kemampuannya untuk melihat melampaui stigma sosial. Transformasinya dari seorang yang apatis terhadap konflik menjadi pembela kemanusiaan adalah perjalanan karakter yang sangat efektif.

Para Pelacur: Karakter-karakter pelacur lainnya (Minah, Lisa, Tumini, Lastri, Ratih) tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga memiliki suara dan perspektif mereka sendiri.

Mereka merepresentasikan berbagai reaksi terhadap penindasan, dari keputusasaan hingga keinginan untuk membalas dendam, yang memperkaya narasi.

Ninja: Meskipun digambarkan sebagai entitas anonim dan brutal, dialog para Ninja di Babak II memberikan wawasan mengerikan tentang motivasi dan ideologi mereka.

Mereka adalah representasi dari kekuatan yang manipulatif dan destruktif, yang menggunakan kekerasan dan adu domba sebagai alat politik.

Kritik Sosial dan Politik yang Berani

Drama ini secara eksplisit mengkritik kekerasan militer, manipulasi politik, dan kemunafikan masyarakat. Adegan pemerkosaan oleh ninja dan pengadilan rakyat yang brutal terhadap Ninja yang tertangkap adalah representasi visual dari siklus kekerasan dan ketidakadilan.

Pernyataan Tumirah bahwa “para politisi itu paling pintar menjual bukan cuman barang, tapi juga bangkai orang lain!” adalah kritik pedas terhadap moralitas para penguasa.

Konsep “cinta” sebagai ancaman terbesar bagi para Ninja adalah metafora kuat yang menunjukkan bagaimana kemanusiaan dan empati dapat menggagalkan agenda kekerasan dan perpecahan.

Struktur Naratif yang Efektif

Pembagian babak yang jelas memungkinkan pengembangan plot dan karakter yang terstruktur. Babak I memperkenalkan dunia bordil dan karakter-karakternya.

Babak II mengungkap motif dan kekejaman para Ninja, dan Babak III menyajikan konsekuensi dari kekerasan serta upaya untuk menemukan kemanusiaan di tengah kehancuran.

Penggunaan musik dan efek suara (musik romantis, musik mencekam) secara efektif membangun suasana dan memperkuat emosi adegan

Penulis: Muliani Indra Wati