Artikel

Malam Jahanam: Potret Kehancuran Keluarga Akibat Pengabaian Tanggung Jawab

248
×

Malam Jahanam: Potret Kehancuran Keluarga Akibat Pengabaian Tanggung Jawab

Sebarkan artikel ini
Malam Jahanam: Potret Kehancuran Keluarga Akibat Pengabaian Tanggung Jawab

TEGAS.CO., NUSANTARA – Drama Malam Jahanam di tampilkan oleh kolaborasi angkatan 023 dan 022 mahasiswa Sastra Indonesia universitas Halu Oleo, pada mata kuliah Karya Kreatif dalam rangka acara festival ujian akhir semester episode ke IV pada 21 Juni 2025 di Gedung Teater FIB UHO. Drama ini di sutradarai oleh Ramadoni.

Dari sebuah rumah tua yang terkurung sunyi, drama Malam Jahanam membuka tirainya dengan atmosfer mencekam. Dalam malam yang pekat, sepotong demi sepotong rahasia berdarah mulai muncul ke permukaan.

Drama ini layak dibahas karena tidak hanya menyuguhkan ketegangan batin antar karakter, tetapi juga menggambarkan bagaimana tokoh mengetahui isu sebenarnya tentang anak dan istrinya.

Matinggi Busye berhasil mengemas cerita ini dengan kuat, membuat penonton ikut terseret dalam gejolak emosi para tokohnya.

Malam Jahanam berkisah tentang Paijah, seorang ibu yang hidup bersama anaknya dan Mat Kontan suaminya. Suasana malam itu terguncang tatkala Utai, karakter sebagai ODGJ yang memecahkan suasana kesunyian, tiba tiba datang.

Dialog penuh ketegangan segera menguak bahwa anak yang di akui sebagai anak Mat Kontan sebenarnya adalah hasil perselingkuhan Painah dan Suleman, sahabat suaminya sekaligus tetangganya.

Konflik keluarga yang penuh rahasia perlahan memuncak menjadi tragedi yang tak terelakkan. Hingga pada akhir adegan Mat Kontan memilih untuk meninggalkan anak istrinya.

Tema utama yang diangkat adalah sorang Suami yang hanya mementingkan hobinya yaitu memelihara burung dan bermain judi sampai melupakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, menganggap keluarganya hal yang sepele.

Salah satu pesan moral dari drama ini adalah pentingnya tanggung jawab kepada keluarga. Seorang kepala keluarga seharusnya mendahulukan kebahagiaan dan kesejahteraan istri dan anak-anaknya, bukan mementingkan kesenangan pribadi seperti hobi dan bermain judi.

Sikap egois dan sombong seperti karakter yang di petani oleh Mat Kontan hanya akan membawa masalah dan penderitaan terhadap orang-orang terdekat kita.

Mengabaikan keluarga bisa sangat berdampak buruk terhadap keluarga sendiri. Nilai sejati sesorang bisa di lihat dari bagaimana ia menjalankan tanggungjawabnya dan peduli terhadap keluarga, bukan di lihat dari harta benda.

Tokoh Paijah, tampil ekspresif sebagai sosok ibu tegar namun menyimpan luka dalam akibat kelakuan Mat Kontan suaminya yang selalu mengabaikan anak dan dia sendiri.

Aktris berhasil menyalurkan emosi konflik antara kasih dan rasa bersalah karna kelakuannya dulu yang telah menghianati suaminya. Mat Kontan, seseorang yang sombong dan egois terlihat garang dan penuh kecurigaan.

Suleman, sebagai figur penengah hadir tenang, namun kesederhanaannya menyimpan kunci dari masa lalu.Utai, menjadi pemicu ledakan emosional karakternya memicu konflik tapi terasa kurang berdasar, sehingga kekuatannya teredam.

Akting, seluruh pemeran terasa meyakinkan dan emosional, mampu memanipulasi mood penonton dari diam penuh misteri hingga sisi gelap dari para pemain.

Sutradara Ramadoni menggunakan gaya yang sangat nyata, dramanya di mainkan secara pelan-pelan agar penonton ikut tegang sedikit demi sedikit.

Penataan posisi pemain di panggung itu dibikin seolah-olah mereka berhadapan langsung dan saling menekan, jadi suasana di panggung terasa sempit dan bikin sesak. Ada beberapa adegan yang sengaja dibiarkan panjang, tujuannya agar para pemain punya waktu lebih untuk menunjukkan perasaannya dan bikin penonton ikut merasakan emosinya.

Tata panggung didominasi warna gelap dengan pencahayaan remang-remang, menyoroti area tertentu untuk menciptakan efek dramatis.

Properti seperti kursi kayu tua, perumahan, sangkar-sangkar burung dan lampu gantung sederhana memperkuat suasana rumah tua yang menyimpan rahasia. Efek suara hembusan angin malam menambah kesan mencekam dan memicu rasa was‑was pada penonton.

Drama “Malam Jahanam” Ini secara efektif menggambarkan konflik internal dalam sebuah keluarga, khususnya Mat Kontan dan Paijah. Permasalahan pokok timbul akibat prioritas yang keliru yang di emban oleh Mat Kontan, yaitu kecenderungan hobinya yaitu memelihara burung dan bermain judi.

Sehingga menyebabkan lupa akan tanggungjawabnya sebagai seorang suami. Drama ini memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan moral yang mendalam mengnai esensi tanggung jawab serta konsekuensi negatif dari sikap egois.

Drama “Malam Jahanam” Sangat kuat dalam menggambarkan konflik yang terjadi pada rumah tangga Mat Kontan dan Paijah yang di sebabkan oleh Mat Kontan yang kurang perhatian terhadap anak istrinya.

Dialognya yang lugas dan kadang berkata kasar menambah kesan emosional yang sangat tinggi membuat para penonton menjadi terbawa suasana.

Dialog yang terkadang lugas dan kasar terasa sedikit kurang nyaman bagi sebagian penonton, terutama jika tidak terbiasa pada bahasa tersebut. Apalagi penonton dalam gedung teater pada malam itu ada beberapa anak-anak di bawah umur yang menonton, sehingga kesannya kurang positif.

Penutup

Drama “Malam Jahannam” karya Motinggo Boesje menyuguhkan sebuah potret realistik nan tajam mengenai konflik rumah tangga yang destruktif, berakar pada pengabaian tanggung jawab dan prioritas yang keliru.

Tokoh Mat Kontan, sebagai kepala keluarga, terjebak dalam obsesi terhadap hobi (burung) dan perjudian, yang secara fatal menggerogoti perhatian dan kasih sayangnya terhadap istri (Paijah) dan putra mereka yang sakit.

Melalui dialog-dialog yang lugas dan terkadang keras, drama ini secara efektif membangun ketegangan yang intens dan menggambarkan dinamika hubungan yang disfungsional. Karakterisasi yang kuat, terutama pada Mat Kontan yang egois dan Paijah yang menderita, membuat penonton/pembaca merasakan dampak emosional dari konflik tersebut.

Pada akhirnya, “Malam Jahannam” bukan sekadar kisah keluarga yang retak, melainkan sebuah cerminan sosial yang mendalam tentang pentingnya tanggung jawab, bahaya keegoisan, dan konsekuensi pahit dari pengabaian orang-orang terdekat.

Drama ini berhasil menyampaikan pesan moral yang kuat bahwa kebahagiaan dan keutuhan keluarga harus senantiasa menjadi prioritas utama, melampaui segala bentuk kesenangan pribadi atau kebanggaan semu.

Ini adalah sebuah kritik sosial yang mengajak audiens untuk merenungkan kembali nilai-nilai fundamental dalam kehidupan berkeluarga.

Foto dokumentasi di ambil dari pementasan drama Malam Jahanam di Gedung Teater FIB UHO.

Penulis: Habibatul Ukhro