
TEGAS.CO., NUSANTARA – Menggunakan analisis sastra sebagai prisma. Kerumitan dan kebejatan realitas sosial sering tercermin dalam realitas karya sastra.
Karya sastra tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan manusia, seperti ketakutan, hasrat, kemunafikan, cinta, dan kebencian.
Selain sebagai karya fiksi, naskah drama “Malam Jahanam” karya Motinggo Boesje juga mengupas sisi gelap hakikat manusia, perzinahan, dan keretakan keluarga akibat perselingkuhan dan ketamakan, yang semuanya berlatar belakang kesedihan satu malam.
Drama yang ditulis pada tahun 1958 ini menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir yang keras dan penuh konflik.
Namun, di balik layar, terselip tragedi global berupa maskulinitas yang beracun, harga diri yang salah, dan kebohongan sebagai dasar kehidupan.
Selain menggambarkan masalah karakter, drama ini juga menganalisis cara kerja batin orang-orang yang terjebak dalam siklus pembalasan, penyangkalan, dan keserakahan.
Pementasan drama ini dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2025, bertempat di Gedung Teater FIB Universitas Halu Oleo. Para pemeran dalam naskah ini terdiri dari lima tokoh: Paijah, Mat Kontan, Soleman, Utai, dan tukang paket.
Cerita dibangun dalam ketegangan yang memuncak hanya dalam satu malam yang menentukan nasib semua tokohnya.
Tokoh utama dalam drama “Malam Jahanam” adalah Mat Kontan, contoh klasik maskulinitas beracun yang berlandaskan ego dan rasa takut.
Ia adalah parodi seorang pria yang mendasarkan rasa harga dirinya hanya pada persetujuan orang lain, bukan pada prestasi atau moralitas. Kesombongannya bersumber dari rasa tidak aman dan rendah diri, bukan dari rasa percaya diri yang tulus.
Selain sebagai hobi, obsesinya dengan burung merupakan cara untuk mengangkat dirinya sendiri. Burung-burung tersebut merupakan penghargaan untuk dipamerkan, bukti prestasinya yang menunjukkan keunggulannya atas orang lain.
Kesediaannya untuk menghabiskan uang untuk seekor burung saat anaknya sakit merupakan indikasi nyata bahwa kepribadiannya di depan publik jauh lebih penting daripada kesejahteraan keluarganya.
Putranya, “Kontan Kecil”, adalah puncak kebanggaan Mat Kontan. Bukan karena kasih sayang yang tulus, tetapi karena putranya adalah respons ideal terhadap komentar “orang mandul” yang pernah ia terima, ia membanggakannya di mana-mana. Bayi itu menjadi bukti kejantanannya.
Ironisnya, kebohongan paling mendasar dalam hidupnya adalah fondasi kebanggaan terbesarnya. Perlakuannya terhadap istrinya, Paijah, juga menunjukkan dinamika kekuasaan yang tidak seimbang.
Karena hal itu mengesahkan posisinya sebagai pemilik sesuatu yang berharga, ia memandang Paijah sebagai properti dan bahkan senang jika pria lain “tergoda” untuk mengunjungi istrinya.
Seluruh kerangka identitas Mat Kontan hancur saat rahasia terbesar bahwa Little Kontan adalah putra Soleman terungkap ke publik.
Ia bukan pria lagi. Responsnya yang tidak menentu, yang berkisar dari air mata hingga amarah, mengungkapkan betapa rapuhnya egonya sejauh ini.
Jika maskulinitas yang riuh diwakili oleh Mat Kontan, Soleman adalah kebalikannya introvert tetapi sama mengancamnya.
Meskipun ia tampak tenang dan merupakan orang kepercayaan Paijah, ia sebenarnya adalah seorang “bajingan” yang menggambarkan dirinya sendiri.
Untuk membela perselingkuhannya, Soleman menggunakan cerita menyeramkan tentang “darah bajingan” dan “pria sejati.” Namun, naskahnya dengan cekatan menunjukkan bahwa “kebajingan” Soleman tidak sepenuhnya akurat.
Meskipun ia cukup berani untuk menculik istri sahabatnya, ia pengecut dalam menghadapi akibatnya. Baik ia maupun Mat Kontan adalah pria yang terpaku pada konsepsi mereka sendiri tentang maskulinitas.
Korban paling nyata dari sistem yang menggunakan perempuan sebagai tolok ukur harga diri laki-laki adalah Paijah. Ia mungkin dipaksa untuk memeluk Soleman karena tekanan ini.
Ia sebenarnya semakin terpenjara oleh tindakannya, yang merupakan semacam perlawanan pasif. Ia kehilangan kesabarannya, tetapi ia memiliki seorang anak.
Kecewa dengan kekasihnya yang pengecut dan suaminya yang lalai, Paijah mendapati dirinya dalam situasi yang sulit. Puncak ketidakpuasannya terhadap kedua pria dalam hidupnya adalah ketika ia meludahi wajah Soleman.
Nasib Paijah akhirnya kembali ke pelukan Mat Kontan—bukan karena cinta, tetapi lebih karena kebutuhan untuk menjalani kebohongan yang kini diketahui semua orang.
Burung beo itu adalah pembawa kebenaran dan saksi selain menjadi hewan peliharaan. Ia menjadi saksi bisu yang tiba-tiba berbicara setelah membocorkan informasi pribadi antara Paijah dan Soleman sebagai makhluk tiruan.
Dalam upaya untuk membasmi kebenaran, Soleman membunuh burung beo itu, tetapi bau mayatnya menyebar dan mengungkap segalanya.
Kontan kecil, sang anak, menjadi sasaran perkelahian dan objek pertikaian. Sayangnya, yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, seolah menyesali takdir yang telah dibuat oleh pelanggaran orang tuanya.
Orang-orang itu diberi kepercayaan diri untuk menunjukkan sisi “jahat” mereka karena kegelapan malam menjadi latar belakang yang ideal untuk pengungkapan rahasia yang menyeramkan.
Penulis: Indah Cahyia