
TEGAS.CO., NUSANTARA – Di atas panggung Festival Ujian Akhir Episode 4, muncul seorang perempuan tua dengan pakaian mencolok dan suara yang tajam. Namanya Tumirah. Ia mucikari. Germo. Bukan tokoh yang biasanya dimuliakan dalam cerita.
Tapi anehnya, dalam pementasan Tumirah Sang Mucikari karya Seno Gumira Ajidarma yang dibawakan mahasiswa Sastra Indonesia FIB UHO dan disutradarai oleh Kak Marwan, tokoh ini justru terasa paling masuk akal. Paling rasional. Dan, meski pahit untuk diakui, paling manusiawi.
Bukan Tokoh yang Kita Harapkan, Tapi yang Kita Butuhkan
Tumirah bukan pahlawan. Ia keras kepala, tajam lidah, dan tidak peduli pada norma-norma yang biasa. Tapi justru karena itu, ia jadi cermin yang efektif. Lewat mulutnya, kita mendengar kenyataan yang jarang disampaikan tokoh lain.
Ia mucikari, ya. Tapi ia bukan pemeras. Ia tidak mengeksploitasi perempuan dengan dalih moral. Ia menyambung hidup dengan cara yang sistem sudah siapkan untuknya.
Di balik gaya bicaranya yang kasar, Tumirah justru tampil sebagai seseorang yang menjaga anak-anak buahnya. Yang tak rela tubuh mereka dijadikan alat untuk kepentingan politik. Yang tak sudi dirinya atau perempuannya dimanipulasi atas nama negara.
Dalam dunia yang penuh aturan dan moralitas buatan, Tumirah hadir sebagai suara dari ruang yang tidak pernah diundang bicara. Ia tidak butuh pembenaran, tidak juga minta dimaklumi.
Tapi melalui cara hidupnya yang keras, kita dipaksa melihat realitas sosial yang tidak semua orang siap hadapi. Kadang, tokoh seperti Tumirah justru jadi pembuka mata: bahwa tidak semua yang kotor itu busuk, dan tidak semua yang sopan itu suci.
Fenomena Mucikari dalam Realitas Sosial
Di luar panggung, nama “mucikari” langsung mengundang stigma. Dianggap menjijikkan. Sarang dosa. Penghancur moral bangsa.
Tapi realitanya tidak sesederhana itu. Banyak mucikari di dunia nyata muncul bukan karena niat jahat, tapi karena keadaan. Karena ekonomi.
Karena sistem sosial yang tidak pernah memberi ruang bagi mereka untuk hidup dengan “cara yang benar.” Dan sering kali, para mucikari itu justru lebih peduli terhadap nasib perempuan yang bekerja di bawah mereka dibanding lembaga resmi.
Mereka memberi tempat tinggal, perlindungan, bahkan pengobatan. Mereka tidak suci. Tapi mereka nyata.
Tumirah bukan satu-satunya. Di berbagai sudut kota, ada banyak perempuan yang—dengan cara yang tidak pernah diakui negara—menjadi pelindung bagi sesama perempuan yang kehilangan tempat.
Mucikari di kehidupan nyata bukanlah sosok tunggal. Ada yang menjalankan peran itu sebagai bisnis kejam, tapi ada juga yang terpaksa karena tidak punya jalur hidup lain.
Bahkan, beberapa menjadi perantara karena ingin “mengatur” kondisi kerja para perempuan agar lebih aman dari kekerasan jalanan atau tipu daya klien.
Hal ini jarang diangkat dalam media arus utama, karena kita terlalu sibuk menyederhanakan realitas: jahat atau baik, hitam atau putih. Padahal kehidupan—seperti naskah ini—selalu penuh abu-abu.
Ketika Mucikari Lebih Manusiawi dari Negara
Yang paling menyakitkan dari pementasan ini bukan umpatan Tumirah, bukan juga ketegangan antara pelacur dan aparat. Yang paling menghantam adalah kenyataan bahwa Tumirah, si germo tua, menolak menjadi alat kekuasaan.
Ia memilih dibunuh daripada membiarkan tubuh anak buahnya dijadikan umpan untuk kepentingan politik.
Sementara yang datang dengan dalih “negara”, “stabilitas”, atau “pengabdian”—justru melakukan kekerasan seksual sebagai strategi. Para ninja, aparat, dan tokoh-tokoh yang mengaku mewakili kepentingan besar, malah bersikap lebih kejam dari mucikari yang mereka hina.
Seno Gumira Ajidarma, lewat naskah ini, tidak sedang membela mucikari. Tapi ia membongkar kemunafikan sosial: bahwa kita lebih cepat mengutuk yang terlihat “jorok”, daripada mengadili yang memakai dasi tapi membiarkan kekerasan terjadi.
Tumirah tidak pernah menyebut dirinya sebagai pejuang. Tapi tindakan kecilnya—menolak ikut permainan politik, melindungi tubuh perempuan lain, dan menolak tunduk pada narasi kekuasaan—adalah bentuk perlawanan yang berani.
Justru di balik posisinya yang dianggap hina, ia menunjukkan keberanian yang jarang dimiliki mereka yang berdiri di podium kekuasaan. Karena ia tidak mewakili siapa-siapa, ia hanya bertanggung jawab pada rasa kemanusiaannya sendiri.
Sosok Tumirah di Panggung
Dalam dokumentasi pementasan, terlihat jelas bagaimana Tumirah dibawakan dengan ekspresi tajam, postur kuat, dan intonasi yang menusuk.
Ia bukan sosok lemah. Tapi bukan juga monster. Ia berdiri di antara luka dan logika. Dan di sekitarnya berdiri para pelacur lain—germo pinggiran yang, meski keras dan sinis, masih punya empati. Masih punya batas.
Sementara para ninja yang datang sebagai simbol aparat, tampil dingin, formal, dan tanpa belas kasihan. Dalam satu adegan, mereka bicara tentang strategi kekuasaan seolah sedang membahas angka.
Tidak ada wajah manusia di dalamnya. Foto-foto pementasan itu, meskipun diam, berbicara banyak. Bahwa tubuh-tubuh yang kotor tidak selalu jahat. Dan pakaian bersih tidak selalu menyelamatkan.
Akting yang dibawakan tidak hanya menghidupkan naskah, tapi juga memberi napas pada realitas yang selama ini dianggap tidak layak diangkat ke panggung.
Cara Tumirah berdiri, tatapan sinisnya ke para ninja, hingga napas beratnya saat menjawab pertanyaan—semuanya membentuk citra perempuan yang bukan hanya keras, tapi juga lelah menanggung penghakiman seumur
Penutup
Tumirah Sang Mucikari bukan sekadar drama tentang pelacur dan mucikari. Ia adalah potret sosial yang pahit.
Tentang bagaimana perempuan – perempuan yang terpinggirkan bisa menjadi lebih berprinsip daripada aparat berseragam.
Tentang bagaimana mucikari, yang sering dianggap keji, justru bisa berkata “tidak” pada kekerasan yang disusun negara.
Dan setelah lampu panggung padam, kita pun bertanya: berapa banyak Tumirah yang masih hidup hari ini? Tidak tercatat. Tidak dihormati. Tapi terus berdiri—menjaga sesamanya dalam dunia yang selalu lebih mudah mengutuk daripada memahami.
Penulis: Andi Suci Indah Sari
