
TEGAS.CO., NUSANTARA – Drama bukan sekedar panggung hiburan. Ia adalah cerminan sosial, ruang kritik, dan media untuk mengunggah kesadaran publik terhadap realitas yang kerap di abaikan.
Pada Festival Ujian Akhir Episode 4 yang diselenggarakan di Gedung Teater FIB UHO sebuah drama berjudul Tumirah Sang Mucikari berhasil mencetak penonton lewat penggambaran yang jujur, getir, dan emosional tentang dunia pelacuran.
Dipentaskan sebagai bagian dari ujian akhir mahasiswa program studi Sastra Indonesia, Tumirah Sang Mucikari menembus batas kenyamanan penonton dengan menghadirkan kisah kelam yang lekat dengan kehidupan masyarakat marjinal.
Tema yang diangkat bukan hanya sensitif, tapi juga sarat kritik sosial yang tajam.
Artistik Panggung yang Menyentuh
Salah satu kekuatan pementasan ini terletak pada tata artistik yang imajinatif dan komunikatif. Panggung disusun menyerupai lorong remang khas tempat pelacuran pinggiran kota, lengkap dengan tirai-tirai tipis, pencahayaan redup yang menyiratkan atmosfer suram, dan denting suara musik malam yang menyayat.
Penonton seperti diajak masuk ke dunia Tumirah, menyaksikan langsung realitas getir yang tersembunyi di balik senyuman palsu dan gemerlap lampu malam.
Kostum dan properti yang digunakan pun mendukung nuansa cerita: pakaian seksi namun lusuh, botol minuman, ranjang tipis, dan ruang kecil yang menjadi tempat transaksi.
Tata suara dan musik latar juga memperkuat emosi: kadang hening yang menyayat, kadang dentuman musik malam yang bising dan menyiksa batin.
Akting
Pemeran Tumirah tampil meyakinkan, dengan gestur dan intonasi suara yang pas menggambarkan sosok perempuan tua yang tegar namun penuh luka. Ia mampu mengekspresikan kekuatan dan kelemahan karakternya secara natural.
Sementara itu, tokoh Siti dan perempuan lain di bawah kendali Tumirah juga memainkan perannya dengan baik—menampilkan sisi rapuh, frustrasi, namun juga penuh harapan.
Pesan Sosial dan Kritik Kultural
Di balik dramatisasi dan estetika panggung, Tumirah Sang Mucikari menyimpan pesan sosial yang dalam. Pementasan ini menggugah kesadaran kita tentang realitas para perempuan yang terpinggirkan.
Mereka bukan pelaku dosa semata, tetapi korban dari sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang timpang.
Dunia pelacuran dalam drama ini bukan sekadar latar, tetapi simbol dari ketidakadilan struktural yang membelenggu perempuan miskin dan tak berdaya.
Pementasan ini juga menyentil kemunafikan moral masyarakat: mengutuk pekerja seks, tetapi abai terhadap sebab-musabab yang mendorong mereka masuk ke dunia itu.
Drama ini menjadi suara alternatif bagi kelompok yang sering dibungkam, dan memperlihatkan bahwa dalam dunia yang keras, kebaikan dan keburukan tak pernah hadir secara hitam-putih.
Penutup
Sebagai bagian dari Festival Ujian Akhir Episode 4, Tumirah Sang Mucikari menunjukkan bahwa teater mahasiswa bukan hanya sarana latihan, tetapi juga ruang perlawanan dan perenungan.
Pementasan ini berhasil menciptakan pengalaman artistik sekaligus etis, membangkitkan empati penonton, dan mempertanyakan kembali nilai-nilai yang sering kita anggap mapan.
Penulis: Intan Eka Putri