Artikel

Dilema Realita Pinggiran: Analisis Intrinsik dan Ekstrinsik “Malam Jahanam oleh Gedung Teater FIB

323
×

Dilema Realita Pinggiran: Analisis Intrinsik dan Ekstrinsik “Malam Jahanam oleh Gedung Teater FIB

Sebarkan artikel ini
Dilema Realita Pinggiran: Analisis Intrinsik dan Ekstrinsik “Malam Jahanam oleh Gedung Teater FIB

TEGAS.CO., NUSANTARA – Tema dalam malam jahanam karya Motinggo Boesje ini adalah perselingkuhan yang menguak sifat manusia dari beberapa sisi.

Oleh karena itu pada beberapa waktu, tokoh yang awalnya terlihat baik ternyata memliki sifat yang buruk juga. Alur malam jahanam adalah alur maju atau linear, yaitu peristiwa yang dialami oleh tokoh cerita tersusun menurut urutan waktu terjadinya secara kontinyu dan memuncak.

Selain itu variasi alurnya tidak terlalu rumit bahkan dapat dikatakan sederhana. Pada naskah drama ini di dalamnya cenderung menggunakan gaya bahasa yang berupa sindiran kasar seperti dalam dialog Mat Kontan kepada Soleman “Otakmu dimana sekarang. Dimana hah?” dan pada dialog antara Paijah, Soleman dan Mat Kontan “Hei lelaki pengecut! Bukankah kau bilang, berjanji akan melindungi saya ha? Kau diam saja kayak tunggul!” dan sebagainya.

Latar pada cerita drama ini yaitu ada pada perkampungan nelayan. Perkampungan nelayan itu, di rumah mat kontan dan soleman tampak sepi.

Suasana menegangkan terjadi beberapa kali dalam cerita ini, salah satunya Ketika mat kontan mendesak paijah untuk memberi tau siapa yang membunuh burungnya.

Mat kontan merupakan tokoh utama pada cerita drama kali ini. Memiliki karakter yang tegas dan keras serta acuh pada anak dan istrinya pada awal cerita, namun setelah segala peristiwa terjadi dia alami malam itu kemudian mat kontan sadar dan berubah kepribadiannya di akhir cerita.

Soleman adalah tokoh yang memiliki karakter Jantan, serta teguh akan pendiriannya. Hal itu bisa dilihat ketik ia mengakui semua perbuatannya kepada mat kontan.

Peran soleman itu sendiri adalah peran mars, yang memilki keinginan juga untuk mendapatkan apa yang dimiliki oleh mat kontan, yaitu paijah. Paijah merupakan istri dari mat kontan dan juga merupakan tokoh utama karena perbuatannya dengan soleman merupakan salah satu sebab terjadinya konflik.

Tokoh yang terlihat penurut pada mulanya, ternyata juga berselingkuh dengan soleman. Peran paijah sendiri merupakan peran sun yang mana menjadi keinginan dan diperebutkan oleh mat kontan dan soleman karena kecantikan dan keseksian tubuhnya.

Utai merupakan tokoh tambahan yang bersifat misterius dan terkesan memiliki gangguan jiwa karena sikapnya yang sering tertawa tanpa ada sebab yang jelas.

Utai juga terkesan sangat polos karena akan menjawab setiap pertanyaan mat kontan dan mengikuti semua perintahnya hanya karena diberi rokok oleh mat kontan. Sifat dari awal sampai akhir tak ada perubahan sama sekali, karena itu ia termasuk tokoh yang sederhana.

Tukang paket adalah tokoh tambahan dalam cerita ini. Watak dan karakteristik dari tukang paket ini kurang terlihat karena kemunculannya yang sangat singkat.

Dalam cerita malam jahanam ini sendiri motif yang timbul bermula ketika mat kontan yang dicap mandul serta keinginan paijah untuk memiliki anak, dan kemudian sikap mat kontan yang lebih suka berjudi dan lebih peduli pada burungnya sehingga jarang dirumah membuat peluang soleman terbuka lebar untuk lebih sering bersama paijah yang juga menjadi idamannya karena kecantikannya.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi komplikasi Ketika soleman mengakui kepada paijah bahwa ia lah yang membunuh burung tersebut karena burung itu sering mengucapkan “jangan cubit aku” berulang ulang kali dan soleman takut jika itu terdengar oleh mat kontan maka perselingkuhannya dengan paijah akan terbongkar.

Awal mula konflik itu terjadi Ketika mat kontan melihat burungnya hilang yang kemudian diberitahu oleh utai bahwa ia melihat burung beo milik mat kontan sudah mati dengan leher berlumuran darah dan dibawah oleh anjing yang kemudian membuat mat kontan penasaran siapa yang membunuh burung beo kesayangan miliknya itu.

Motinggo Boesje menampilkan permasalahan-permasalahan sederhana dalam rumah tangga yang terlihat secara kasat mata, namun meski demikian, ada banyak hal yang disinggung oleh penulis.

Dengan ciri khas gaya penulisannya yang membidik tentang masalah-masalah sosial yang disampaikan dengan gaya sindiran atau ironi, penulis menampilkan sebab akibat antara budaya yang terjadi di masyarakat dan kaitannya dengan permasalahan yang terjadi.

Selain itu, posisi atau kedudukan Perempuan juga disinggung pada karya yang terbit pada tahun 1995 ini. Meski telah lama adanya emansipasi Wanita,namun pada kenyataanya di beberapa daerah memang kedudukan Perempuan masih terasa di bawah laki-laki pada masa itu.

Wanita sangat tunduk akan suaminya dan hanya mengurus anak di rumah saja. Namun, tunduknya Perempuan akan suaminya cerita ini tak sepenuhnya tunduk, karena di beberapa waktu itu berani membantah dan memberi perlawanan kepada suaminya.

Itulah salah satu bentuk Gambaran yang dapat diambil juga dalam kasus ini, bahwa pada cerita itu Perempuan ada dalam masa peralihan.

Sebagaimana deskripsi narator bahwa karakter tokoh-tokoh dalam naskah ini adalah manusia yang keras,kasar dan terkesan kurang ajar.

Agar sesuai dengan karakter, maka riasan atau make up tokoh laki-laki dibuat tegas, ketus, dan agak sangar. Begitupun dengan tokoh perempuan, hanya saja ditambah riasan wajah yang memperlihatkan mereka cantik.

Pencahayaan difokuskan ke satu titik yaitu kea rah narrator yang duduk ditengah pentas atau panggung. Pada adegan ini diiringi oleh music untuk menggiring suasana cerita dimulai dengan dramatic dan menggambarkan latar cerita.

Keistimewaan naskah ini menampilkan dua sisi kehidupan manusia, yakni sisi buruk dan baik yang saling tumpeng tindih.

Kita bisa melihat sisi buruk manusia melalui mat kontan yang tidak menghargai orang lain,hubungan terlarang antara paijah dan soleman, penghianatan seorang teman, serta kematian mat kontan kecil, bayi lemah yang meninggal akibat keteledoran dan keegoisan orang tuanya.

Sisi baik manusia dapat kita lihat pada kelembutan hati paijah terhadap anaknya,soleman yang berani mengakui kesalahannya pada mat kontan, serta kesetiaan utai kepada mat kontan, namun harus menjadi korban dan meninggal ketika melawan soleman demi mat kontan.

Dalam hidup ini sesungguhnya kita harus memahami makna dasar kehidupan yaitu saling menghargai satu sama lain. Kita boleh menuntut hak jika apa yang menjadi kewajiban kita telah diselesaikan atau dikerjakan. Janganlah kita menuntut sesuatu jika apa yang menjadi kewajiban belum mampu terpenuhi.

Kita harus mencintai dan menyayangi apa yang kita miliki selagi masih ada serta mensyukuri setiap pemberiannya, karena kita tidak akan tau kapan tuhan akan mengambilnya Kembali, serta kita juga tidak akan tau seberapa beruntung kita sampai masih banyak orang lain yang menginginkan itu, bahkan teman kita sendiri.

Penulis: Isal Syabilla