
Menafsirkan Kemanusiaan Perempuan Terpinggirkan dalam Pementasan Tumirah Sang Mucikari
TEGAS.CO., NUSANTARA – Ketika satu demi satu perempuan muncul di atas panggung, dengan wajah keras dan dialog kasar, penonton mungkin akan langsung mengambil jarak. Mereka adalah pelacur.
Tokoh-tokoh yang biasanya ditempatkan di pinggir naskah, jika bukan sekadar pelengkap konflik. Tapi di tangan Seno Gumira Ajidarma, dan dalam pementasan mahasiswa Sastra Indonesia FIB UHO bertajuk Tumirah Sang Mucikari, suara-suara mereka justru diletakkan di tengah panggung.
Disutradarai oleh Kak Marwan Maani, drama ini tidak bicara soal seks, tapi tentang harga diri.
Rumah yang Diisi oleh Mereka yang Tak Pernah Dipanggil “Manusia”
Di atas kertas, para tokoh utama dalam naskah ini adalah para pelacur dan mucikari. Tidak ada tokoh pemuka agama. Tidak ada tokoh pejabat, yang ada hanya perempuan-perempuan yang menertawakan hidup—atau menyumpahinya—karena memang tidak diberi pilihan lain.
Rumah Tumirah bukan tempat maksiat. Ia menjadi semacam tempat perlindungan terakhir. Tempat bagi mereka yang ditolak oleh dunia, tapi tetap ingin merasa utuh sebagai manusia.
Tumirah, si mucikari tua yang menyatukan semuanya, tidak pernah memberi ceramah soal moral. Tapi lewat ucapannya yang pedas dan tajam, dia menunjukkan bahwa meski dianggap hina, dia tidak kehilangan rasa tanggung jawab.
Ia menjaga anak buahnya, bukan karena ia mulia, tapi karena ia tahu bahwa mereka tak punya tempat lain.
Di Dunia Nyata, Apakah Mereka Pernah Kita Dengar
Masyarakat sering menghakimi kehidupan para pelacur seolah semua pilihan di dunia ini tersedia untuk semua orang.
Padahal kenyataan sosial sangat jauh dari adil. Banyak perempuan yang akhirnya masuk ke industri seksual karena sistem tidak memberi mereka ruang untuk bertahan hidup dengan cara lain.
Tumirah Sang Mucikari memberi ruang bagi kita untuk mendengar suara-suara yang selama ini dibungkam. Mereka yang dianggap “sudah rusak”, padahal hanya sedang mencari cara agar tidak sepenuhnya hancur. Mereka yang tubuhnya dipakai, tapi pikirannya tak pernah dianggap.
Salah satu kekuatan naskah ini adalah keberaniannya untuk tidak memoles para pelacur menjadi tokoh yang “disucikan”.
Mereka tetap bicara dengan kasar, tetap sarkas, tetap marah. Tapi justru dari kemarahan itulah kita diajak menyimak luka yang dalam.
Luka yang tidak berasal dari profesi mereka, tapi dari bagaimana dunia memperlakukan mereka.
Solidaritas Kecil di Tengah Dunia yang Kejam
Di rumah Tumirah, para perempuan yang datang dari latar berbeda hidup dalam satu atap. Mereka saling serang, saling sindir, saling curiga. Tapi ketika bahaya datang dari luar—dari aparat, dari strategi politik, dari rencana pemerkosaan yang dibalut “kepentingan negara”—mereka bersatu.
Pementasan ini menampilkan bahwa meski hidup mereka keras, tapi empati di antara mereka tidak pernah sepenuhnya mati.
Mereka bukan sekadar “perempuan yang menjual diri”, tapi perempuan yang masih tahu arti harga diri. Ketika tubuh mereka hendak dijadikan alat kekuasaan, mereka melawan. Dengan kata-kata, dengan tawa, dengan keputusan.
Dan di tengah itu semua, Tumirah berdiri sebagai simbol kegetiran. Ia tidak pernah menangis. Tapi justru lewat ketegasannya, penonton bisa merasakan air mata yang tidak pernah ditunjukkan.
Panggung Bukan Lagi Tempat Aman, Tapi Cermin Sosial
Pementasan yang dibawakan di Festival Ujian Akhir Episode 4 ini tidak bermain-main dengan suasana. Panggung dibuat seperti rumah kusam yang panas dan sempit.
Dialog yang dilemparkan nyaris tanpa jeda. Tertawa dan marah bergantian dengan cepat, membuat penonton tidak sempat merasa nyaman.
Bahkan mereka yang duduk di kursi penonton pun akhirnya ikut merasa sesak. Ada adegan ketika pelacur-pelacur itu duduk sambil saling melontarkan cerita masa lalu mereka—keluarga yang menolak, kekasih yang menjual, anak yang hilang.
Di situ, panggung tak lagi terasa seperti “drama”. Ia berubah menjadi ruang pengakuan. Ruang kebenaran yang selama ini tidak pernah kita beri tempat.
Mereka Tidak Butuh Pemaafan, Hanya Pengakuan
Yang menarik dari naskah ini adalah bagaimana para pelacur tidak meminta maaf atas hidup mereka. Mereka tidak menjelaskan diri. Tidak memohon pengertian.
Tapi mereka menunjukkan bahwa mereka masih punya logika, masih punya pendapat, dan yang paling penting—masih punya kemanusiaan.
Seno Gumira Ajidarma tidak menulis ini untuk memuliakan profesi mereka. Tapi untuk menggugat cara kita menghakimi. Dan pementasan yang dibawakan malam itu membuktikan, bahwa ketika suara-suara dari rumah Tumirah benar-benar didengarkan, kita dipaksa berpikir ulang: siapa sebenarnya yang paling kejam?
Penutup
Kita terbiasa melihat pelacur sebagai objek: objek hukuman, objek moral, objek narasi laki-laki. Tapi dalam Tumirah Sang Mucikari, mereka berdiri sendiri. Bersuara. Dan menolak ditundukkan.
Pementasan ini tidak memberi kesimpulan mudah, tapi justru karena itu ia terasa jujur. Mereka pelacur. Tapi mereka masih manusia. Dan dalam dunia yang terus-menerus menjatuhkan mereka, kadang keberanian untuk tetap hidup saja sudah cukup disebut sebagai perlawanan.
Penulis: Chairunnisa Ramadhani
