
TEGAS.CO., NUSANTARA – Selain memberikan hiburan, pementasan drama Malam Jahanam karya Motinggo Boesje yang dipentaskan oleh mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Haluoleo pada 20-21 juni 2025.
Drama ini menawarkan analisis kritis terhadap kondisi sosial dan psikologis masyarakat. Drama yang berlatar di sebuah pelososk desa yang jauh dari perkotaan namun ramah ini menggambarkan kisah yang sulit di tebak tentang konflik identitas asli keluarga, harga diri, pengkhianatan, dan dinamika kekuasaan.
Tokoh-tokoh yang ada dalam naskah ini menjadi terlihat sangat realistis dan menyentuh karena penampilan emosional para mahasiswa Sastra Indonesia.
Tokoh yang pemarah dan angkuh, Mat Kontan, menggambarkan seorang pria yang menggunakan burung peliharaan, istri, dan anak sebagai simbol fiktif untuk memenuhi hasrat menaikan harga dirinya.
Alih-alih mengasuh anaknya yang sedang sakit, padahal ia lebih mementingkan merawat hewan peliharaannya yaitu burung.
Ini adalah kritik langsung terhadap budaya patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat, di mana pria kadang merasa bahwa ia memiki kekuasaan penuh atas keluarga mereka, tetapi tidak memperdulikan tanggung jawab emosional.
Realitas sosial wanita yang sering menjadi korban di rumah, bagaimanapun, tercermin dalam karakter Paijah sebagai perempuan tertindas yang mempunyai keberanian untuk mununjukan rasa sakit dan kemarahannya.
Salah satu mahasiswa yang dapat menggambarkan perasaan takut, berani, dan frustrasi memainkan peran Paijah dengan kekuatan besar dalam pertunjukan ini. Selain menjadi representasi rasa sakit, ia juga mewakili pemberontakan terhadap laki-laki yang kurang memiliki empati dan akuntabilitas.
Tokoh ketiga, Soleman, yang pada mulanya terlihat seperti teman dan pelindung, sebenarnya berubah menjadi pengkhianat yang diam.
Gerakan yang lambat tetapi mematikan dalam pertunjukan ini menunjukkan perubahan emosional Soleman dari empati menjadi sinis, yang menghasilkan ketegangan psikologis yang secara efektif menciptakan suasana masam pada lelaki yang tampak sopan tetapi menyembunyikan rahasia dan pembalasan dalam kebisuan mereka dikritik dalam Soleman.
Pada kenyataannya, karakter “gila” Utai mewakili kegilaan sejati. Meskipun cenderung menertawakan segalanya, ia sering kali mengungkap kebenaran dengan cara yang bikin saya kaget.
Karena menjadi semacam cermin bagi kegilaan sosial yang diselimuti kepura-puraan dan normalisasi kekerasan verbal dalam keluarga, karakter ini mampu menarik perhatian penonton selama pertunjukan.
Perselingkuhan, kemandulan, kekerasan dalam suatu rumah tangga, dan pertengkaran tentang rahasia identitas asli ayah seorang anak hanyalah beberapa topik tabu yang diangkat dengan berani oleh mahasiswa Sastra Indonesia.
Semua ini satukan dengan kekuatan cerita, pencahayaan yang suram, dan gerakan panggung yang menonjolkan fakta bahwa Malam Jahanam bukan sekadar malam biasa, melainkan malam di mana kemerosotan kemanusiaan akan terbongkar.
Jika di lihat-lihat, pertunjukan drama teater yang di pentaskan oleh Mahasiswa Sastra Indonesia ini adalah contoh nyata dari kritik moral, psikologis, dan sosial.
Malam Jahanam adalah contoh bagi kita semua, yang menunjukkan kepada kita bahwa mungkin ada luka tersembunyi, depresi, dan pembalasan di balik dinding rumah berkat lokasi dan bahasanya yang realistis.
Bukan hanya teriakan dan parang saja yang menakutkan, tetapi juga saat-saat ketika orang tenggelam dalam kesombongan mereka sendiri, seperti Mat Kontan, atau tetap bisu karena kepengecutan, seperti Soleman.
Penulis: Cahya Ramadani