Artikel

Tumirah (Sang Mucikari), Pelajaran untuk Tidak Menjadi Germo

278
×

Tumirah (Sang Mucikari), Pelajaran untuk Tidak Menjadi Germo

Sebarkan artikel ini
Pesan Moral pada Drama Tumirah (Sang Mucikari)

TEGAS.CO., NUSANTARA – Dalam gedung pertunjukan, saound system memecah kesunyian malam. Beberapa Panitia menyambut penonton di pintu masuk. Mereka mempersilakan penonton untuk duduk senyaman mungkin melihat pertunjukan.

Sedangkan di atas panggung, terlihat para lelaki hidung belang bercengkrama dengan pelacur-pelacur muda di sebuah warung remang-remang menikmati malam yang memabukkan.

Penonton memenuhi gedung, musik berhenti, dan Anna –salah satu pelacur binaan Tumirah– dengan gayanya yang norak mendekati pemain musik.

Itulah awal pertunjukan drama Tumirah (Sang Mucikari) yang dipentaskan oleh mahasiswa Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari angkatan 2022 dan 2023.

Pertunjukan drama ini bertajuk Reinkarnasi digelar dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah pengelaran dan karya kreatif semester 6. Naskah drama karya Seno Gumira Ajidarma ini disutradarai oleh Marwan.

Dipentaskan pada 20-21 Febriuari 2025 di gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo Kendari pukul 20.00 dan 21.00 wita.

Goyang Menyegarkan Tumirah

Lakon Tumirah (Sang Mucikari) bercerita tentang hidup seorang germo yang bernama Tumirah. Ia adalah germo berusia 40 tahun yang menjadi ”ibu” bagi beberapa pelacur muda di rumah bordil yang ia miliki.

Rumah bordil tersebut terletak di pinggir hutan tak jauh dari medan pertempuran antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak (dalam naskah disebut gerilyawan). Tak jarang pasukan pemerintah maupun pasukan pemberontak berkunjung dan melepaskan kepenatan di rumah bordil ini.

Suatu ketika, rumah bordil Tumirah didatangi rombongan penari. Pesta pun digelar, keceriaan terbangun dalam keremangan malam di tepi hutan. Para pelacur menari dan lebur dalam suasana pesta.

Namun suasana itu tidak berlangsung lama, tibatiba datang kelompok ninja (entah siapa mereka). Para ninja mengobrak-abrik rumah bordil, menganiaya, memperkosa, bahkan membunuh seorang pelacur di sana.

Setelah kejadian itu berlalu, banyak oknum yang berdiri di atas kata “keadilan” memanfaatkan situasi dengan mengorek informasi dari Tumirah.

Ketulusan semu dari para oknum (pengacara, wartawan, polisi, dan intel), karena hanya ingin menjual berita dan menebarluaskan penderitaan para pelacur sebagai konsumsi publik.

Berawal dari konflik itulah, drama Tumirah (Sang Mucikari) seakan “menggoyang” dan “mengobrak-abrik” tatanan pemikiran –tentang pelacur– yang pernah ada di otak saya.

Betapa pun pelacur menjual tubuhnya, mereka tidak menjual cinta. Dan tindakan perkosaan yang menimpa mereka merupakan suatu pukulan telak yang menghancurkan segala harapannya.

Ada sisi lain yang tersembunyi dalam diri seorang pelacur, yang tidak pernah terbaca oleh orang lain dalam situasi biasa. Sisi “kemanusiaan” yang memang menjadi kodrat setiap manusia.

Tumirah dan Karut-marut Kehidupan
Menurut saya, ada suatu yang menarik dari lakon ini untuk diangkat ke sebuah pertunjukan. Pertama, Tumirah sebagai tokoh sentral digambarkan sebagai seorang germo, yang secara realitas di masyarakat, germo/ pelacur merupakan sosok yang teralienasi dari masyarakat.

Padahal di sisi lain, pelacur juga manusia yang masih memiliki sifat, ambisi, cita-cita, bahkan kebaikan yang sama seperti manusia lain. Lakon Tumirah (Sang Mucikari) mencoba menggeser pandangan umum tentang pelacur.

Kedua, kemelut politik dan kekacauan di masyarakat hingga urusan cinta diangkat dalam cerita ini. Penganiayaan pelacur dan politik adu domba ninja seakan mewakili ketimpangan sosial bangsa.

Peperangan antara pemberontak dan pemerintah adalah simbol dari disintegrasi bangsa. Kacaunya hukum di negara ini juga disimbolkan dengan adanya pengadilan rakyat tanpa ada dasar hukum yang kuat, membunuh orang yang belum tentu bersalah seakan menjadi hal biasa.

Namun demikian, ketulusan cinta dan rasa kasih sayanglah yang mampu meredamnya. Bagaikan cinta seorang Tumirah pada Sukab kekasihnya, dan ketulusan Mahmud menerima Lastri apa adanya.

Ketiga, walaupun judul drama ini agak menggelitik telinga, namun esensi pesan yang terkandung di dalamnya memancing untuk berfikir lebih kritis terhadap hidup. Bukan sisi erotisisme yang dipertontonkan, namun pesan moral yang teramat dalam yang ingin disampaikan.

Karut-marut kehidupan dengan segala perniknya terkadang mampu menciptakan disharmoni hidup yang mau atau tidak harus disikapi. Sekali lagi, cinta dan kasih sayang adalah pilihan sikap untuk memperkuat keharmonisan hidup yang kita jalani. Tumirah Mengajari Kami agar Tidak “Melacur”

Sepanjang yang saya rasakan sebagai wakil pimpinan produksi, proses penggarapan naskah drama ini lumayan menguras energi. Karena berlatih dengan berbagai macam individu yang kebanyakan belum mengenal seni peran.

Namun beratnya proses tidak ada artinya ketika personel ikhlas menjalani. Yang akhirnya menuntut kami untuk menyelesaikan proses dengan sebaik mungkin tanpa menimbulkan masalah yang berarti. Ini bagian dari tantangan.

Patut diakui bahwa kerja teater merupakan suatu kegiatan seni yang rumit dan kompleks. Penggabungan berbagai disiplin ilmu menjadi satu kemampuan tersendiri yang harus dimiliki oleh pelaku teater. Karena bersifat kolektif, maka seni teater mengharuskan semua unsur berjalan selaras dan seirama.

Dalam penggarapan naskah ”Tumirah (Sang Mucikari)” kami diuji untuk memecahkan semua kerumitan yang ada dalam proses berteater. Bukan hanya secara teknik, tetapi juga daya cipta serta kepekaan sosial sebagai wujud refleksi suatu karya terhadap kondisi masyarakatnya.

Observasi, studi literatur, dan diskusi dengan sumber-sumber terpercaya merupakan jalan yang harus ditempuh untuk menghasilkan pertunjukan yang baik dan benar.

Kekomplekan itulah yang mungkin memunculkan satu pertanyaan dari Mas Nanda Sukmana; ”Sejauh mana asahan kepekaan dan kekritisan mahasiswa terhadap realitas sosial yang acak kadut seperti sekarang?”.

Nyatanya, proses drama Tumirah (Sang Mucikari) mengajari kami untuk lebih peka terhadap keadaan sosial. Mendidik kami untuk pantang menyerah, memahami kebersamaan, kerja keras, dan menyadari bahwa sekecil apa pun dalam berteater sangat bermakna. Dan yang terpenting adalah kami belajar untuk tidak “melacurkan diri”.

Artinya: kami berproses drama bukan semata-mata untuk mencari nilai atau sekadar memenuhi tugas sebagai prasyarat kelulusan akhir semester 5. Proses drama bagi kami adalah sarana penempaan diri agar menjadi pribadi yang dewasa dalam menyikapi hidup.

Harapan kami cukup sederhana, setelah pertunjukan usai digelar, ada residu makna yang bisa ditangkap dan diteladani oleh penonton dan segenap personel penggarap naskah.

Syukur alhamdulillah, kerumitan dan kendala teratasi juga. Pentas digelar dengan semangat menggebu untuk ”bermain yang tidak main-main” di atas panggung.

Terlepas dari bagus tidaknya pementasan, dengan niat tulus kami menyuguhkan pesan dalam wujud seni pertunjukan drama, ”dengan penuh cinta”. Terima kasih Pak Seno Gumira Ajidarma. Terima kasih Pak Imam Ghozali, Mas Nanda, dan semua.

Penulis: Galang Ramadhan. R