Artikel

Tumirah: Suara Kemanusiaan dari Lorong Kehinaan

167
×

Tumirah: Suara Kemanusiaan dari Lorong Kehinaan

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi pementasan Tumirah Sang Mucikari, Festival Ujian Akhir Episode 4 – Arsip Google Drive panitia

 

Menelusuri Potret Perempuan Terpinggirkan dalam Naskah Karya Seno Gumira Ajidarma

TEGAS.CO., NUSANTARA – Drama ini dipentaskan dalam Festival Ujian Akhir Episode 4, sebuah kolaborasi tahunan antara mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia FIB UHO, mata kuliah Karya Kreatif angkatan 023 dan Pegelaran Sastra angkatan 022.

Naskah Tumirah Sang Mucikari karya Seno Gumira Ajidarma dihidupkan kembali di bawah arahan sutradara Kak Marwan Ma’ani, dengan pendekatan yang tidak hanya teatrikal, tapi juga sosial dan reflektif.

Perempuan yang Tak Pernah Dianggap Manusia

Di dunia nyata, kita terbiasa menatap para pelacur dengan tatapan curiga, jijik, atau bahkan kasihan.

Tapi sangat jarang kita berhenti dan bertanya: bagaimana mereka sampai di sana? Apa yang mereka rasakan? Dan yang lebih penting—apakah mereka masih bisa disebut manusia, di mata masyarakat?

Naskah Tumirah Sang Mucikari justru membuka pintu ke lorong paling suram itu. Sebuah rumah yang diisi oleh para pelacur, mucikari, tawa yang getir, dan nasib yang saling bertabrakan. Tapi alih-alih mengutuk atau membenarkan, naskah ini—dan pementasan yang membawakannya—memilih untuk mendengarkan.

Rumah Tumirah: Tempat Mereka yang Dibuang Dunia

Tumirah bukan sekadar mucikari. Ia ibu rumah tangga bagi perempuan – perempuan yang tidak diinginkan oleh siapa pun.

Rumahnya bukan rumah bordil dalam bayangan media—melainkan tempat pelarian terakhir. Tempat untuk bertahan.

Dalam pementasan ini, kita melihat bagaimana perempuan – perempuan itu—yang disebut “pelacur”—masih bisa marah, tertawa, bersedih, bahkan mencintai.

Mereka bukan makhluk aneh. Mereka adalah manusia yang terlalu lama dipaksa menjalani hidup dari sisa-sisa martabat yang sudah direbut sejak awal

Ketika Hinaan Menjadi Lagu Sehari-hari

Tidak ada dialog indah dalam naskah ini, yang ada adalah umpatan, sindiran, dan tawa sarkastik. Tapi justru dari situ, muncul kejujuran yang sering hilang di panggung drama konvensional.

Para pelacur di rumah Tumirah bukan wanita suci. Tapi mereka punya logika. Mereka sadar betul bahwa tubuh mereka dijual, bukan karena pilihan, tapi karena keadaan. Dan di tengah kerasnya dunia, mereka tetap saling menjaga. Solidaritas kecil di tengah penghakiman besar.

Mereka hidup di lorong kehinaan. Tapi suara mereka di pentas ini tidak terdengar hina. Justru sangat manusiawi.

Tumirah: Antara Pelindung dan Penyangkal Dosa

Tokoh Tumirah sendiri sangat kuat. Ia keras, galak, dan tidak mau terlihat lemah. Tapi justru di balik semua itu, ia muncul sebagai tokoh yang paling rasional.

Ia tahu dunia ini kejam. Maka ia memilih menjadi keras, agar bisa bertahan. Ia tidak berlagak suci, tapi juga tidak menjual teman-temannya pada kekuasaan.

Ketika aparat—yang disimbolkan lewat para ninja—berencana menjadikan para pelacur sebagai alat untuk mengguncang stabilitas sosial, Tumirah menolak.

Ia memilih melawan. Dan dalam konteks masyarakat yang sering kali memanfaatkan tubuh perempuan tanpa persetujuan mereka, sikap Tumirah ini adalah bentuk keberanian.

Pementasan yang Menghidupkan Rasa Sesak

Panggung yang digunakan malam itu bukan megah. Tapi cukup untuk menyampaikan kesesakan. Suasana dibuat pengap dan sempit, dengan pencahayaan kuning yang menambah kesan panas.

Dialog dilempar dengan cepat, suara tumpang tindih, dan semua tokoh seolah bicara dengan napas pendek.
Semua itu membuat penonton merasa seperti sedang berada di dalam rumah Tumirah. Tidak nyaman.

Tapi juga tidak bisa lari. Karena konflik yang dibawakan bukan sekadar konflik naskah, tapi juga konflik sosial—yang nyata, dan bisa terjadi di sekitar kita.

Mereka Tidak Minta Dikasihani, Hanya Diakui

Yang membuat pementasan ini terasa menyentuh adalah karena tidak ada upaya untuk memutihkan luka. Tidak ada pelacur yang tiba-tiba bertaubat dan dipeluk.

Tidak ada aparat yang minta maaf. Yang ada hanyalah pengakuan bahwa mereka semua—sebrutal apapun hidupnya—masih manusia.

Para pelacur di rumah Tumirah tidak minta belas kasihan. Tapi mereka bicara. Mereka menolak dijadikan alat. Dan mereka tahu, bahwa meski tubuh mereka dinilai murah, hidup mereka tidak boleh ditukar seenaknya.

Penutup

Tumirah Sang Mucikari bukan sekadar pentas tentang dunia gelap. Ia adalah panggung kecil tempat suara-suara yang selama ini dibungkam akhirnya terdengar jelas.

Lewat pementasan yang jujur dan garang, kita diingatkan bahwa yang disebut hina kadang justru paling punya hati. Bahwa di lorong-lorong kehinaan itu, masih ada orang yang berani berkata: “Kami pelacur, tapi kami masih manusia.”

Penulis: Harni