Artikel

Utai: Si Pandir yang Menertawakan Kegetiran Hidup dalam Malam Jahanam

250
×

Utai: Si Pandir yang Menertawakan Kegetiran Hidup dalam Malam Jahanam

Sebarkan artikel ini
Dokumentasi pementasan Malam Jahanam, Festival Ujian Akhir Episode 4 – Arsip Google Drive panitia

 

Ketika Tawa Latah Menjadi Cermin Paling Jujur di Tengah Kekacauan

 

TEGAS.CO., NUSANTARA – Dalam dunia panggung yang penuh teriakan, tuduhan, dan luka keluarga yang menganga, muncul satu sosok yang rasanya tidak “masuk akal”. Ia tertawa di saat salah.

Ia bicara sambil latah. Ia muncul tiba-tiba, lalu hilang begitu saja. Namanya Utai. Tokoh kecil dalam drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye ini justru menjadi salah satu sosok paling membekas dalam pementasan yang ditampilkan oleh mahasiswa Sastra Indonesia FIB UHO dalam Festival Ujian Akhir Episode 4, di bawah arahan sutradara Muh. Ramdoni, atau yang akrab disapa Kak Doni.

Utai Tidak Penting, Tapi Tak Bisa Dilupakan

Utai bukan tokoh utama. Ia tidak terlibat langsung dalam konflik antara Mat Kontan, Paijah, dan Soleman. Tapi setiap kali muncul, ia mencuri perhatian.

Dengan gaya bicara yang latah dan perilaku yang tak bisa ditebak, Utai seperti “gangguan kecil” yang justru menyelamatkan penonton dari kebekuan.

Namun sesungguhnya, Utai bukan hanya pereda ketegangan. Ia seperti pengganggu realitas yang terlalu serius.

Tokoh yang melemparkan kebenaran, tapi dibungkus dalam kelucuan yang tidak disengaja. Dan itu justru membuat kebenaran terasa lebih pahit.

Tawa yang Bukan Lucu-lucuan

Penonton mungkin tertawa saat Utai muncul. Tapi kalau dipikir ulang, tawa Utai bukan lucu-lucuan. Ia adalah tawa getir. Tawa dari seseorang yang melihat dunia sudah begitu kacau, sampai-sampai satu-satunya reaksi yang tersisa hanyalah menertawakannya.

Dalam konteks Indonesia, kita sangat akrab dengan tokoh “pandir” atau “orang gila desa” yang tahu segalanya tapi tidak pernah dipercaya.

Dalam budaya tutur, tokoh seperti ini sering muncul sebagai pewarta jujur—yang justru tak ditanggapi karena ia tidak berpenampilan layak, tidak berbicara seperti orang pandai, dan tak punya posisi sosial. Dan itulah Utai.

Utai dan Kebenaran yang Diabaikan

Tokoh Utai bisa jadi adalah simbol dari orang-orang biasa yang sering dianggap remeh. Dalam masyarakat, kita sering menjumpai orang-orang seperti Utai—yang bicara jujur tapi tak pernah dipercaya.

Karena cara mereka menyampaikan tidak “rapi”, karena mereka tak punya status sosial, atau karena mereka memang sudah dicap tidak normal.

Dalam naskah Malam Jahanam, kebenaran justru muncul bukan dari tokoh-tokoh utama, melainkan dari Utai. Dalam satu adegan, ia menyebut soal burung yang dibuang ke sumur—dan itu ternyata benar. Tapi karena yang bicara adalah “orang pandir”, ia diabaikan.

Inilah ironi yang tajam sekaligus menyakitkan: kita sering lebih percaya pada orang yang tampak terhormat, meski isinya penuh kebohongan.

Ia Tertawa, Kita Justru Diam

Pementasan yang dibawakan malam itu tidak hanya menghadirkan Utai sebagai pelawak tak sengaja, tapi juga sebagai pengganggu moral penonton. Saat tokoh lain saling marah, saling menyimpan rahasia, Utai hanya lewat, tertawa, dan menyebutkan hal-hal yang orang lain tidak mau dengar.

Dan anehnya, meski tidak terlibat dalam alur utama, justru tawa Utai-lah yang menempel paling kuat. Karena tawa itu bukan tawa bahagia, tapi tawa orang yang sudah menyerah pada logika dunia.

Tawa yang muncul karena semua hal sudah kehilangan makna. Ia bukan sedang bermain-main. Ia sedang menunjukkan bahwa hidup ini memang sering kali tidak bisa dimengerti dengan akal sehat.

Utai dan Kita yang Merasa Waras

Utai juga bisa dilihat sebagai kritik terhadap kita—penonton—yang selalu merasa waras dan benar. Kita terbiasa menilai siapa yang masuk akal, siapa yang gila. Siapa yang layak bicara, dan siapa yang tidak.

Tapi pementasan ini mengacak semua itu. Karena justru dari tokoh yang paling kacau lahir ucapan paling jujur.

Ia seperti mewakili suara-suara rakyat kecil yang selama ini dibungkam: mereka yang tahu segalanya, tapi tak punya tempat untuk menyampaikan. Mereka yang melihat dengan mata kepala sendiri, tapi diabaikan karena dianggap tidak layak bicara.

Pementasan yang Tidak Biasa

Dalam pementasan mahasiswa malam itu, Utai dibawakan dengan sangat hidup dan cerdas. Gesturnya luwes, suaranya ditekankan pada bagian-bagian yang mengganggu, dan ekspresinya dibuat ambigu—antara gila dan sadar, antara konyol dan menyakitkan.

Sosok Utai juga dimanfaatkan dengan sangat efektif dalam irama pentas. Ia hadir saat tensi naik, tapi bukannya meredakan, justru memperparah dengan caranya sendiri.

Ini memperkuat nuansa drama yang memang sejak awal tidak ingin memberikan kenyamanan. Malam Jahanam bukan panggung untuk damai, dan Utai tidak datang untuk menyenangkan siapa pun.

Penutup

Malam Jahanam adalah panggung untuk konflik besar, luka lama, dan dendam yang belum selesai. Tapi justru lewat tokoh sekecil Utai, kita melihat bahwa tawa bisa lebih menusuk daripada amarah. Bahwa suara “orang pandir” kadang lebih jujur dari tokoh utama.

Ia memang bukan tokoh utama. Tapi setiap kata, tawa, dan geraknya meninggalkan jejak yang sulit diabaikan.

Ia muncul sebagai suara liar di tengah rumah yang terbakar oleh konflik. Dan meski ia hanya tertawa… mungkin, ia satu-satunya yang benar-benar tahu apa yang sedang terjadi.

Kita tertawa karena Utai. Tapi apakah tawa itu benar-benar lucu? Atau justru karena kita tidak tahu bagaimana harus merespons kenyataan yang terlalu menyakitkan?

Penulis: Nurhaliza