
TEGAS.CO., NUSANTARA – Dalam setiap pertunjukan teater, ada tokoh-tokoh besar yang menjadi penggerak utama cerita, dan ada pula tokoh kecil yang tampaknya hanya muncul sekilas. Tapi menariknya, sering kali tokoh yang kelihatan kecil itulah yang justru paling membekas di kepala.
Itulah yang saya rasakan saat menonton pementasan drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye di acara Festival Ujian Akhir Episode 4.
Drama ini bukan pementasan biasa. Ia merupakan hasil kolaborasi tahunan mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB UHO antara mata kuliah Karya Kreatif angkatan 023 dan Pegelaran Sastra angkatan 022.
Dipentaskan dengan sutradara Kak Ramdoni, drama ini tampil dengan nuansa kelam, keras, dan penuh ketegangan. Tokoh-tokoh utamanya—Mat Kontan (Kak Adi), Paijah (Kak Falmin), Soleman (Kak Ishak), serta Kurir (Kak Sekar)—membawakan peran mereka dengan penuh emosi dan ketegasan.
Namun di antara semua karakter besar itu, ada satu tokoh yang tampak ganjil, bahkan mungkin dianggap “pengganggu.” Dialah Utai, yang diperankan oleh Kak Ifan.
Ia muncul sebagai sosok setengah pandir yang banyak tertawa, sering latah, dan cenderung sulit diajak serius. Tapi justru dari karakter inilah saya merasa cerita Malam Jahanam menjadi lebih hidup, lebih manusiawi, dan justru lebih menyentuh.
Karakter yang Tidak Dicari, Tapi Tidak Bisa Diabaikan
Kemunculan Utai di atas panggung sering kali tidak terduga. Ia muncul saat suasana sedang panas, saat emosi tokoh lain sedang memuncak.
Kehadirannya kadang mengganggu alur, tapi secara tidak sadar, justru memberi ruang bagi penonton untuk bernapas sejenak.
Dalam situasi rumah tangga yang sedang retak, hubungan ayah-anak yang penuh dendam, dan kemiskinan yang menekan semua tokoh, suara tawa pendek Utai terdengar seperti sesuatu yang asing—tapi dibutuhkan.
Yang menarik dari cara Kak Ifan membawakan Utai adalah ekspresinya yang tidak berlebihan. Ia tidak memaksa penonton untuk tertawa, tapi tawa yang ia lepaskan terdengar sangat jujur.
Justru karena tampil natural, Utai terasa lebih nyata dibanding tokoh lain. Ia bukan sekadar pelawak panggung. Ia semacam saksi hidup dari kerusakan sosial yang terjadi dalam cerita.
Dalam satu adegan, Utai menyebut bahwa ia melihat burung beo di dekat sumur. Semua tokoh menanggapinya seolah ia bicara ngaco. Tapi pada akhirnya, ternyata perkataan Utai benar.
Disinilah letak pentingnya karakter seperti ini. Ia memang tidak punya cara bicara yang meyakinkan, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya peran penting secara struktural dalam keluarga atau masyarakat.
Tapi ia punya mata. Ia tahu apa yang terjadi. Dan ia mengatakannya dengan cara yang ia bisa: dengan gaya bicara yang acak, dengan tertawa, dan kadang dengan teriakan yang sulit dijelaskan.
Bagi saya, ini bukan sekadar hiburan. Utai merepresentasikan kelompok yang sering kali dianggap tidak penting di masyarakat.
Ia seperti simbol dari suara rakyat kecil yang sering kali tahu banyak, tapi tak pernah benar-benar didengar karena cara penyampaiannya dianggap “kurang layak”.
Dalam hidup sehari-hari, kita sering menjumpai orang seperti ini. Orang yang kita remehkan, tapi ternyata lebih jernih melihat situasi.
Pengalih Suasana atau Penentu Nada
Sering kali Utai dianggap sebagai “comic relief”, pemecah ketegangan di tengah cerita yang gelap. Tapi jika dilihat lebih dalam, perannya tidak hanya sebagai penghibur. Ia adalah penjaga ritme.
Tanpa Utai, drama Malam Jahanam bisa saja terasa terlalu berat, terlalu meledak-ledak. Kehadirannya mengatur napas penonton, sekaligus menjadi jembatan antara adegan-adegan besar.
Kehadirannya juga menghidupkan panggung yang cukup sederhana malam itu. Settingnya menggambarkan suasana rumah kampung yang sempit, dengan pencahayaan yang tidak mencolok.
Di tengah suasana itu, Utai hadir sebagai warna. Ia berlari, melompat, tertawa sendiri—menciptakan kontras yang memperkuat kesan kelam dari cerita.
Justru karena Utai tidak ikut tenggelam dalam konflik utama, penonton bisa melihat cerita dari sudut pandang lain: lebih jernih, lebih dingin, lebih sadar.
Setelah Pertunjukan Usai
Ketika pertunjukan selesai dan penonton mulai meninggalkan ruangan, diskusi biasanya berpusat pada konflik rumah tangga antara Mat Kontan dan Paijah, atau pengakuan mengejutkan dari Soleman.
Tapi saya justru masih teringat sosok Utai. Meskipun ia tidak mengubah jalannya cerita, kehadirannya tidak bisa dilupakan.
Ia adalah gambaran dari mereka yang tidak punya kuasa, tapi tetap hadir. Tidak punya peran besar, tapi justru melihat semuanya. Dalam kehidupan nyata, kadang kita sendiri juga merasa seperti Utai—tidak bisa berbuat banyak, tapi tetap punya mata untuk melihat dan hati untuk memahami.
Penutup
Utai mungkin tidak punya panggung utama dalam drama Malam Jahanam, tapi ia adalah ruh kecil yang membuat cerita itu terasa lebih hidup.
Ia menjadi pengingat bahwa suara-suara kecil, yang sering diabaikan, bisa jadi justru membawa kebenaran.
Dalam dunia yang serba cepat, sibuk, dan penuh tuntutan seperti sekarang, mungkin kita semua butuh sesekali tertawa seperti Utai—bukan karena semuanya lucu, tapi karena kita sadar… bahwa hidup ini, meski tidak sepenuhnya masuk akal, tetap harus dijalani.
Penulis: Astrid Anggraini Syarmi