
SULAWESI TENGGARA., TEGAS.CO – Desa Wisata Namu di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, terus mengukuhkan posisinya sebagai destinasi pariwisata bahari unggulan dengan fokus kuat pada lingkungan dan konservasi laut.
Ditetapkan sebagai desa wisata sejak tahun 2017, Namu berhasil menembus 500 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, sebuah pencapaian yang memvalidasi potensi besar dan komitmen masyarakatnya.
Kepala Desa Namu, Nikson, menegaskan bahwa pengembangan pariwisata di wilayahnya dikelola langsung oleh masyarakat desa, dengan edukasi dan pendampingan berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan.
“Kami terus mengadakan edukasi pada masyarakat bahwa wisata itu ketika kita jaga budaya dan tradisinya akan berlanjut sampai ke anak cucu kita,” ujar Nikson. Filosofi ini menjadi fondasi bagi model pariwisata yang bertanggung jawab di Desa Namu.
Pesona Bawah Laut dan Daya Tarik Darat
Desa Namu menawarkan hamparan pantai pasir putih yang memukau serta pesona terumbu karang dan keanekaragaman biota bawah laut yang ideal untuk kegiatan snorkeling dan diving.
Untuk mendukung aktivitas ini, desa telah menyediakan 15 set peralatan snorkeling dan berencana menyiapkan tiga paket diving.
Upaya konservasi juga terlihat nyata melalui program Bioreeftek yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UGM pada Januari 2024, yang berfokus pada rehabilitasi terumbu karang yang rusak akibat praktik penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan di masa lalu, dengan memanfaatkan tempurung kelapa sebagai media tanam inovatif.
Selain keindahan bahari, Desa Namu juga memiliki daya tarik darat yang tak kalah menarik, seperti area berkemah (camping ground) dan air terjun berundak yang disebut-sebut mirip dengan Air Terjun Moramo.
Fasilitas pendukung lainnya meliputi homestay yang dikelola warga lokal, seperti “Homestay Om Dong” dengan tarif Rp250.000 per kamar, area parkir, kamar mandi umum, dan pilihan kuliner.
Tantangan Infrastruktur dan Visi Poros Maritim Dunia
Meskipun telah ada pembangunan jalan baru sepanjang 13,2 KM yang mempersingkat waktu tempuh dari Kendari menjadi sekitar 2 jam, akses jalan menuju Desa Namu masih menjadi perhatian utama yang membutuhkan intervensi dari pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Ketua Forum Desa Wisata Sultra, Selasa 12 Agustus 2025, Ahmad Nizar, menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur ini untuk mendukung pertumbuhan pariwisata yang lebih luas.
Dengan populasi 446 jiwa yang terdiri dari 142 kepala keluarga, masyarakat Desa Namu secara tradisional mengandalkan pertanian (jambu mete, pala, kelapa, cengkeh) dan perikanan.

Pariwisata telah membuka peluang ekonomi baru, termasuk melalui penyediaan homestay dan penjualan kerajinan tangan lokal dari tanaman agel dan cangkang kerang. Saat ini, desa menerima sekitar 150 wisatawan per minggu dengan retribusi masuk Rp15.000.
Pengembangan wisata bahari di Desa Namu juga sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan melestarikan sumber daya kelautan.
Konsep desa wisata berbasis potensi bahari ini bahkan diposisikan sebagai “benteng perlindungan terhadap kerusakan lingkungan,” khususnya dari ancaman pertambangan.
Dengan komitmen kuat terhadap konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan strategis, Desa Namu berpotensi besar untuk terus berkembang menjadi destinasi pariwisata bahari berkelanjutan yang terkemuka di Indonesia.
PUBLISHER: MAS’UD







Komentar