
SULAWESI TENGGARA, TEGAS.CO – Festival Mowine Wance hadir sebagai sebuah ketangguhan dan kearifan lokal. Festival yang akan berlangsung pada 22-24 Agustus 2025 ini merupakan perayaan yang mengabadikan jejak perempuan Wakatobi sebagai soko guru peradaban bahari Nusantara.
Bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah pengingat akan pentingnya menjaga tradisi dan ekosistem di tengah dinamika modern.
Festival yang masuk dalam 100 Karisma Event Nusantara (KEN) 2025 ini adalah cerminan bagaimana perempuan Wakatobi, dengan lilitan sarung tenun dan tangan-tangan terampil, telah menjadi tiang penyangga perekonomian dan kebudayaan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Belli Tombili, menyebut bahwa keberhasilan Festival Mowine masuk dalam KEN 2025 adalah hasil kerja kolektif komunitas dan pemerintah daerah.
“Kami sudah mendampingi komunitas Wowine hampir tiga tahun terakhir. Dan tahun ini alhamdulillah Festival Wowine masuk ke dalam Karisma Event Nusantara, bersama Wakatobi Wave,” ungkap Belli, Sabtu 16 Agustus 2025.
Beberapa agenda penting akan digelar
1. Hakente, sebuah ritual sakral yang hanya dipimpin oleh perempuan, akan dihidupkan kembali. Di dalamnya tersimpan falsafah bahwa laut harus ditaklukkan dengan kearifan, bukan semata-mata dengan kekuatan.
2. Pameran foto “Mowine dalam Lensa” akan memamerkan dokumentasi langka tentang perempuan nelayan yang telah menyelam tanpa tabung oksigen sejak abad ke-17.
3. Dialog Perempuan Bahari, sebuah forum yang akan mempertemukan nenek moyang dengan generasi milenial, akan menjadi ruang berbagi cerita tentang seni membaca musim dan melestarikan terumbu karang.
Tahun ini, Mowine Wance juga menjadi bagian dari “Sail Indonesia 2025,” yang akan menyambut kapal-kapal pesiar asing. Ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Wakatobi ke dunia, bukan dari perspektif eksploitasi, melainkan dari sudut pandang konservasi.
Pengunjung akan disuguhi Tari Lariangi yang dibawakan oleh 100 penari perempuan, serta Pasar Bahari yang menampilkan kerajinan tangan dari diaspora Wakatobi-Buton.
Dampak positif dari festival ini sudah terasa, tercermin dari kesiapan 200 homestay keluarga yang bersertifikat “Mowine Friendly” dan peluncuran paket wisata “Ngumbahi Kapongi” (Ikut Melaut dengan Nenek).
Koperasi Perempuan Pesisir dan Bank Sampah Wanita juga menunjukkan bahwa ekonomi kreatif berbasis komunitas dapat menjadi alternatif yang kuat untuk menopang kesejahteraan tanpa merusak lingkungan.

Namun, di balik semua keindahan dan komitmen ini, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Ancaman komersialisasi berlebihan dapat mengikis makna sakral dari ritual dan tradisi yang dilestarikan.
Selain itu, tekanan pada infrastruktur, seperti kapasitas listrik dan air bersih yang terbatas di pulau-pulau terpencil, menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Festival Mowine Wance 2025, dengan segala kelembutannya, adalah sebuah pengingat bahwa masa depan pariwisata Indonesia, terutama di Sulawesi Tenggara, harus dibangun di atas fondasi yang kokoh, yaitu kebudayaan dan konservasi.
Sumber foto: https://www.facebook.com/share/17PnW1aYDc/
PUBLISHER: MAS’UD







Komentar